Apa Saja Ciri Ciri Kepribadian Ganda Yang Perlu Diketahui?
Gusti Ayu Tita P
24 September 2026
Istilah kepribadian ganda cukup sering muncul dalam pembahasan mengenai kesehatan mental. Banyak orang menggunakannya untuk menggambarkan seseorang yang terlihat mengalami perubahan identitas, perilaku, atau cara berpikir. Dalam dunia medis, istilah yang lebih tepat untuk kondisi tersebut adalah Dissociative Identity Disorder (DID) atau gangguan identitas disosiatif.
DID termasuk dalam kelompok gangguan disosiatif. Kondisi ini berkaitan dengan adanya gangguan pada keterhubungan antara identitas, ingatan, kesadaran, emosi, persepsi, dan perilaku seseorang. Salah satu karakteristik pentingnya adalah adanya dua atau lebih keadaan identitas yang berbeda serta kesenjangan ingatan yang berulang. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari seseorang.
Mengetahui ciri ciri kepribadian ganda penting agar masyarakat tidak langsung memberikan label kepada seseorang hanya karena melihat perubahan perilaku. Tidak semua perubahan suasana hati, sifat, atau kebiasaan menunjukkan DID. Diagnosis gangguan identitas disosiatif membutuhkan penilaian profesional yang mempertimbangkan keseluruhan gejala dan kondisi seseorang.
APA ITU KEPRIBADIAN GANDA ATAU DID?
Kepribadian ganda merupakan istilah yang banyak digunakan dalam percakapan umum untuk menyebut Dissociative Identity Disorder. Dalam DID, seseorang dapat mengalami dua atau lebih keadaan identitas yang berbeda. Perubahan tersebut dapat disertai perbedaan dalam cara berpikir, perasaan, perilaku, ingatan, atau cara seseorang memandang dirinya sendiri.
DID bukan berarti seseorang secara sederhana mempunyai beberapa karakter seperti orang yang sedang memainkan peran berbeda. Setiap manusia memang dapat berperilaku berbeda sesuai dengan situasi. Seseorang bisa lebih serius ketika berada di sekolah, lebih santai ketika bersama teman, dan lebih pendiam ketika bertemu orang baru. Hal tersebut merupakan variasi perilaku yang normal dan tidak otomatis menunjukkan gangguan identitas disosiatif.
APA SAJA CIRI CIRI KEPRIBADIAN GANDA?
Ciri DID dapat berbeda antara satu orang dan orang lainnya. Namun, terdapat beberapa karakteristik yang penting untuk dipahami, terutama perubahan keadaan identitas dan adanya kesenjangan ingatan.
1. MENGALAMI KEADAAN IDENTITAS YANG BERBEDA
Salah satu karakteristik utama DID adalah adanya dua atau lebih keadaan identitas yang berbeda. Perubahan keadaan identitas tersebut dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan sesuatu, berperilaku, atau berinteraksi dengan lingkungan.
Perubahan tersebut tidak selalu terlihat jelas oleh orang lain. Pada sebagian orang, perubahan dapat lebih mudah diamati, sedangkan pada orang lain pengalaman tersebut mungkin lebih banyak dirasakan secara internal.
Karena itu, melihat seseorang yang terkadang bersikap berbeda belum cukup untuk menyimpulkan bahwa orang tersebut mengalami DID.
2. MENGALAMI KESENJANGAN INGATAN
Kesenjangan ingatan merupakan salah satu karakteristik yang penting dalam DID. Seseorang dapat mengalami kesulitan mengingat kejadian sehari-hari, informasi pribadi, atau peristiwa tertentu yang seharusnya dapat diingat.
Kondisi tersebut berbeda dengan lupa biasa. Setiap orang dapat lupa karena kelelahan, kurang perhatian, atau berbagai alasan lainnya. Pada DID, masalah ingatan dapat terjadi berulang dan berkaitan dengan perubahan identitas atau keadaan disosiatif.
Kesenjangan ingatan dapat membuat seseorang merasa bingung ketika menemukan bahwa ada bagian dari aktivitas atau percakapan yang tidak dapat diingatnya.
3. MERASA ADA JARAK DARI DIRI SENDIRI
Pengalaman disosiatif dapat membuat seseorang merasa seperti memiliki jarak tertentu dari dirinya sendiri. Seseorang dapat merasa seolah-olah sedang mengamati dirinya dari luar atau merasa tidak sepenuhnya terhubung dengan apa yang sedang dilakukan.
Pengalaman seperti ini berkaitan dengan depersonalisasi, yaitu perasaan terlepas atau tidak terhubung dengan diri sendiri. Pengalaman disosiatif juga dapat berkaitan dengan derealisasi, yaitu perasaan bahwa lingkungan sekitar terasa tidak nyata atau tidak seperti biasanya.
Namun, pengalaman tersebut dapat muncul dalam berbagai kondisi sehingga tidak dapat digunakan sendirian untuk menentukan diagnosis DID.
