Apakah Tenaga Kerja Indonesia Sudah Siap Menghadapi Perkembangan AI?
Gusti Ayu Tita P
18 September 2026
Perkembangan Artificial Intelligence atau AI mulai mengubah cara banyak pekerjaan dilakukan. Teknologi ini dapat membantu mengolah informasi, membuat konten, menganalisis data, hingga menyelesaikan berbagai tugas secara lebih cepat. Di Indonesia, perubahan tersebut membuat kebutuhan terhadap keterampilan digital dan kemampuan beradaptasi semakin penting. ILO memperkirakan sekitar 21,7 persen pekerjaan di Indonesia berada pada tingkat paparan GenAI di atas minimal, tetapi paparan tersebut tidak otomatis berarti pekerjaan akan digantikan sepenuhnya oleh AI.
Pertanyaan mengenai kesiapan tenaga kerja Indonesia menjadi penting karena kemampuan setiap pekerja dalam menghadapi perubahan teknologi berbeda-beda. Kesiapan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menggunakan AI, tetapi juga oleh kemampuan belajar, berpikir kritis, berkomunikasi, dan beradaptasi. Karena itu, menghadapi perkembangan AI membutuhkan proses peningkatan keterampilan yang dilakukan secara berkelanjutan.
PERKEMBANGAN AI MENGUBAH DUNIA KERJA
AI dapat mengubah cara suatu pekerjaan dilakukan dengan mengambil alih sebagian tugas yang bersifat rutin atau membantu pekerja menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat. ILO menjelaskan bahwa dampak AI terhadap pekerjaan lebih banyak menunjukkan potensi perubahan dan peningkatan kemampuan pekerja daripada otomatisasi seluruh pekerjaan secara luas. Hal ini berarti pekerja perlu memahami bagian pekerjaan yang dapat dibantu teknologi sekaligus mempertahankan kemampuan yang membutuhkan pertimbangan manusia.
Perubahan tersebut terjadi di berbagai sektor, bukan hanya bidang teknologi. Perusahaan dapat menggunakan AI untuk membantu pekerjaan administrasi, pemasaran, layanan pelanggan, analisis data, hingga berbagai aktivitas lainnya. World Economic Forum juga mencatat bahwa AI dan big data termasuk keterampilan yang diperkirakan mengalami pertumbuhan permintaan paling cepat hingga 2030.
KESIAPAN TENAGA KERJA MASIH PERLU DIKUATKAN
Kesiapan tenaga kerja Indonesia tidak dapat dinilai hanya dari jumlah orang yang sudah menggunakan teknologi AI. Pekerja juga perlu memiliki kemampuan untuk memahami fungsi teknologi, memeriksa hasilnya, dan mengetahui kapan hasil AI perlu dikoreksi. ILO menekankan bahwa persiapan menghadapi masa depan digital membutuhkan penguatan keterampilan digital dan AI dalam sistem pengembangan keterampilan.
Di Indonesia sendiri, digitalisasi dipandang sebagai salah satu pendorong utama perubahan pasar kerja. World Economic Forum melaporkan bahwa 83 persen perusahaan di Indonesia yang disurvei memperkirakan digitalisasi akan memengaruhi organisasi mereka hingga 2030. Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan tenaga kerja menjadi semakin relevan seiring perubahan teknologi.
SKILL DIGITAL MENJADI SEMAKIN PENTING
Tenaga kerja perlu memiliki literasi digital agar dapat menggunakan teknologi secara tepat dan aman. Kemampuan tersebut tidak berarti semua pekerja harus menjadi programmer atau ahli AI. Pekerja perlu memahami perangkat digital yang berhubungan dengan bidangnya, mengetahui cara menggunakannya, serta memahami keterbatasannya.
Selain keterampilan teknis, pekerja juga membutuhkan kemampuan berpikir kritis ketika menggunakan AI. Hasil yang diberikan AI tidak selalu harus diterima begitu saja karena kualitas jawaban dapat dipengaruhi oleh data, instruksi, dan konteks yang digunakan. ILO juga menyoroti bahwa AI dapat menghasilkan keputusan yang tidak adil apabila data yang digunakan memiliki bias atau tidak lengkap. Oleh karena itu, kemampuan memeriksa informasi tetap menjadi bagian penting dari pekerjaan.
