University of Science and Computer Technology
MENU NAVIGASI
Beranda / Artikel / Tips dan Trik
Tips dan Trik 46 views

Bagaimana Cara Mengurangi FOMO Saat Menggunakan Media Sosial?

G

Gusti Ayu Tita P

12 September 2026

Bagikan:
Bagaimana Cara Mengurangi FOMO Saat Menggunakan Media Sosial?

Media sosial memudahkan seseorang untuk mengetahui berbagai aktivitas, pencapaian, dan pengalaman orang lain. Namun, terlalu sering melihat kehidupan orang lain dapat memunculkan FOMO atau Fear of Missing Out, yaitu perasaan takut tertinggal dari tren, pengalaman, atau kesempatan yang sedang dinikmati orang lain. Kondisi ini dapat membuat seseorang merasa harus selalu mengikuti informasi terbaru agar tidak dianggap ketinggalan. Jika dibiarkan, FOMO dapat memengaruhi kesehatan mental, produktivitas, dan kepuasan terhadap kehidupan sehari-hari.

Mengurangi FOMO bukan berarti harus berhenti menggunakan media sosial sepenuhnya. Hal yang lebih penting adalah membangun pola penggunaan media sosial yang sehat dan terkendali. Dengan memahami pemicu FOMO serta menerapkan beberapa kebiasaan sederhana, seseorang dapat tetap menggunakan media sosial tanpa terlalu terbawa oleh kehidupan orang lain.

PAHAMI APA ITU FOMO DI MEDIA SOSIAL

FOMO merupakan kondisi ketika seseorang merasa takut melewatkan sesuatu yang dianggap penting atau menarik. Di media sosial, perasaan tersebut dapat muncul ketika melihat teman bepergian, membeli barang baru, menghadiri acara, mendapatkan pekerjaan, atau mencapai prestasi tertentu. Unggahan yang terus muncul dapat membuat seseorang membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Padahal, media sosial biasanya hanya menampilkan bagian tertentu dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan kenyataannya.

FOMO juga dapat membuat seseorang terdorong untuk terus memeriksa notifikasi, mengikuti tren, atau merasa harus ikut melakukan sesuatu agar tidak tertinggal. Kebiasaan tersebut dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk menikmati aktivitas yang sedang dijalani. Karena itu, memahami bahwa media sosial tidak selalu menggambarkan realitas secara lengkap menjadi langkah awal untuk mengurangi FOMO.

KENALI PEMICU FOMO

Setiap orang dapat memiliki pemicu FOMO yang berbeda. Ada yang merasa cemas setelah melihat pencapaian teman, sementara orang lain mungkin lebih mudah terpengaruh oleh tren gaya hidup, perjalanan, pekerjaan, atau pergaulan. Perhatikan jenis konten yang paling sering membuat diri merasa kurang, tertinggal, atau tidak puas. Mengenali pola tersebut membantu seseorang menentukan perubahan yang perlu dilakukan.

Salah satu cara sederhana adalah mengevaluasi perasaan setelah menggunakan media sosial. Jika akun tertentu secara konsisten membuat seseorang merasa cemas atau rendah diri, konten tersebut dapat dikurangi dari linimasa. Pengguna dapat memilih fitur mute, unfollow, atau membatasi interaksi tanpa harus memutus hubungan secara langsung. Dengan demikian, lingkungan digital dapat menjadi lebih nyaman dan sesuai dengan kebutuhan pribadi.

BATASI WAKTU MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL

Mengatur waktu merupakan salah satu langkah paling efektif untuk mengurangi FOMO. Pengguna dapat menentukan batas waktu harian untuk membuka aplikasi media sosial, terutama jika penggunaan sudah mengganggu belajar, bekerja, tidur, atau aktivitas bersama keluarga. Fitur pengaturan waktu layar pada perangkat juga dapat digunakan sebagai pengingat ketika penggunaan mulai berlebihan.