4. MERASA LINGKUNGAN TERASA TIDAK NYATA
Selain merasa tidak terhubung dengan diri sendiri, seseorang dapat mengalami derealization atau derealisasi. Dalam pengalaman ini, lingkungan sekitar dapat terasa asing, seperti tidak nyata, atau seperti sedang berada dalam suasana yang berbeda.
Pengalaman tersebut dapat membuat seseorang merasa bingung atau tidak nyaman. Tingkat dan frekuensinya juga dapat berbeda pada setiap individu.
Penting untuk dipahami bahwa derealisasi tidak secara otomatis berarti seseorang mengalami DID. Tenaga profesional perlu melihat keseluruhan kondisi dan gejala sebelum menentukan diagnosis.
5. MENGALAMI KEBINGUNGAN TERHADAP IDENTITAS
Seseorang dengan DID dapat mengalami kebingungan atau perubahan yang berkaitan dengan identitas dan rasa terhadap diri sendiri. Perubahan tersebut dapat berkaitan dengan cara seseorang memahami siapa dirinya, bagaimana dirinya bertindak, atau bagaimana dirinya mengalami suatu keadaan.
Kebingungan identitas dalam DID memiliki karakteristik klinis tertentu dan tidak sama dengan proses pencarian jati diri yang umum terjadi dalam kehidupan. Anak muda maupun orang dewasa dapat mengalami perubahan minat, gaya, atau cara berpikir tanpa berarti mengalami gangguan identitas disosiatif.
Oleh karena itu, istilah “kepribadian ganda” sebaiknya tidak digunakan secara sembarangan untuk menggambarkan seseorang yang sekadar memiliki sifat atau minat yang berbeda.
APA HUBUNGAN INGATAN DENGAN DID?
Ingatan memiliki peran penting dalam pembahasan DID. Pada kondisi ini, seseorang dapat mengalami kesenjangan dalam mengingat informasi atau kejadian tertentu. Kesenjangan tersebut dapat membuat pengalaman sehari-hari terasa tidak berkesinambungan.
Misalnya, seseorang dapat merasa bingung ketika mengetahui adanya percakapan atau aktivitas yang tidak dapat diingatnya. Namun, contoh tersebut tidak berarti setiap orang yang mengalami lupa memiliki DID. Masalah ingatan dapat disebabkan oleh banyak hal sehingga diperlukan evaluasi yang tepat.
Karena gangguan ingatan merupakan salah satu karakteristik penting DID, tenaga kesehatan mental akan mempertimbangkan riwayat dan pola gejala ketika melakukan pemeriksaan.
APAKAH PERUBAHAN SUASANA HATI TERMASUK CIRI DID?
Perubahan suasana hati tidak otomatis menunjukkan kepribadian ganda. Seseorang dapat merasa senang, sedih, marah, cemas, atau tenang pada waktu yang berbeda karena berbagai faktor dalam kehidupan.
Perubahan mood juga dapat terjadi akibat pengalaman sehari-hari, tekanan, kurang tidur, atau berbagai kondisi kesehatan mental lainnya. Karena itu, perubahan emosi saja tidak cukup untuk menyatakan seseorang mengalami DID.
DID memiliki karakteristik yang lebih kompleks karena berkaitan dengan identitas, disosiasi, dan kesenjangan ingatan. Penilaian harus dilakukan dengan melihat keseluruhan kondisi seseorang.
APAKAH LUPA BIASA SAMA DENGAN GEJALA DID?
Tidak. Lupa biasa dan kesenjangan ingatan pada DID bukanlah hal yang sama. Setiap orang dapat mengalami lupa, misalnya lupa meletakkan barang, lupa jadwal, atau lupa detail percakapan karena sedang lelah atau kurang berkonsentrasi.
Pada DID, kesenjangan ingatan dapat terjadi secara berulang dan berkaitan dengan informasi atau kejadian yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut dapat menimbulkan gangguan atau kebingungan dalam menjalankan aktivitas.
Jika masalah ingatan terjadi terus-menerus dan mengganggu kehidupan seseorang, sebaiknya masalah tersebut dibicarakan dengan tenaga kesehatan agar penyebabnya dapat dievaluasi dengan tepat.
APAKAH DID SAMA DENGAN SKIZOFRENIA?
DID dan skizofrenia merupakan dua kondisi yang berbeda. Kesalahpahaman mengenai keduanya dapat muncul karena beberapa pengalaman atau gejala tertentu terkadang terlihat mirip bagi orang awam.
DID terutama berkaitan dengan disosiasi, identitas, dan kesenjangan ingatan. Sementara itu, skizofrenia merupakan gangguan mental yang memiliki karakteristik klinis berbeda, termasuk gangguan tertentu pada proses berpikir dan persepsi.
Karena keduanya berbeda, penggunaan istilah yang tepat sangat penting. Seseorang juga tidak sebaiknya didiagnosis hanya berdasarkan perilaku yang terlihat oleh orang lain.
APAKAH TRAUMA BERHUBUNGAN DENGAN CIRI DID?
