Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Tips Karir
Tips Karir 32 dibaca

Bagaimana Cara Menjadi DevOps Engineer yang Dicari Perusahaan di Tahun 2026?

G

Gusti Ayu Tita P

1 Juli 2026

Bagikan:
Bagaimana Cara Menjadi DevOps Engineer yang Dicari Perusahaan di Tahun 2026?

Profesi DevOps Engineer terus menjadi salah satu karier teknologi yang paling dibutuhkan pada tahun 2026. Semakin banyak perusahaan yang mengadopsi layanan cloud, otomatisasi, dan pengembangan perangkat lunak yang cepat sehingga kebutuhan terhadap tenaga profesional di bidang ini meningkat secara signifikan. Tidak hanya perusahaan teknologi besar, berbagai startup hingga perusahaan tradisional kini juga mencari talenta DevOps yang mampu meningkatkan efisiensi operasional mereka.

Namun, menjadi DevOps Engineer yang dicari perusahaan tidak cukup hanya menguasai satu bahasa pemrograman atau memahami server saja. Perusahaan saat ini membutuhkan individu yang memiliki kombinasi kemampuan teknis, pemahaman bisnis, serta kemampuan kolaborasi yang baik. Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan industri pada tahun 2026.

MEMAHAMI DASAR SISTEM DAN JARINGAN KOMPUTER

Langkah pertama untuk menjadi seorang DevOps Engineer profesional adalah memahami dasar-dasar sistem operasi dan jaringan komputer. Sebagian besar infrastruktur modern masih menggunakan Linux sebagai sistem operasi utama sehingga kemampuan mengelola server Linux menjadi sangat penting. Selain itu, pemahaman mengenai alamat IP, DNS, HTTP, HTTPS, firewall, dan load balancing juga sangat dibutuhkan dalam pekerjaan sehari-hari.

Penguasaan dasar jaringan akan membantu Anda memahami bagaimana aplikasi berjalan dari sisi pengguna hingga server. Banyak masalah pada aplikasi sebenarnya berasal dari konfigurasi jaringan yang kurang tepat. Oleh karena itu, perusahaan cenderung mencari kandidat yang memiliki fondasi teknis yang kuat sebelum mempelajari teknologi yang lebih kompleks.

MENGUASAI BAHASA PEMROGRAMAN DAN SCRIPTING

Seorang DevOps Engineer tidak selalu harus menjadi programmer tingkat lanjut, tetapi kemampuan menulis kode tetap menjadi kebutuhan utama. Bahasa seperti Python, Bash, dan JavaScript sering digunakan untuk membuat otomatisasi, mengelola server, hingga membangun pipeline deployment. Kemampuan scripting akan membantu mengurangi pekerjaan manual dan meningkatkan efisiensi operasional tim.

Selain itu, perusahaan pada tahun 2026 semakin menghargai kandidat yang mampu membuat solusi otomatis dibandingkan melakukan konfigurasi secara manual. Semakin banyak proses yang dapat diotomatisasi, semakin besar pula nilai seorang DevOps Engineer di mata perusahaan. Karena itu, investasi waktu untuk belajar scripting akan memberikan manfaat jangka panjang.

MEMPELAJARI CLOUD COMPUTING DAN CONTAINER

Saat ini hampir seluruh perusahaan modern menggunakan layanan cloud computing untuk menjalankan aplikasi mereka. Platform seperti Amazon Web Services, Microsoft Azure, dan Google Cloud Platform menjadi teknologi yang sangat sering muncul dalam lowongan pekerjaan DevOps. Memahami konsep virtual machine, storage, networking, dan monitoring di cloud menjadi kemampuan yang sangat berharga.

Selain cloud, teknologi container seperti Docker dan Kubernetes juga menjadi standar industri pada tahun 2026. Docker memungkinkan aplikasi berjalan secara konsisten di berbagai lingkungan, sedangkan Kubernetes membantu mengelola aplikasi dalam skala besar. Kandidat yang menguasai kedua teknologi ini biasanya memiliki peluang lebih besar untuk diterima perusahaan.