KEMAMPUAN MANUSIA TETAP DIBUTUHKAN
Perkembangan AI tidak membuat seluruh kemampuan manusia menjadi tidak penting. Justru, kreativitas, komunikasi, kerja sama, ketahanan, fleksibilitas, dan kemampuan belajar tetap menjadi keterampilan yang dibutuhkan. World Economic Forum mencatat bahwa selain AI dan big data, creative thinking, resilience, flexibility, agility, curiosity, dan lifelong learning juga diperkirakan semakin penting hingga 2030.
Kemampuan tersebut sulit digantikan hanya dengan mengandalkan teknologi karena pekerjaan sering membutuhkan pemahaman terhadap manusia dan situasi tertentu. Misalnya, seorang pekerja perlu berkomunikasi dengan pelanggan, memahami kebutuhan tim, atau mengambil keputusan berdasarkan kondisi yang berubah. Karena itu, tenaga kerja masa depan membutuhkan kombinasi kemampuan teknologi dan keterampilan manusia.
UPSKILLING DAN RESKILLING PERLU DILAKUKAN
Menghadapi AI membutuhkan kebiasaan untuk terus meningkatkan kemampuan. Upskilling berarti meningkatkan kemampuan yang sudah dimiliki, sedangkan reskilling berarti mempelajari kemampuan baru untuk menyesuaikan diri dengan perubahan pekerjaan. Keduanya dapat dilakukan melalui pelatihan, kursus, pembelajaran mandiri, pengalaman kerja, maupun program pengembangan yang diberikan perusahaan.
Kebutuhan tersebut cukup besar karena perubahan keterampilan diperkirakan terus berlangsung. World Economic Forum memperkirakan 39 persen keterampilan inti pekerja akan berubah pada 2030, sementara 59 dari setiap 100 pekerja secara global akan membutuhkan pelatihan sebelum 2030. Artinya, pembelajaran tidak lagi cukup dilakukan hanya ketika seseorang sedang mencari pekerjaan, tetapi perlu menjadi bagian dari perkembangan karier.
PERAN PERUSAHAAN DAN PEKERJA
Kesiapan menghadapi AI bukan hanya tanggung jawab pekerja. Perusahaan juga memiliki peran dalam menyediakan pelatihan, memperbarui sistem kerja, dan membantu karyawan memahami teknologi baru. World Economic Forum mencatat bahwa hingga 2030, 77 persen perusahaan yang disurvei berencana melakukan upskilling dan reskilling sebagai strategi menghadapi perubahan tenaga kerja.
Di sisi lain, pekerja perlu memiliki inisiatif untuk terus belajar dan mengikuti perubahan dalam bidang pekerjaannya. Tidak semua teknologi harus dipelajari sekaligus karena kebutuhan setiap profesi berbeda. Yang terpenting adalah memahami teknologi yang relevan dan mampu menggunakannya secara bertanggung jawab, kritis, dan produktif.
KESIMPULAN
Pertanyaan apakah tenaga kerja Indonesia sudah siap menghadapi perkembangan AI tidak dapat dijawab hanya dengan siap atau tidak siap. Data menunjukkan bahwa AI sudah mulai memengaruhi dunia kerja, sementara kebutuhan terhadap keterampilan digital dan kemampuan beradaptasi semakin meningkat. Indonesia memiliki peluang untuk memanfaatkan AI, tetapi kesiapan tenaga kerja perlu terus diperkuat melalui upskilling, reskilling, literasi digital, dan pembelajaran berkelanjutan. Pada akhirnya, tenaga kerja yang mampu menggabungkan teknologi dengan kemampuan manusia akan lebih siap menghadapi perubahan pola kerja. Persiapan tersebut membutuhkan kerja sama antara pekerja, perusahaan, lembaga pendidikan, dan pemerintah agar transformasi AI dapat berlangsung secara produktif dan inklusif.
Tentang Penulis
Gusti Ayu Tita P
Penulis — Universitas STEKOM
Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.