Aku Menaruh Hati, Tapi Kamu Hanya Singgah
Kupikir kamu berbeda. Saat aku memilih untuk serius, aku menyerahkan versi paling jujur dari diriku — tak ada topeng, tak ada pura-pura. Segala bentuk cinta sudah aku perjuangkan. Tapi yang kuhadapi justru permainan: kamu bilang sayang, tapi juga menggenggam yang lain.
Sakit? Jelas. Karena saat aku sedang merancang masa depan bersama, kamu malah sibuk mencari pintu keluar di belakangku.
Luka Ini Tidak Akan Menentukan Siapa Aku
Mungkin kamu pikir aku akan hancur. Tapi ketahuilah, aku bukan lemah — aku hanya kecewa karena terlalu percaya. Luka ini nyata, tapi tidak akan selamanya membekas jadi alasan untuk takut mencintai.
Aku sadar, yang salah bukan aku yang memberi terlalu banyak. Tapi kamu yang tak mampu menjaga sesuatu yang tulus. Bukan aku yang kalah, tapi kamu yang kehilangan.
Kini Aku Belajar Melepaskan
Aku tidak akan pura-pura kuat. Tidak juga berpura-pura tidak peduli. Tapi satu hal yang kupastikan: aku tidak akan tinggal di masa lalu.
Melepaskan bukan berarti menyerah, tapi memberi ruang bagi diri sendiri untuk tumbuh tanpa bayanganmu. Suatu saat nanti, ketika kamu menyadari bahwa tak ada lagi seseorang sepertiku, mungkin sudah terlambat.
Dan ketika itu tiba, cukup ingat satu hal: kamu yang memilih pergi, aku hanya memilih berhenti mengejar.
About the Author
Ambar Arum Putri Hapsari
Author — STEKOM University
An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.