University of Science and Computer Technology
MENU NAVIGASI
Beranda / Artikel / Tips dan Trik
Tips dan Trik 18 views

Bagaimana Cara Mengenali FOMO dalam Diri Sendiri?

G

Gusti Ayu Tita P

12 September 2026

Bagikan:
Bagaimana Cara Mengenali FOMO dalam Diri Sendiri?

FOMO atau Fear of Missing Out adalah kondisi ketika seseorang merasa takut tertinggal dari pengalaman, tren, informasi, atau aktivitas yang sedang dilakukan orang lain. Perasaan ini semakin mudah muncul karena media sosial membuat seseorang dapat melihat berbagai aktivitas orang lain dalam waktu singkat. Jika tidak disadari, FOMO dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan, mengatur waktu, hingga menggunakan uang.

Mengenali FOMO sejak awal penting agar seseorang dapat membedakan antara keinginan yang benar-benar berasal dari diri sendiri dan dorongan untuk mengikuti orang lain. FOMO sebenarnya merupakan pengalaman psikologis yang cukup umum, tetapi dampaknya dapat menjadi masalah ketika membuat seseorang terus merasa kurang, cemas, atau sulit merasa puas. Dengan memahami tanda dan penyebabnya, seseorang dapat belajar mengambil keputusan secara lebih tenang dan sesuai dengan kebutuhannya.

MEMAHAMI APA ITU FOMO

FOMO merupakan singkatan dari Fear of Missing Out, yaitu rasa takut bahwa orang lain sedang mendapatkan pengalaman yang lebih menyenangkan, berharga, atau menarik tanpa dirinya. Perasaan tersebut dapat muncul ketika melihat teman menghadiri acara, membeli barang baru, mengikuti tren, atau mendapatkan kesempatan tertentu. Seseorang kemudian merasa harus ikut agar tidak dianggap tertinggal. Padahal, keputusan tersebut belum tentu sesuai dengan kebutuhan atau kondisi pribadinya.

FOMO juga berkaitan dengan perbandingan sosial, terutama ketika seseorang sering melihat kehidupan orang lain melalui media sosial. Konten yang muncul biasanya hanya menampilkan bagian tertentu dari kehidupan seseorang sehingga terlihat lebih menarik daripada kenyataan secara keseluruhan. Akibatnya, seseorang dapat membandingkan kehidupannya dengan gambaran yang tidak lengkap. Inilah salah satu alasan mengapa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat memperkuat perasaan takut tertinggal.

PERHATIKAN KEINGINAN UNTUK SELALU IKUT ORANG LAIN

Salah satu tanda FOMO yang mudah dikenali adalah keinginan untuk selalu mengikuti apa yang dilakukan orang lain. Misalnya, seseorang membeli produk tertentu karena sedang populer, bukan karena benar-benar membutuhkannya. Hal yang sama dapat terjadi ketika seseorang mengikuti acara, tren, atau aktivitas tertentu hanya karena banyak orang di sekitarnya melakukannya. Jika pola tersebut sering terjadi, penting untuk berhenti sejenak dan mempertanyakan alasan di balik keputusan tersebut.

Cobalah bertanya kepada diri sendiri, Apakah saya memang menginginkan hal ini atau hanya takut tertinggal? Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu mengenali sumber dorongan sebelum mengambil keputusan. Jika keinginan tersebut muncul terutama setelah melihat orang lain melakukannya, kemungkinan terdapat unsur FOMO. Dengan mengenali pola ini, seseorang memiliki kesempatan untuk membuat pilihan yang lebih sesuai dengan prioritas pribadi.

KENALI RASA CEMAS SAAT TIDAK MENGIKUTI TREN

FOMO sering ditandai dengan rasa cemas ketika tidak dapat mengikuti tren atau aktivitas tertentu. Seseorang mungkin merasa khawatir akan kehilangan kesempatan, tidak mengetahui informasi terbaru, atau tidak lagi dianggap relevan oleh lingkungan sosialnya. Bahkan ketika sedang beristirahat, muncul dorongan untuk terus memeriksa media sosial agar tidak melewatkan sesuatu. Jika perasaan tersebut terjadi berulang kali, hal ini perlu diperhatikan.