Selain jumlah waktu, perhatikan pula kapan media sosial digunakan. Hindari membuka media sosial setiap kali merasa bosan atau sedang menunggu sesuatu. Cobalah menggantinya dengan aktivitas sederhana seperti membaca, berolahraga, berbicara dengan orang terdekat, atau mengerjakan hobi. Mengurangi frekuensi mengecek media sosial dapat membantu pikiran menjadi lebih tenang dan tidak terlalu bergantung pada informasi terbaru.

BERHENTI MEMBANDINGKAN DIRI DENGAN ORANG LAIN

Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain merupakan salah satu faktor yang dapat memperkuat FOMO. Seseorang mungkin melihat pencapaian orang lain tanpa mengetahui proses, masalah, atau kondisi yang berada di baliknya. Akibatnya, kehidupan sendiri terlihat kurang menarik dibandingkan kehidupan yang ditampilkan di media sosial. Padahal, setiap orang memiliki kondisi, tujuan, kemampuan, dan waktu pencapaian yang berbeda.

Daripada membandingkan diri dengan orang lain, fokuslah pada perkembangan pribadi. Buat target yang realistis dan ukur keberhasilan berdasarkan kemajuan diri sendiri. Jika kemarin belum mampu melakukan sesuatu dan sekarang sudah mengalami perkembangan, hal tersebut tetap merupakan pencapaian yang layak dihargai. Pola pikir ini dapat membantu membangun rasa percaya diri sekaligus mengurangi tekanan untuk mengikuti kehidupan orang lain.

PILIH KONTEN YANG LEBIH SEHAT

Tidak semua konten media sosial memberikan dampak yang sama. Konten yang penuh dengan perbandingan, kemewahan, kontroversi, atau tren yang terus berubah dapat membuat pengguna lebih mudah merasa tertinggal. Sebaliknya, konten edukatif, inspiratif, dan sesuai dengan minat dapat memberikan pengalaman yang lebih positif. Karena itu, penting untuk melakukan kurasi terhadap akun dan konten yang muncul di linimasa.

Mulailah mengikuti akun yang memberikan informasi bermanfaat dan mendukung tujuan pribadi. Hapus atau kurangi konten yang secara konsisten memicu kecemasan dan rasa tidak cukup. Langkah tersebut bukan berarti menghindari kenyataan, tetapi menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat. Semakin selektif seseorang memilih konten, semakin besar peluang media sosial digunakan sebagai alat yang bermanfaat.

FOKUS PADA KEHIDUPAN NYATA

FOMO sering menjadi lebih kuat ketika perhatian terlalu banyak diarahkan pada aktivitas orang lain. Untuk mengatasinya, kembalikan fokus pada pengalaman yang sedang dijalani. Ketika sedang makan bersama keluarga, belajar, bekerja, atau berkumpul dengan teman, cobalah menikmati kegiatan tersebut tanpa terus memeriksa ponsel. Kehadiran secara penuh dalam aktivitas nyata dapat meningkatkan kepuasan dan mengurangi dorongan untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan orang lain.

Membangun kehidupan yang bermakna di luar media sosial juga sangat penting. Luangkan waktu untuk bertemu orang terdekat, mengembangkan keterampilan, berolahraga, menjalankan hobi, atau melakukan kegiatan sosial. Aktivitas tersebut dapat memberikan pengalaman nyata yang tidak bergantung pada jumlah likes atau komentar. Dengan memiliki rutinitas dan tujuan pribadi yang jelas, seseorang akan lebih mudah merasa puas dengan kehidupannya sendiri.

TERIMA BAHWA TIDAK SEMUA HAL HARUS DIIKUTI

Salah satu cara penting untuk mengurangi FOMO adalah menerima bahwa tidak mungkin mengikuti semua tren, acara, informasi, dan pengalaman. Setiap orang memiliki keterbatasan waktu, energi, dan sumber daya. Memaksakan diri mengikuti semuanya justru dapat menimbulkan kelelahan dan tekanan yang tidak perlu. Tidak mengetahui sebuah tren atau melewatkan suatu kegiatan bukan berarti seseorang gagal atau tertinggal dalam kehidupan.

