Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 122 dibaca

Apa Dampak Golden Child Saat Memasuki Usia Dewasa?

G

Gusti Ayu Tita P

23 September 2026

Bagikan:
Apa Dampak Golden Child Saat Memasuki Usia Dewasa?

Golden child adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan anak yang dianggap paling unggul, paling membanggakan, atau paling mampu memenuhi harapan orang tua dalam keluarga. Posisi tersebut tidak selalu menimbulkan masalah, terutama jika penghargaan diberikan secara sehat dan tidak disertai tuntutan berlebihan. Namun, ketika seorang anak terbiasa merasa harus selalu berhasil agar mendapatkan penerimaan, pola tersebut dapat terbawa hingga dewasa. Dampaknya dapat terlihat dalam pekerjaan, hubungan sosial, kehidupan keluarga, hingga cara seseorang memandang dirinya sendiri. Karena setiap orang memiliki pengalaman keluarga yang berbeda, dampak golden child juga tidak selalu sama pada setiap individu.

TERBIASA MENGEJAR KESEMPURNAAN

Salah satu dampak yang dapat muncul ketika golden child memasuki usia dewasa adalah kecenderungan mengejar kesempurnaan. Sejak kecil, seseorang mungkin terbiasa mendapatkan pujian ketika memperoleh nilai tinggi, memenangkan perlombaan, atau memenuhi harapan keluarga. Kebiasaan tersebut dapat membuatnya merasa harus selalu memberikan hasil terbaik dalam berbagai situasi. Akibatnya, kesalahan kecil dapat terasa lebih berat dibandingkan bagi orang yang terbiasa melihat kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.

Perfeksionisme juga dapat membuat seseorang menetapkan standar yang sangat tinggi untuk dirinya sendiri. Ia mungkin sulit merasa puas meskipun sudah mencapai sesuatu yang sebenarnya baik. Dalam kondisi tertentu, kebiasaan tersebut dapat menyebabkan stres, kelelahan emosional, atau kecenderungan menghindari tugas karena takut hasilnya tidak sempurna.

SULIT MENERIMA KEGAGALAN

Golden child yang terbiasa menjadi anak kebanggaan keluarga dapat mengalami kesulitan ketika menghadapi kegagalan saat dewasa. Kegagalan dalam pekerjaan, pendidikan, bisnis, atau hubungan dapat terasa seperti kehilangan identitas yang selama ini dibangun. Seseorang mungkin berpikir bahwa dirinya tidak lagi memenuhi standar yang diharapkan keluarga. Padahal, kegagalan merupakan pengalaman yang wajar dalam proses perkembangan seseorang.

Kesulitan menerima kegagalan juga dapat membuat seseorang terlalu takut mengambil risiko. Ia mungkin memilih pekerjaan, hubungan, atau keputusan hidup yang dianggap aman agar tidak mengecewakan orang lain. Jika terus berlangsung, kondisi tersebut dapat membatasi kesempatan untuk mencoba hal baru dan mengenali kemampuan dirinya secara lebih bebas.

TERLALU MEMIKIRKAN PENILAIAN ORANG LAIN

Kebiasaan memenuhi harapan orang tua dapat membuat seseorang menjadi sangat memperhatikan penilaian orang lain. Saat dewasa, ia mungkin merasa perlu mendapatkan pengakuan dari atasan, pasangan, teman, atau lingkungan sosial. Pujian dapat memberikan rasa aman, sedangkan kritik mungkin terasa sangat mengganggu. Hal ini dapat terjadi karena penerimaan dari orang lain menjadi bagian penting dalam membentuk rasa berharga terhadap diri sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, pola tersebut dapat membuat seseorang sulit mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan pribadinya. Ia mungkin lebih sering bertanya apakah pilihannya akan membuat orang lain kecewa daripada mempertimbangkan apa yang sebenarnya ia inginkan. Padahal, kemampuan menentukan batasan dan mengambil keputusan secara mandiri merupakan bagian penting dari perkembangan kedewasaan.

SULIT MENOLAK PERMINTAAN ORANG LAIN

Sebagian orang yang tumbuh dengan tuntutan tinggi dapat terbiasa menjadi anak yang selalu membantu, patuh, dan dapat diandalkan. Kebiasaan tersebut dapat terbawa hingga kehidupan dewasa sehingga mereka merasa tidak nyaman ketika harus mengatakan tidak. Mereka mungkin menerima terlalu banyak tanggung jawab meskipun sebenarnya sudah kelelahan. Keinginan untuk memenuhi harapan orang lain dapat membuat kebutuhan pribadi sering ditempatkan di urutan terakhir.

Kesulitan mengatakan tidak bukan berarti seseorang memiliki sifat buruk. Namun, jika berlangsung terus menerus, pola tersebut dapat membuat seseorang mengalami kelelahan dan kesulitan menjaga batasan pribadi. Belajar mengatakan tidak dengan cara yang sehat dapat membantu seseorang membangun hubungan yang lebih seimbang tanpa harus merasa bersalah setiap kali menolak permintaan.

MENGALAMI TEKANAN DALAM KARIER

Ketika memasuki dunia kerja, seseorang yang terbiasa menjadi golden child mungkin merasa harus selalu berprestasi. Ia dapat menetapkan target karier yang sangat tinggi dan merasa bersalah ketika produktivitas menurun. Prestasi kerja memang dapat menjadi hal positif, tetapi tekanan untuk terus membuktikan diri dapat membuat pekerjaan terasa seperti sumber validasi diri. Dalam jangka panjang, pola tersebut dapat meningkatkan risiko stres dan kelelahan jika tidak diimbangi dengan istirahat serta batasan yang sehat.

