Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 125 dibaca

Mengapa Trust Issues Membuat Seseorang Sulit Mempercayai Orang Lain?

G

Gusti Ayu Tita P

24 September 2026

Bagikan:
 Mengapa Trust Issues Membuat Seseorang Sulit Mempercayai Orang Lain?

Mempercayai orang lain merupakan bagian penting dalam membangun hubungan yang sehat, baik dalam pertemanan, keluarga, lingkungan kerja, maupun hubungan romantis. Kepercayaan membuat seseorang merasa aman untuk berbagi cerita, bekerja sama, dan menjalin hubungan secara terbuka. Namun, tidak semua orang mudah memberikan kepercayaan kepada orang lain. Salah satu kondisi yang dapat membuat seseorang terus merasa ragu dan waspada adalah trust issues.

Trust issues dapat membuat seseorang kesulitan mempercayai perkataan, tindakan, atau niat orang lain meskipun belum tentu terdapat alasan kuat untuk mencurigainya. Kondisi ini sering berkaitan dengan pengalaman buruk di masa lalu, rasa takut dikhianati, kekecewaan, atau hubungan yang pernah tidak berjalan dengan baik. Jika berlangsung terus-menerus, kesulitan mempercayai orang lain dapat memengaruhi kualitas hubungan dan membuat seseorang merasa sulit untuk benar-benar dekat dengan orang lain.

Memahami penyebab dan dampak trust issues menjadi langkah penting agar seseorang dapat mengenali pola tersebut. Dengan pemahaman yang tepat, seseorang dapat belajar membangun kembali rasa aman dan mengembangkan kepercayaan dalam hubungan secara bertahap.

APA ITU TRUST ISSUES?

Trust issues adalah kesulitan seseorang dalam memberikan atau mempertahankan kepercayaan kepada orang lain. Seseorang yang mengalami masalah kepercayaan dapat merasa ragu terhadap perkataan maupun tindakan orang lain. Keraguan tersebut bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari sulit percaya pada janji hingga selalu mempertanyakan maksud seseorang.

Trust issues bukan sekadar sikap berhati-hati. Sikap waspada dalam situasi tertentu merupakan hal yang normal, terutama ketika seseorang belum mengenal orang lain dengan baik. Namun, masalah dapat muncul ketika rasa curiga dan takut dikhianati menjadi terlalu kuat sehingga menghambat hubungan yang sebenarnya berjalan dengan baik.

Seseorang dengan trust issues juga dapat membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman dengan orang lain. Mereka mungkin lebih sering mencari kepastian, mempertanyakan informasi, atau menjaga jarak secara emosional. Setiap orang dapat mengalami tingkat kesulitan kepercayaan yang berbeda-beda.

MENGAPA PENGALAMAN BURUK DAPAT MEMICU TRUST ISSUES?

Salah satu penyebab yang sering berkaitan dengan trust issues adalah pengalaman buruk dalam hubungan sebelumnya. Ketika seseorang pernah dibohongi, dikhianati, ditinggalkan, atau diperlakukan tidak sesuai harapan, pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara mereka melihat hubungan berikutnya.

Misalnya, seseorang pernah memiliki teman yang menyebarkan rahasianya kepada orang lain. Setelah kejadian tersebut, ia mungkin menjadi lebih berhati-hati ketika menceritakan sesuatu kepada teman baru. Dalam situasi tertentu, pengalaman tersebut dapat membuat seseorang berpikir bahwa membuka diri kepada orang lain selalu memiliki risiko.

Pengalaman masa lalu memang dapat menjadi sumber pembelajaran, tetapi masalah dapat muncul ketika pengalaman tersebut digunakan untuk menilai semua orang dengan cara yang sama. Tidak semua orang akan melakukan kesalahan yang sama seperti orang di masa lalu. Karena itu, membedakan pengalaman sebelumnya dengan kondisi hubungan saat ini menjadi bagian penting dalam membangun kembali kepercayaan.

BAGAIMANA RASA TAKUT DIKHIANATI MEMENGARUHI KEPERCAYAAN?

Rasa takut dikhianati dapat membuat seseorang selalu mempersiapkan diri terhadap kemungkinan terburuk. Ketika seseorang pernah mengalami pengkhianatan, ia mungkin merasa bahwa memberikan kepercayaan berarti membuka kesempatan bagi orang lain untuk menyakitinya.

Akibatnya, seseorang dapat menjadi terlalu waspada terhadap perubahan kecil dalam perilaku orang lain. Pesan yang terlambat dibalas, perubahan cara berbicara, atau rencana yang berubah dapat dianggap sebagai tanda bahwa sesuatu sedang disembunyikan. Padahal, perubahan tersebut belum tentu memiliki hubungan dengan pengkhianatan.

Rasa takut juga dapat membuat seseorang memilih menjaga jarak daripada mengambil risiko untuk dekat dengan orang lain. Dalam jangka panjang, pola tersebut dapat membuat hubungan sulit berkembang karena kepercayaan membutuhkan kesempatan untuk dibangun melalui pengalaman yang konsisten.

