Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 72 dibaca

Mengapa Kebiasaan Workaholic Dapat Mengganggu Kesehatan?

G

Gusti Ayu Tita P

24 September 2026

Bagikan:
Mengapa Kebiasaan Workaholic Dapat Mengganggu Kesehatan?

Bekerja dengan tekun dapat membantu seseorang mencapai target dan menyelesaikan tanggung jawab dengan baik. Namun, ketika pekerjaan dilakukan secara berlebihan dan waktu istirahat terus diabaikan, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi workaholic. Workaholic bukan sekadar bekerja keras, tetapi berkaitan dengan dorongan untuk terus bekerja sehingga seseorang kesulitan memberikan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Jika berlangsung dalam waktu lama, pola kerja seperti ini dapat memengaruhi kondisi fisik, mental, dan kehidupan sehari hari. Oleh karena itu, memahami dampak workaholic terhadap kesehatan penting agar kebiasaan bekerja tetap berada dalam batas yang sehat.

BEBAN KERJA BERLEBIHAN DAPAT MEMICU KELELAHAN

Salah satu dampak yang paling mudah dirasakan dari kebiasaan workaholic adalah kelelahan yang terus menumpuk. Ketika seseorang terlalu sering bekerja tanpa memberikan waktu istirahat yang cukup, tubuh tidak memiliki kesempatan optimal untuk memulihkan energi. Kelelahan dapat membuat aktivitas sederhana terasa lebih berat dan membuat seseorang lebih sulit berkonsentrasi. Jika kondisi tersebut terus terjadi, kemampuan menjalankan pekerjaan secara efektif juga dapat menurun. Akibatnya, waktu kerja yang semakin panjang belum tentu menghasilkan pekerjaan yang semakin baik.

Kelelahan juga dapat membuat seseorang merasa kurang berenergi ketika menjalani aktivitas di luar pekerjaan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk keluarga, teman, hobi, atau kegiatan pribadi justru habis untuk memulihkan tenaga. Istirahat yang cukup merupakan bagian penting dalam menjaga kemampuan tubuh untuk menjalankan aktivitas sehari hari. Karena itu, memaksakan diri bekerja ketika sudah kelelahan bukanlah cara yang tepat untuk mempertahankan produktivitas. Tubuh membutuhkan jeda agar dapat kembali berfungsi secara optimal.

WORKAHOLIC DAPAT MENGGANGGU POLA TIDUR

Kebiasaan bekerja hingga larut malam dapat membuat waktu tidur menjadi tidak teratur. Seseorang mungkin menunda waktu tidur karena masih ingin menyelesaikan pekerjaan atau terus memikirkan tugas yang belum selesai. Ketika kebiasaan tersebut dilakukan berulang kali, waktu istirahat dapat menjadi semakin berkurang. Padahal, tidur merupakan bagian penting dari proses pemulihan tubuh dan pikiran. Kurangnya waktu tidur dapat membuat seseorang merasa lelah ketika harus kembali beraktivitas pada hari berikutnya.

Selain durasi tidur, pikiran yang terus tertuju pada pekerjaan juga dapat membuat waktu menjelang tidur menjadi kurang tenang. Pekerjaan yang belum selesai dapat terus dipikirkan sehingga seseorang sulit benar-benar melepaskan diri dari aktivitas kerja. Batas antara waktu kerja dan waktu istirahat menjadi semakin kabur. Jika tidak dikelola, pola seperti ini dapat menciptakan siklus kelelahan yang berulang. Oleh sebab itu, memberikan jarak yang jelas antara pekerjaan dan waktu tidur menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan.

TEKANAN KERJA DAPAT MEMENGARUHI KONDISI MENTAL

Workaholic tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kesejahteraan mental. Ketika seseorang merasa harus terus bekerja dan selalu mencapai target tinggi, tekanan dapat semakin besar. Tidak adanya waktu yang cukup untuk bersantai dapat membuat pikiran sulit mendapatkan kesempatan untuk pulih dari tuntutan pekerjaan. Seseorang juga dapat merasa gelisah ketika memiliki pekerjaan yang belum selesai. Kondisi tersebut dapat membuat aktivitas kerja terasa seperti kewajiban yang tidak pernah berakhir.

Kebiasaan bekerja berlebihan juga dapat mengurangi kesempatan seseorang melakukan kegiatan yang menyenangkan. Interaksi dengan keluarga, teman, dan lingkungan sosial dapat berkurang karena sebagian besar waktu digunakan untuk pekerjaan. Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi semakin sulit dipertahankan. Padahal, hubungan sosial dan kegiatan di luar pekerjaan dapat menjadi bagian penting dari kehidupan yang seimbang. Karena itu, kesehatan mental perlu diperhatikan bersama dengan pencapaian pekerjaan.