Tidak semua keinginan untuk mengikuti tren merupakan FOMO. Mengikuti tren karena memang menyukainya atau memperoleh manfaat yang jelas merupakan hal yang wajar. Masalah muncul ketika rasa takut menjadi alasan utama seseorang melakukan sesuatu. Ketika kecemasan lebih dominan daripada kesenangan atau manfaat yang diperoleh, seseorang perlu mengevaluasi kembali kebutuhannya.

PERIKSA KEBIASAAN TERUS MENERUS MEMERIKSA MEDIA SOSIAL

Kebiasaan membuka media sosial secara berulang dapat menjadi tanda bahwa seseorang sedang berusaha memastikan dirinya tidak melewatkan sesuatu. Notifikasi, unggahan baru, tren, dan aktivitas teman dapat memberikan dorongan untuk terus kembali ke aplikasi. Pada kondisi tertentu, seseorang bahkan merasa tidak nyaman ketika tidak dapat mengakses media sosial dalam beberapa waktu. Kebiasaan tersebut dapat mengganggu konsentrasi dan membuat waktu istirahat menjadi kurang berkualitas.

Untuk mengetahuinya, perhatikan bagaimana perasaan Anda ketika tidak membuka media sosial selama beberapa jam. Jika muncul rasa gelisah, takut ketinggalan berita, atau dorongan kuat untuk segera memeriksa pembaruan, cobalah mengevaluasi kebiasaan tersebut. Membatasi waktu penggunaan media sosial dapat membantu seseorang memahami bahwa tidak mengetahui semua hal yang sedang terjadi bukan berarti kehilangan sesuatu yang penting. Fokus pun dapat kembali diarahkan pada aktivitas yang benar-benar memiliki nilai bagi diri sendiri.

BEDAKAN KEBUTUHAN DAN KEINGINAN

FOMO sering memengaruhi keputusan dalam berbelanja dan menggunakan uang. Seseorang mungkin membeli pakaian, perangkat elektronik, tiket acara, atau produk tertentu karena takut kehabisan atau tidak ingin kalah dari orang lain. Padahal, barang tersebut belum tentu masuk dalam kebutuhan utama. Jika keputusan finansial sering dibuat karena tekanan sosial atau tren, kondisi keuangan dapat ikut terdampak.

Sebelum membeli sesuatu, cobalah memberi jeda dan tanyakan apakah barang tersebut memang dibutuhkan. Pertimbangkan manfaat, kemampuan finansial, waktu penggunaan, dan prioritas pribadi. Jika setelah beberapa waktu keinginan tersebut masih terasa penting dan sesuai anggaran, keputusan dapat dibuat dengan lebih rasional. Kebiasaan memberi jeda juga membantu mengurangi pembelian impulsif yang dipicu oleh FOMO.

PERHATIKAN KEBIASAAN MEMBANDINGKAN DIRI

Membandingkan diri dengan orang lain secara terus-menerus merupakan salah satu pola yang dapat memperkuat FOMO. Ketika melihat pencapaian, perjalanan, pekerjaan, hubungan, atau gaya hidup orang lain, seseorang mungkin merasa hidupnya kurang menarik. Perasaan tersebut dapat membuat seseorang terdorong mengejar hal yang sebenarnya tidak menjadi prioritasnya. Jika dibiarkan, perbandingan sosial dapat mengurangi kepuasan terhadap kehidupan sendiri.

Penting untuk diingat bahwa setiap orang memiliki kondisi, tujuan, kemampuan, dan waktu perkembangan yang berbeda. Apa yang terlihat di media sosial juga tidak selalu menggambarkan keseluruhan kehidupan seseorang. Alih-alih menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran, lebih baik menentukan indikator keberhasilan berdasarkan tujuan pribadi. Dengan begitu, keputusan tidak lagi semata-mata dibuat untuk mendapatkan pengakuan atau mengejar standar orang lain.