MEMAHAMI AUTOMATION DAN CI CD

Salah satu tugas utama seorang DevOps Engineer adalah membangun proses Continuous Integration dan Continuous Deployment atau yang lebih dikenal sebagai CI/CD. Teknologi ini memungkinkan perubahan kode dapat diuji dan dirilis secara otomatis sehingga pengembangan aplikasi menjadi lebih cepat dan stabil.

Tools seperti Jenkins, GitHub Actions, GitLab CI, dan Azure DevOps banyak digunakan oleh perusahaan modern. Kemampuan membuat pipeline otomatis menjadi salah satu indikator utama yang dilihat perekrut ketika menilai kemampuan kandidat DevOps. Semakin baik pemahaman Anda terhadap otomatisasi, semakin tinggi pula daya saing Anda di pasar kerja.

MEMPELAJARI INFRASTRUCTURE AS CODE

Perusahaan pada tahun 2026 semakin meninggalkan konfigurasi server secara manual dan beralih menggunakan konsep Infrastructure as Code atau IaC. Dengan pendekatan ini, seluruh infrastruktur dapat dibuat menggunakan kode sehingga lebih cepat, konsisten, dan mudah dikelola.

Teknologi seperti Terraform dan Ansible menjadi alat yang paling banyak digunakan untuk kebutuhan tersebut. Penguasaan IaC menunjukkan bahwa seorang kandidat memahami praktik DevOps modern yang efisien dan dapat diandalkan. Kemampuan ini juga membantu perusahaan mengurangi risiko kesalahan konfigurasi yang sering terjadi pada proses manual.

MEMBANGUN PORTOFOLIO DAN PENGALAMAN PRAKTIS

Sertifikat memang dapat meningkatkan nilai seorang kandidat, tetapi perusahaan biasanya lebih tertarik pada pengalaman nyata dan portofolio proyek. Anda dapat membuat proyek sederhana seperti deployment aplikasi ke cloud, membangun pipeline CI/CD, atau membuat cluster Kubernetes kecil sebagai bahan portofolio.

Publikasikan proyek tersebut melalui repositori Git dan dokumentasikan proses pembuatannya dengan baik. Portofolio yang jelas akan memudahkan perekrut memahami kemampuan teknis yang Anda miliki. Bahkan banyak perusahaan lebih memilih kandidat dengan proyek nyata dibandingkan kandidat yang hanya memiliki sertifikat tanpa pengalaman praktik.

MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN KOLABORASI

Nama DevOps sendiri berasal dari gabungan kata Development dan Operations, sehingga kemampuan bekerja sama menjadi faktor yang sangat penting. DevOps Engineer harus mampu berkomunikasi dengan developer, tim keamanan, administrator sistem, hingga manajemen perusahaan.

Kemampuan menjelaskan masalah teknis dengan bahasa yang sederhana sering kali menjadi nilai tambah yang membedakan kandidat terbaik dari kandidat lainnya. Perusahaan modern tidak hanya mencari orang yang hebat secara teknis, tetapi juga individu yang mampu berkolaborasi dan membantu tim mencapai tujuan bersama.

KESIMPULAN

Menjadi DevOps Engineer yang dicari perusahaan pada tahun 2026 membutuhkan kombinasi antara kemampuan teknis, pengalaman praktik, dan kemampuan komunikasi. Penguasaan Linux, cloud computing, container, otomatisasi, serta Infrastructure as Code menjadi keterampilan utama yang paling banyak dicari industri saat ini.

Bagi mahasiswa maupun fresh graduate, perjalanan menuju karier DevOps dapat dimulai dari mempelajari dasar sistem dan jaringan sebelum beralih ke teknologi yang lebih kompleks. Dengan konsistensi belajar dan membangun portofolio yang kuat, peluang untuk mendapatkan posisi DevOps Engineer di perusahaan besar maupun startup akan semakin terbuka lebar.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.

Lanjutkan Membaca

Artikel Lainnya