DID sering dikaitkan dengan pengalaman trauma berat dan berulang, terutama yang terjadi pada masa kanak-kanak. Trauma dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan munculnya pengalaman disosiatif.
Disosiasi dapat menjadi respons terhadap pengalaman yang sangat berat atau membuat seseorang merasa kewalahan. Dalam konteks trauma, keterputusan tertentu dari pengalaman atau ingatan dapat menjadi bagian dari cara seseorang menghadapi pengalaman tersebut.
Namun, hubungan antara trauma dan DID tidak boleh disederhanakan. Tidak semua orang yang mengalami trauma akan mengalami DID, dan keberadaan trauma saja tidak cukup untuk menentukan diagnosis.
BAGAIMANA CIRI DID DAPAT MEMENGARUHI KEHIDUPAN SEHARI-HARI?
Gejala DID dapat memberikan dampak berbeda pada setiap orang. Kesenjangan ingatan, perubahan keadaan identitas, atau pengalaman disosiatif dapat membuat aktivitas tertentu menjadi lebih sulit.
Dampaknya dapat berhubungan dengan kehidupan sekolah, pekerjaan, hubungan sosial, maupun aktivitas sehari-hari. Seseorang dapat merasa kesulitan memahami mengapa terdapat bagian pengalaman yang tidak diingat atau mengapa dirinya merasa tidak terhubung dengan pengalaman tertentu.
Meski demikian, pengalaman setiap individu berbeda. Tidak tepat menganggap bahwa semua orang dengan DID memiliki tingkat gejala atau dampak yang sama.
BAGAIMANA CARA MENGETAHUI APAKAH SESEORANG MENGALAMI DID?
Mengetahui apakah seseorang mengalami DID membutuhkan evaluasi profesional. Diagnosis tidak dapat ditentukan hanya dengan membaca artikel, melihat video di media sosial, atau mencocokkan diri dengan beberapa ciri yang ditemukan di internet.
Tenaga kesehatan mental dapat melakukan wawancara dan evaluasi terhadap gejala, riwayat, pengalaman seseorang, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Pemeriksaan juga penting untuk mempertimbangkan kondisi lain yang mungkin memiliki gejala serupa.
Karena itu, jika seseorang mengalami masalah identitas, ingatan, atau disosiasi yang mengganggu aktivitas, langkah yang tepat adalah mencari bantuan dari tenaga kesehatan mental yang kompeten.
BAGAIMANA CARA MENYIKAPI ORANG YANG DIDUGA MENGALAMI DID?
Jika seseorang menunjukkan pengalaman yang berkaitan dengan disosiasi atau masalah kesehatan mental, sebaiknya jangan langsung memberikan label. Sikap empati dan tidak menghakimi dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi orang tersebut.
Hindari mengejek, memaksa seseorang menjelaskan pengalaman pribadi, atau menyebarkan informasi mengenai kondisi mereka tanpa izin. Setiap orang memiliki hak atas privasi dan perlakuan yang menghormati martabatnya.
Jika gejala terasa mengganggu kehidupan sehari-hari, orang tersebut dapat didukung untuk mencari bantuan profesional. Dukungan dari keluarga, teman, atau lingkungan terdekat dapat diberikan tanpa menggantikan peran tenaga kesehatan.
HIGHLIGHT POIN PENTING
Beberapa ciri utama yang perlu dipahami mengenai DID adalah:
- Perubahan keadaan identitas yang melibatkan dua atau lebih keadaan identitas berbeda.
- Kesenjangan ingatan berulang yang tidak sekadar merupakan lupa biasa.
- Pengalaman disosiatif, seperti merasa tidak terhubung dengan diri sendiri atau lingkungan.
- Diagnosis tidak dapat dilakukan berdasarkan satu gejala dan perlu evaluasi tenaga kesehatan mental.
KESIMPULAN
Ciri ciri kepribadian ganda, yang secara medis lebih tepat disebut Dissociative Identity Disorder atau DID, berkaitan dengan perubahan keadaan identitas, gangguan pada kesinambungan identitas, pengalaman disosiatif, serta kesenjangan ingatan yang berulang. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari dan memiliki karakteristik yang lebih kompleks daripada sekadar perubahan suasana hati atau sifat.
DID juga sering dikaitkan dengan pengalaman trauma berat dan berulang, terutama pada masa kanak-kanak. Namun, tidak semua orang yang mengalami trauma akan mengalami DID. Begitu pula, seseorang yang terkadang lupa atau menunjukkan perubahan perilaku tidak otomatis mengalami gangguan identitas disosiatif.
Pemahaman yang tepat mengenai gejala DID penting untuk menghindari kesalahpahaman dan stigma. Jika seseorang mengalami masalah identitas, ingatan, atau disosiasi yang mengganggu aktivitas sehari-hari, evaluasi dari tenaga kesehatan mental dapat membantu memahami kondisi tersebut secara lebih tepat.
Tentang Penulis
Gusti Ayu Tita P
Penulis — Universitas STEKOM
Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.