KELELAHAN DAPAT MENURUNKAN KUALITAS PEKERJAAN

Bekerja lebih lama tidak selalu menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi. Ketika tubuh dan pikiran mengalami kelelahan, kemampuan untuk berkonsentrasi dan mempertahankan ketelitian dapat menurun. Pekerjaan yang seharusnya dapat diselesaikan dengan cepat mungkin membutuhkan waktu lebih panjang karena seseorang harus melakukan pengecekan atau perbaikan berulang kali. Kesalahan juga dapat lebih mudah terjadi ketika perhatian sudah terbagi atau energi semakin rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa memaksakan waktu kerja bukan selalu solusi untuk meningkatkan hasil.

Produktivitas yang baik membutuhkan keseimbangan antara waktu bekerja dan waktu memulihkan diri. Jeda yang cukup dapat membantu seseorang kembali fokus ketika melanjutkan pekerjaan. Mengatur prioritas juga dapat mengurangi kebutuhan untuk bekerja terlalu lama pada tugas yang kurang penting. Dengan cara tersebut, seseorang dapat menggunakan energi secara lebih efektif. Tujuan bekerja seharusnya bukan sekadar menghabiskan waktu, tetapi menghasilkan pekerjaan berkualitas dengan cara yang sehat.

WORKAHOLIC DAPAT MENGGANGGU KESEIMBANGAN KEHIDUPAN

Kebiasaan bekerja berlebihan dapat membuat seseorang semakin sedikit memiliki waktu untuk menjalani kehidupan pribadi. Waktu bersama keluarga dan teman dapat berkurang karena pekerjaan selalu menjadi prioritas. Hobi dan aktivitas yang sebelumnya menyenangkan juga dapat ditinggalkan karena dianggap tidak sepenting pekerjaan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat membuat keseimbangan hidup menjadi terganggu. Padahal, kehidupan yang sehat membutuhkan ruang untuk bekerja, beristirahat, bersosialisasi, dan melakukan kegiatan pribadi.

Ketika pekerjaan mengambil hampir seluruh waktu, seseorang dapat kehilangan kesempatan untuk memulihkan energi secara menyeluruh. Aktivitas di luar pekerjaan bukan berarti membuang waktu, tetapi dapat membantu menciptakan kehidupan yang lebih seimbang. Waktu pribadi perlu diperlakukan sebagai bagian penting dari rutinitas, bukan hanya sesuatu yang dilakukan ketika semua pekerjaan sudah selesai. Dengan menetapkan batas yang jelas, seseorang dapat tetap bertanggung jawab terhadap pekerjaan tanpa mengorbankan seluruh kehidupan pribadinya.

CARA MENGURANGI DAMPAK WORKAHOLIC TERHADAP KESEHATAN

Mengurangi dampak workaholic dapat dimulai dengan mengenali kebiasaan kerja yang sudah terlalu berlebihan. Buatlah jadwal kerja yang realistis dan tentukan kapan waktu pekerjaan harus dihentikan. Gunakan daftar prioritas agar energi tidak habis untuk tugas yang kurang penting. Berikan jeda secara berkala dan gunakan waktu di luar pekerjaan untuk tidur, bersantai, beraktivitas bersama orang terdekat, atau melakukan hobi. Langkah sederhana tersebut dapat membantu menciptakan batas yang lebih sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Selain mengatur waktu, penting untuk memperhatikan sinyal dari tubuh dan pikiran. Rasa lelah yang terus menerus, gangguan pola tidur, atau kesulitan menikmati aktivitas di luar pekerjaan dapat menjadi alasan untuk mengevaluasi kembali rutinitas. Jika dampaknya sudah terasa berat atau mengganggu kehidupan sehari hari, berbicara dengan tenaga profesional dapat menjadi pilihan yang tepat. Perubahan kebiasaan tidak harus dilakukan sekaligus, tetapi dapat dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Dengan pola kerja yang lebih seimbang, kesehatan dan produktivitas dapat dijaga secara bersamaan.

KESIMPULAN

Kebiasaan workaholic dapat mengganggu kesehatan karena bekerja secara berlebihan dapat mengurangi waktu istirahat dan membuat tubuh serta pikiran terus berada dalam tekanan. Dampaknya dapat terlihat melalui kelelahan, pola tidur yang terganggu, berkurangnya keseimbangan hidup, serta menurunnya kemampuan berkonsentrasi. Bekerja lebih lama juga tidak otomatis menghasilkan produktivitas yang lebih baik karena kondisi tubuh dan pikiran tetap memiliki batas. Oleh karena itu, istirahat, manajemen waktu, dan keseimbangan hidup perlu menjadi bagian dari kebiasaan kerja sehari hari. Menjaga kesehatan bukan berarti mengurangi tanggung jawab, tetapi membantu seseorang mempertahankan kemampuan bekerja secara lebih efektif dalam jangka panjang.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.