Apa Saja Tanda Tanda Seseorang Mengalami Workaholic?
Gusti Ayu Tita P
24 September 2026
Bekerja dengan sungguh-sungguh merupakan hal yang positif, terutama ketika seseorang memiliki tanggung jawab yang harus diselesaikan. Namun, kebiasaan bekerja dapat menjadi tidak sehat ketika seseorang merasa harus terus bekerja meskipun tubuh dan pikirannya membutuhkan istirahat. Kondisi tersebut sering dikaitkan dengan workaholic, yaitu pola perilaku ketika seseorang memiliki dorongan kuat untuk terus bekerja secara berlebihan dan sulit melepaskan diri dari pekerjaan. Workaholic tidak hanya terlihat dari banyaknya waktu yang digunakan untuk bekerja, tetapi juga dari hubungan seseorang terhadap pekerjaannya. Mengenali tanda tanda workaholic sejak awal penting agar kebiasaan tersebut tidak berkembang dan mengganggu kehidupan sehari hari.
SELALU MEMIKIRKAN PEKERJAAN
Salah satu tanda yang cukup mudah dikenali adalah seseorang sering memikirkan pekerjaan di luar jam kerja. Ketika sedang berada di rumah, berkumpul dengan keluarga, atau melakukan kegiatan pribadi, pikirannya tetap tertuju pada tugas dan pekerjaan. Bahkan ketika tidak ada pekerjaan yang mendesak, muncul keinginan untuk memeriksa pesan, email, atau menyelesaikan tugas tambahan. Kondisi ini membuat seseorang sulit benar-benar menikmati waktu di luar pekerjaan. Lama kelamaan, batas antara waktu kerja dan waktu pribadi menjadi semakin tidak jelas.
Kebiasaan tersebut berbeda dengan sekadar memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaan. Pekerja yang bertanggung jawab tetap dapat menyelesaikan tugas dan kemudian mengalihkan perhatian kepada kegiatan lain. Sementara itu, workaholic cenderung merasa sulit berhenti bekerja meskipun pekerjaan tidak selalu mengharuskannya untuk terus aktif. Pikiran mengenai pekerjaan yang terus muncul dapat membuat waktu istirahat terasa kurang nyaman. Jika berlangsung terus menerus, kebiasaan ini dapat memengaruhi kualitas kehidupan sehari hari.
SULIT BERHENTI BEKERJA
Tanda lainnya adalah kesulitan menghentikan aktivitas kerja meskipun waktu kerja sebenarnya sudah selesai. Seseorang mungkin mengatakan hanya akan menyelesaikan satu tugas tambahan, tetapi akhirnya terus bekerja selama berjam-jam. Keinginan untuk menyelesaikan lebih banyak pekerjaan membuat waktu istirahat sering ditunda. Bahkan ketika tubuh sudah merasa lelah, pekerjaan masih dianggap harus didahulukan. Pola seperti ini dapat membuat seseorang terbiasa mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri.
Kesulitan berhenti bekerja juga dapat terlihat ketika seseorang merasa tidak nyaman saat tidak melakukan aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan. Waktu kosong dianggap sebagai kesempatan yang harus diisi dengan tugas baru. Istirahat bahkan dapat dianggap sebagai sesuatu yang tidak produktif, padahal tubuh membutuhkan jeda untuk memulihkan energi. Jika seseorang terus memaksakan diri, kualitas pekerjaan juga belum tentu meningkat. Justru kelelahan dapat membuat konsentrasi dan ketelitian menurun.
MERASA BERSALAH KETIKA TIDAK BEKERJA
Perasaan bersalah ketika beristirahat dapat menjadi tanda lain yang perlu diperhatikan. Seseorang mungkin merasa dirinya tidak cukup rajin hanya karena menghabiskan waktu untuk tidur, bersantai, berkumpul dengan keluarga, atau melakukan hobi. Padahal, aktivitas tersebut merupakan bagian normal dari kehidupan. Rasa bersalah saat tidak bekerja dapat membuat seseorang kembali membuka pekerjaan meskipun sebenarnya tidak ada kewajiban untuk melakukannya. Jika terjadi berulang kali, pola tersebut dapat membuat hubungan dengan pekerjaan menjadi kurang sehat.