APA HUBUNGAN TRUST ISSUES DENGAN RASA TIDAK AMAN?

Trust issues sering berkaitan dengan perasaan tidak aman dalam hubungan. Seseorang mungkin merasa takut ditinggalkan, tidak dihargai, atau tidak cukup penting bagi orang lain. Perasaan tersebut dapat membuat seseorang lebih sensitif terhadap berbagai situasi yang dianggap sebagai ancaman terhadap hubungan.

Ketika rasa tidak aman muncul, seseorang dapat terus mencari kepastian dari orang lain. Misalnya, mereka sering ingin mengetahui apakah orang lain masih peduli, mempertanyakan perubahan sikap, atau merasa khawatir ketika komunikasi menjadi lebih sedikit. Jika tidak dikelola dengan baik, kebutuhan akan kepastian tersebut dapat membuat hubungan terasa melelahkan bagi kedua pihak.

Namun, rasa tidak aman tidak selalu berarti seseorang tidak mampu mempercayai orang lain selamanya. Rasa aman dapat dibangun secara bertahap melalui komunikasi yang terbuka, batasan yang sehat, dan pengalaman hubungan yang positif.

MENGAPA TRUST ISSUES MEMBUAT SESEORANG SELALU CURIGA?

Orang yang mengalami trust issues dapat lebih mudah memperhatikan hal-hal yang dianggap sebagai tanda ketidakjujuran. Mereka mungkin mengingat detail percakapan, membandingkan perkataan dengan tindakan, atau mempertanyakan alasan di balik perilaku tertentu.

Kecurigaan tersebut dapat memberikan perasaan seolah-olah seseorang sedang melindungi dirinya. Dengan selalu waspada, mereka merasa dapat mengurangi kemungkinan mengalami kekecewaan. Namun, terlalu banyak kecurigaan juga dapat membuat seseorang sulit melihat bukti bahwa orang lain sebenarnya dapat dipercaya.

Jika pola tersebut terus berulang, seseorang dapat masuk ke dalam siklus keraguan. Ia merasa tidak percaya, mencari bukti untuk mendukung kecurigaannya, kemudian semakin sulit mempercayai orang lain. Karena itu, penting untuk membedakan antara kewaspadaan yang sehat dan kecurigaan yang berlebihan.

APA DAMPAK TRUST ISSUES TERHADAP HUBUNGAN?

Trust issues dapat memberikan berbagai dampak terhadap hubungan interpersonal. Hubungan yang seharusnya menjadi tempat untuk mendapatkan dukungan dapat berubah menjadi sumber kecemasan apabila salah satu pihak terus merasa curiga atau takut dikhianati.

Dalam pertemanan, trust issues dapat membuat seseorang sulit berbagi cerita atau menerima bantuan. Dalam hubungan romantis, masalah kepercayaan dapat memunculkan kebutuhan akan kepastian yang berlebihan, konflik, atau kesalahpahaman. Sementara dalam lingkungan kerja, kurangnya kepercayaan dapat membuat kolaborasi menjadi lebih sulit.

Beberapa dampak yang dapat muncul antara lain:

  1. Sulit membuka diri kepada orang lain
  2. Sering merasa curiga terhadap niat orang lain
  3. Takut menjalin hubungan yang lebih dekat
  4. Sulit menerima perkataan atau janji
  5. Mudah merasa kecewa ketika terjadi perubahan kecil
  6. Cenderung menjaga jarak secara emosional
  7. Kesulitan membangun hubungan yang sehat

Dampak tersebut tidak selalu terjadi pada setiap orang dengan trust issues. Tingkat pengaruhnya dapat berbeda berdasarkan pengalaman, situasi hubungan, dan cara seseorang menghadapi rasa tidak percaya tersebut.

BAGAIMANA TRUST ISSUES MEMENGARUHI CARA SESEORANG BERKOMUNIKASI?

Komunikasi membutuhkan tingkat keterbukaan dan rasa aman tertentu. Ketika seseorang memiliki masalah kepercayaan, mereka dapat menjadi lebih tertutup karena takut informasi yang disampaikan akan digunakan untuk menyakiti mereka.

Sebaliknya, sebagian orang dapat menjadi terlalu sering meminta penjelasan karena membutuhkan kepastian. Kedua pola tersebut dapat menyebabkan komunikasi menjadi kurang seimbang. Orang yang diajak berkomunikasi mungkin merasa bahwa apa pun yang mereka katakan selalu diragukan.

Komunikasi yang sehat membutuhkan kesempatan bagi kedua pihak untuk menjelaskan perasaan dan kebutuhan tanpa langsung memberikan tuduhan. Dengan cara tersebut, kesalahpahaman dapat dibicarakan sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

APAKAH TRUST ISSUES BERARTI SESEORANG TIDAK BISA PERCAYA SIAPA PUN?

Tidak. Trust issues tidak berarti seseorang sama sekali tidak mampu mempercayai orang lain. Masalah kepercayaan lebih tepat dipahami sebagai kesulitan dalam memberikan kepercayaan atau merasa aman dalam hubungan tertentu.