Seseorang juga mungkin merasa takut mengecewakan atasan atau keluarga ketika kariernya tidak berjalan sesuai harapan. Misalnya, ia merasa harus memiliki pekerjaan tertentu, penghasilan tertentu, atau pencapaian tertentu pada usia tertentu. Padahal, perkembangan karier setiap orang berlangsung dengan kecepatan dan kondisi yang berbeda.

MEMENGARUHI HUBUNGAN ROMANTIS

Pola golden child juga dapat memengaruhi cara seseorang menjalani hubungan romantis. Orang yang terbiasa memenuhi ekspektasi keluarga mungkin terlalu berusaha menjadi pasangan yang sempurna. Ia dapat merasa harus selalu memahami pasangan, menyelesaikan masalah, atau menghindari konflik agar hubungan tetap berjalan dengan baik. Jika berlebihan, kebutuhan dan perasaannya sendiri dapat terabaikan.

Selain itu, seseorang mungkin kesulitan mengungkapkan ketidaknyamanan karena takut mengecewakan pasangan. Hubungan yang sehat membutuhkan komunikasi dua arah, batasan yang jelas, dan kemampuan menyampaikan kebutuhan secara terbuka. Menjadi pasangan yang baik tidak berarti harus selalu mengalah atau memenuhi seluruh keinginan orang lain.

MERASA BERSALAH KETIKA MEMILIH KEHIDUPAN SENDIRI

Saat dewasa, seseorang biasanya mulai menentukan pilihan hidup yang lebih mandiri. Namun, golden child dapat merasa bersalah ketika pilihan tersebut berbeda dari keinginan keluarga. Misalnya, seseorang ingin memilih bidang pekerjaan, tempat tinggal, pasangan, atau gaya hidup tertentu, tetapi takut dianggap tidak menghargai harapan orang tua. Konflik antara keinginan pribadi dan ekspektasi keluarga dapat menimbulkan tekanan emosional.

Kemandirian bukan berarti memutus hubungan dengan keluarga atau mengabaikan nasihat orang tua. Kemandirian berarti mampu mempertimbangkan berbagai masukan lalu membuat keputusan yang sesuai dengan nilai dan tanggung jawab pribadi. Proses tersebut dapat membutuhkan waktu, terutama bagi seseorang yang sejak kecil terbiasa mendapatkan penghargaan karena mengikuti ekspektasi keluarga.

SULIT MENENTUKAN IDENTITAS DIRI

Golden child terkadang membangun identitas berdasarkan peran yang diberikan keluarga, seperti anak berprestasi, anak paling bertanggung jawab, atau anak yang selalu bisa diandalkan. Ketika memasuki usia dewasa, perubahan situasi dapat membuat peran tersebut tidak lagi sesuai dengan kondisi dirinya. Hal ini dapat memunculkan pertanyaan mengenai siapa dirinya di luar pencapaian dan harapan keluarga.

Mengenali identitas diri membutuhkan kesempatan untuk memahami minat, nilai, kebutuhan, kekuatan, dan keterbatasan pribadi. Seseorang perlu menyadari bahwa dirinya tetap memiliki nilai meskipun sedang tidak berprestasi. Proses tersebut dapat membantu membangun kepercayaan diri yang tidak hanya bergantung pada pengakuan dari orang lain.

TIDAK SEMUA GOLDEN CHILD AKAN MENGALAMI DAMPAK NEGATIF

Menjadi anak yang sering mendapatkan pujian atau perhatian tidak otomatis menyebabkan masalah ketika dewasa. Dampaknya sangat dipengaruhi oleh pola komunikasi keluarga, tingkat tekanan, hubungan dengan orang tua dan saudara, serta kemampuan seseorang dalam menghadapi perubahan. Pujian yang diberikan secara sehat justru dapat membantu anak mengembangkan motivasi dan rasa percaya diri. Masalah lebih mungkin muncul ketika penghargaan selalu dikaitkan dengan keberhasilan atau kepatuhan terhadap ekspektasi tertentu.

Orang dewasa yang menyadari adanya pola tersebut tetap dapat membangun hubungan yang lebih sehat dengan dirinya sendiri dan orang lain. Mengenali batasan pribadi, menerima kegagalan, dan memisahkan harga diri dari pencapaian merupakan beberapa langkah yang dapat membantu. Jika tekanan emosional sudah mengganggu pekerjaan, hubungan, atau aktivitas sehari-hari, berbicara dengan psikolog dapat menjadi pilihan yang tepat.

KESIMPULAN

Dampak golden child saat memasuki usia dewasa dapat terlihat dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari kecenderungan perfeksionisme, sulit menerima kegagalan, terlalu memikirkan penilaian orang lain, hingga kesulitan menentukan pilihan hidup sendiri. Pola tersebut tidak berarti setiap golden child pasti mengalami masalah psikologis. Dampaknya bergantung pada pengalaman keluarga dan bagaimana seseorang mengembangkan pemahaman terhadap dirinya ketika dewasa. Dengan membangun batasan yang sehat, menerima ketidaksempurnaan, dan memahami bahwa harga diri tidak hanya ditentukan oleh prestasi, seseorang dapat menjalani kehidupan yang lebih seimbang.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.