TANYAKAN APA YANG SEBENARNYA DICARI

Ketika merasa ingin mengikuti sesuatu, berhentilah sejenak dan cari tahu kebutuhan emosional di balik keinginan tersebut. Bisa jadi seseorang sebenarnya sedang mencari penerimaan, ingin merasa menjadi bagian dari kelompok, membutuhkan hiburan, atau takut dianggap berbeda. Mengetahui penyebabnya dapat membantu seseorang mencari cara yang lebih sehat untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan demikian, keputusan tidak hanya didasarkan pada dorongan sesaat.

Salah satu cara sederhana adalah menuliskan alasan sebelum mengambil keputusan. Misalnya, tanyakan apakah keputusan tersebut memberikan manfaat nyata, sesuai nilai pribadi, dan mendukung tujuan jangka panjang. Jika jawabannya tidak jelas, tidak ada salahnya menunda keputusan. Jeda tersebut memberikan ruang untuk berpikir tanpa tekanan dari tren atau lingkungan sekitar.

BANGUN KEBIASAAN MENGAMBIL KEPUTUSAN DENGAN SADAR

Mengatasi FOMO bukan berarti harus menjauhi semua tren atau berhenti menggunakan media sosial. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan untuk mengambil keputusan secara sadar. Seseorang dapat tetap mengikuti tren selama aktivitas tersebut sesuai dengan minat, kebutuhan, nilai, dan kemampuan yang dimiliki. Kuncinya adalah memastikan bahwa pilihan tersebut berasal dari pertimbangan pribadi, bukan sekadar rasa takut tertinggal.

Membuat prioritas pribadi juga dapat membantu mengurangi pengaruh FOMO. Tentukan hal yang benar-benar penting dalam kehidupan, seperti pendidikan, pekerjaan, kesehatan, hubungan sosial, keuangan, atau pengembangan diri. Setelah prioritas ditetapkan, lebih mudah untuk mengatakan tidak terhadap sesuatu yang tidak sejalan dengan tujuan. Dengan cara ini, seseorang dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang tanpa harus terus mengejar apa yang sedang dilakukan orang lain.

KAPAN FOMO PERLU MENDAPAT PERHATIAN LEBIH?

FOMO perlu mendapat perhatian lebih ketika perasaan takut tertinggal mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Contohnya adalah kesulitan berkonsentrasi, pengeluaran yang tidak terkendali, gangguan tidur, terus-menerus memeriksa media sosial, atau munculnya kecemasan yang sulit dikendalikan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa FOMO tidak lagi sekadar perasaan sesaat. Jika dampaknya terasa berat atau berlangsung lama, berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat menjadi pilihan yang tepat.

Mencari bantuan bukan berarti seseorang memiliki masalah yang serius atau tidak mampu mengendalikan dirinya. Justru, mengenali kebutuhan untuk mendapatkan bantuan merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Profesional dapat membantu memahami pola pikiran dan perilaku yang muncul serta menemukan strategi yang lebih sesuai. Dukungan dari orang yang dipercaya juga dapat menjadi langkah awal yang baik ketika seseorang merasa kesulitan menghadapi tekanan sosial.

KESIMPULAN

Mengenali FOMO dalam diri sendiri dapat dimulai dengan memperhatikan rasa takut tertinggal, kebiasaan mengikuti orang lain, kecemasan ketika tidak mengetahui tren terbaru, dan dorongan membandingkan diri. Perhatikan pula apakah keputusan yang dibuat benar-benar berasal dari kebutuhan pribadi atau hanya karena ingin mendapatkan pengakuan. Kesadaran terhadap pola tersebut menjadi langkah penting untuk mengurangi pengaruh FOMO.

Pada akhirnya, tidak semua hal harus diikuti dan tidak semua kesempatan harus diambil. Menentukan prioritas, memberi jeda sebelum mengambil keputusan, membatasi penggunaan media sosial, dan memahami kebutuhan pribadi dapat membantu seseorang menjalani kehidupan dengan lebih sadar. Dengan mengenali FOMO secara lebih baik, seseorang dapat belajar merasa cukup, mengambil keputusan secara rasional, dan fokus pada tujuan yang benar-benar bermakna.

G

About the Author

Gusti Ayu Tita P

Author — STEKOM University

An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.

Continue Reading

More Articles