Seseorang mungkin mempercayai keluarganya tetapi sulit mempercayai pasangan baru. Orang lain mungkin dapat mempercayai teman dekat tetapi merasa ragu terhadap rekan kerja. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman dan konteks hubungan dapat memengaruhi tingkat kepercayaan seseorang.

Kepercayaan juga bukan sesuatu yang harus diberikan sekaligus. Kepercayaan dapat dibangun secara bertahap berdasarkan pengalaman, konsistensi, komunikasi, dan penghormatan terhadap batasan. Seseorang berhak berhati-hati sekaligus tetap memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menunjukkan bahwa mereka dapat dipercaya.

BAGAIMANA CARA MENGATASI TRUST ISSUES?

Mengatasi trust issues membutuhkan proses dan tidak selalu dapat dilakukan dalam waktu singkat. Langkah pertama adalah mengenali pola ketidakpercayaan yang muncul. Seseorang dapat memperhatikan situasi apa yang biasanya membuatnya merasa curiga atau takut dikhianati.

Selanjutnya, cobalah membedakan antara fakta dan asumsi. Ketika muncul rasa curiga, tanyakan kepada diri sendiri apakah terdapat bukti nyata yang mendukung kekhawatiran tersebut atau apakah perasaan tersebut muncul karena pengalaman masa lalu. Cara ini dapat membantu seseorang melihat situasi dengan lebih objektif.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Mengenali penyebab munculnya rasa tidak percaya
  2. Membedakan fakta dari asumsi
  3. Berkomunikasi secara terbuka
  4. Memberikan kepercayaan secara bertahap
  5. Menetapkan batasan yang sehat
  6. Menghargai konsistensi tindakan orang lain
  7. Belajar dari pengalaman tanpa menggeneralisasi semua orang
  8. Mencari bantuan profesional jika masalah terasa sangat mengganggu kehidupan sehari-hari

Proses tersebut tidak berarti seseorang harus memaksakan diri untuk mempercayai semua orang. Tujuannya adalah membangun kepercayaan yang realistis dan sehat, bukan menghilangkan kewaspadaan sepenuhnya.

MENGAPA KOMUNIKASI TERBUKA PENTING UNTUK MEMBANGUN KEPERCAYAAN?

Komunikasi terbuka dapat membantu seseorang memahami situasi secara lebih jelas. Ketika terdapat sesuatu yang membuat tidak nyaman, membicarakannya secara langsung dapat mengurangi kemungkinan munculnya asumsi yang tidak berdasar.

Dalam hubungan yang sehat, kedua pihak dapat menyampaikan perasaan, kekhawatiran, dan batasan masing-masing. Orang yang mengalami trust issues juga dapat menjelaskan bahwa pengalaman masa lalu membuat mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa aman.

Kepercayaan tidak hanya dibangun melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan yang konsisten. Ketika seseorang menunjukkan perilaku yang dapat diandalkan secara terus-menerus, pengalaman tersebut dapat membantu membentuk rasa aman secara perlahan.

KAPAN TRUST ISSUES PERLU MENDAPATKAN PERHATIAN LEBIH SERIUS?

Trust issues perlu mendapat perhatian lebih ketika masalah tersebut mulai mengganggu kehidupan sehari-hari atau hubungan dengan orang lain. Misalnya, seseorang terus-menerus menghindari hubungan karena takut disakiti, mengalami konflik berulang akibat kecurigaan, atau merasa sangat sulit merasa aman meskipun tidak ada ancaman yang jelas.

Dalam kondisi seperti itu, berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat menjadi salah satu pilihan. Profesional dapat membantu seseorang memahami pola yang dialami dan menemukan cara yang lebih sehat untuk menghadapinya.

Mencari bantuan bukan berarti seseorang gagal membangun kepercayaan. Sebaliknya, hal tersebut dapat menjadi langkah untuk memahami diri sendiri dan memperbaiki pola hubungan. Setiap orang memiliki proses yang berbeda dalam membangun kembali rasa percaya.

KESIMPULAN

Trust issues dapat membuat seseorang sulit mempercayai orang lain karena pengalaman buruk, rasa takut dikhianati, perasaan tidak aman, dan pola kecurigaan yang terbentuk dari pengalaman sebelumnya. Ketika rasa tidak percaya menjadi terlalu kuat, seseorang dapat kesulitan membuka diri, membangun hubungan dekat, dan berkomunikasi secara sehat.

Meski demikian, memiliki trust issues bukan berarti seseorang tidak dapat kembali mempercayai orang lain. Kepercayaan dapat dibangun secara bertahap melalui komunikasi terbuka, konsistensi, batasan yang sehat, dan kemampuan membedakan pengalaman masa lalu dari situasi saat ini.

Hal yang paling penting adalah memahami bahwa membangun kepercayaan tidak berarti mengabaikan kewaspadaan. Tujuannya adalah menemukan keseimbangan antara berhati-hati dan memberikan kesempatan kepada orang lain. Dengan proses yang tepat, seseorang dapat membangun hubungan yang lebih aman, sehat, dan saling menghargai.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.