Aku masih ingat bagaimana rasanya menatap langit malam sambil berharap kau juga sedang memikirkan aku. Tapi kau tak pernah. Tidak sekali pun.
Aku mengorbankan harga diri, waktu, bahkan mimpi-mimpi kecilku hanya untuk sesekali melihat senyummu. Menjadi yang pertama membalas pesanmu, terakhir yang mengucapkan selamat tidur, tapi selalu menjadi yang terakhir dalam pikiranmu.
Derita yang Tak Terlihat
Aku hafal setiap detil wajahmu, tapi kau bahkan tak ingat warna kesukaanku
Aku bisa menceritakan semua kebiasaanmu, tapi kau tak pernah bertanya bagaimana hariku
Tubuhku ada di sini, tapi jiwaku perlahan mati setiap kali kau memilih orang lain
Aku menjadi hantu dalam kisah cintamu sendiri - selalu hadir tapi tak pernah benar-benar terlihat.
Pengakuan Pahit
Mungkin yang paling menyakitkan adalah menyadari bahwa:
- Kau tak pernah benar-benar mencintaiku
- Aku tahu sejak awal tapi tetap bertahan
- Aku membenci diriku sendiri karena tetap mencintaimu
Kuburan Harapan
Kini aku duduk di antara puing-puing hati yang hancur. Memunguti serpihan-serpihan diri yang kulepaskan demi cintamu.
Aku menangis bukan karena kehilanganmu, tapi karena kehilangan diriku sendiri dalam proses mencintaimu.
Dan yang paling tragis, kau bahkan tak akan pernah tahu betapa sakitnya ini semua.
About the Author
Ambar Arum Putri Hapsari
Author — STEKOM University
An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.