Perasaan tersebut juga dapat muncul ketika melihat orang lain bekerja atau mencapai sesuatu. Seseorang mungkin merasa harus terus melakukan lebih banyak hal agar tidak tertinggal. Akibatnya, standar terhadap diri sendiri menjadi semakin tinggi dan sulit dicapai. Keinginan untuk selalu bekerja akhirnya bukan lagi hanya karena tuntutan pekerjaan, tetapi karena adanya tekanan dari dalam diri. Kondisi tersebut perlu diperhatikan agar aktivitas kerja tidak menguasai seluruh waktu pribadi.
MENGABAIKAN ISTIRAHAT DAN KEHIDUPAN PRIBADI
Workaholic juga dapat terlihat dari kebiasaan mengurangi waktu tidur, makan, istirahat, atau kegiatan pribadi demi pekerjaan. Seseorang mungkin sering melewatkan waktu makan karena ingin menyelesaikan tugas terlebih dahulu. Waktu bersama keluarga dan teman juga dapat semakin jarang karena pekerjaan selalu dianggap lebih penting. Jika pola tersebut berlangsung dalam waktu lama, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat terganggu. Padahal, kehidupan yang sehat tidak hanya membutuhkan pencapaian dalam pekerjaan, tetapi juga waktu untuk pemulihan dan hubungan sosial.
Kegiatan yang sebelumnya menyenangkan juga dapat mulai ditinggalkan. Hobi, olahraga, berkumpul dengan orang terdekat, dan aktivitas pribadi lainnya mungkin dianggap tidak terlalu penting dibandingkan pekerjaan. Keseimbangan hidup menjadi semakin sulit ketika seluruh jadwal dipenuhi aktivitas kerja. Akibatnya, seseorang dapat kehilangan kesempatan untuk beristirahat secara mental maupun fisik. Karena itu, perubahan kebiasaan sehari hari dapat menjadi petunjuk penting dalam mengenali pola kerja berlebihan.
TETAP BEKERJA MESKI SUDAH KELELAHAN
Tanda berikutnya adalah tetap memaksakan diri bekerja ketika sudah merasa sangat lelah. Seseorang mungkin mengetahui bahwa tubuh membutuhkan istirahat, tetapi tetap memilih melanjutkan pekerjaan karena merasa tugas harus segera diselesaikan. Kebiasaan ini dapat membuat kelelahan semakin menumpuk dari waktu ke waktu. Ketika kondisi tubuh dan pikiran tidak mendapatkan kesempatan untuk pulih, kemampuan berkonsentrasi juga dapat terganggu. Pada akhirnya, pekerjaan yang dilakukan dalam kondisi lelah belum tentu menghasilkan kualitas yang lebih baik.
Penting untuk memahami bahwa mengenali tanda workaholic bukan berarti setiap orang yang bekerja lama otomatis mengalami kondisi tersebut. Ada pekerjaan tertentu yang memang membutuhkan waktu tambahan dalam situasi tertentu. Yang perlu diperhatikan adalah pola yang terus berulang, sulit dikendalikan, dan mulai mengganggu kehidupan pribadi. Jika pekerjaan sudah membuat seseorang terus mengabaikan kebutuhan dasar, hubungan sosial, atau waktu istirahat, kebiasaan tersebut layak dievaluasi. Mengenali pola sejak awal dapat membantu seseorang membangun kebiasaan kerja yang lebih seimbang.
KESIMPULAN
Tanda tanda seseorang mengalami workaholic dapat terlihat dari kebiasaan terus memikirkan pekerjaan, sulit berhenti bekerja, merasa bersalah ketika beristirahat, mengabaikan kehidupan pribadi, hingga tetap bekerja meskipun sudah kelelahan. Namun, bekerja dalam waktu panjang saja tidak cukup untuk menentukan bahwa seseorang merupakan workaholic. Hal yang lebih penting adalah melihat apakah dorongan untuk bekerja sulit dikendalikan dan mulai mengganggu keseimbangan hidup. Dengan mengenali tanda tersebut lebih awal, seseorang dapat mulai mengevaluasi pola kerjanya dan memberikan waktu yang cukup untuk beristirahat. Produktivitas yang sehat seharusnya tetap memberikan ruang bagi kesehatan, kehidupan pribadi, dan pemulihan diri.
Tentang Penulis
Gusti Ayu Tita P
Penulis — Universitas STEKOM
Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.