Belajarlah menentukan prioritas berdasarkan kebutuhan dan nilai pribadi. Tanyakan kepada diri sendiri apakah sesuatu benar-benar penting atau hanya terasa penting karena sedang ramai di media sosial. Jika tidak sesuai dengan tujuan, tidak ada masalah untuk memilih tidak ikut serta. Kemampuan mengatakan tidak dapat membuat penggunaan media sosial menjadi lebih sadar dan terkendali.

LAKUKAN DIGITAL DETOX SECARA BERKALA

Digital detox dapat menjadi pilihan ketika penggunaan media sosial sudah terasa terlalu dominan. Digital detox tidak selalu berarti meninggalkan seluruh perangkat dalam waktu lama. Seseorang dapat memulainya dengan mengurangi penggunaan media sosial selama beberapa jam, menetapkan hari tertentu tanpa media sosial, atau mematikan notifikasi yang tidak penting.

Selama periode tersebut, gunakan waktu untuk melakukan kegiatan yang tidak berhubungan dengan layar. Setelah beberapa waktu, perhatikan apakah pikiran menjadi lebih tenang, tidur lebih baik, atau konsentrasi meningkat. Jika manfaatnya terasa, kebiasaan tersebut dapat diterapkan secara berkala. Jeda dari media sosial membantu seseorang menyadari bahwa kehidupan tetap berjalan meskipun tidak mengetahui setiap pembaruan dari orang lain.

BANGUN POLA PIKIR YANG LEBIH SEHAT

Mengurangi FOMO membutuhkan perubahan cara berpikir, bukan hanya mengurangi waktu penggunaan media sosial. Ingat bahwa apa yang terlihat di media sosial bukan gambaran lengkap kehidupan seseorang. Orang cenderung membagikan momen yang dianggap menarik, membahagiakan, atau membanggakan, sedangkan masalah dan kegagalan belum tentu ditampilkan. Kesadaran tersebut dapat membantu seseorang melihat konten media sosial dengan lebih realistis.

Cobalah mengganti pikiran seperti “Saya tertinggal” menjadi “Saya memiliki jalan dan prioritas sendiri”. Bersyukur atas hal-hal yang sudah dimiliki juga dapat membantu meningkatkan kepuasan terhadap kehidupan. Jika perasaan cemas, tertekan, atau tidak berharga menjadi sangat kuat dan mengganggu aktivitas sehari-hari, pertimbangkan untuk berbicara dengan orang yang dipercaya atau tenaga profesional. Meminta bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari menjaga kesejahteraan diri.

KESIMPULAN

Media sosial sebenarnya dapat memberikan banyak manfaat jika digunakan secara tepat. Pengguna dapat memperoleh informasi, membangun jaringan, mengembangkan bisnis, belajar keterampilan, dan berkomunikasi dengan orang lain. Masalah muncul ketika penggunaan media sosial berubah menjadi kebiasaan untuk terus mencari validasi atau memastikan bahwa diri tidak tertinggal. Karena itu, tujuan utama bukan menghindari media sosial sepenuhnya, tetapi menggunakannya sesuai kebutuhan dan tujuan.

Mengurangi FOMO dapat dimulai dari langkah kecil seperti membatasi waktu layar, memilih konten yang sehat, berhenti membandingkan diri, dan memberikan ruang untuk kehidupan nyata. Proses tersebut membutuhkan konsistensi karena kebiasaan digital tidak selalu berubah dalam waktu singkat. Dengan penggunaan yang lebih sadar, seseorang dapat menikmati manfaat media sosial tanpa harus terus merasa takut tertinggal dari kehidupan orang lain.

G

About the Author

Gusti Ayu Tita P

Author — STEKOM University

An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.

Continue Reading

More Articles