Kita pernah sebahagia itu.
Tertawa tanpa perlu alasan penting.
Berbagi hal remeh yang terasa spesial hanya karena dibicarakan bersamamu.
Bahkan hal sesederhana nungguin hujan reda di parkiran kantor, bisa jadi momen penuh tawa.
Dan aku pikir, kalau bisa tertawa bersama seperti ini setiap hari, kita pasti akan baik-baik saja.
Tapi aku lupa...
Bahagia bukan jaminan kita akan bertahan.
Kadang, dua orang bisa tertawa bersama, tapi tetap tak berjalan ke arah yang sama.
Kita Gagal Karena Tak Pernah Bicara Tentang Luka
Kita terlalu sibuk terlihat bahagia.
Tertawa mengalihkan semua hal yang mulai retak.
Kita saling diam ketika butuh dimengerti.
Lalu berpura-pura tak apa-apa setiap kali jarak terasa makin jauh.
Aku tahu kamu merasa lelah, tapi kamu memilih diam.
Dan aku, terlalu takut bertanya karena tidak siap mendengar jawabannya.
Lucu ya?
Kita terbiasa menghabiskan waktu bersama, tapi tidak pernah benar-benar tahu isi hati masing-masing.
Perpisahan Itu Diam-Diam Mengubah Segalanya
Sampai akhirnya kita tidak lagi bertukar kabar.
Tidak lagi tertawa seperti dulu.
Dan tahu-tahu... kita hanya jadi kenangan di ponsel satu sama lain.
Gak ada drama.
Gak ada perdebatan.
Hanya jeda panjang... yang akhirnya menjadi akhir.
Dan yang menyakitkan adalah, aku masih mengingat suara tawamu.
Suara yang dulunya bisa menyembuhkan hari burukku—sekarang hanya menyisakan hampa.
Aku Tidak Marah, Tapi Aku Terluka
Aku tidak menyalahkanmu.
Tidak juga menyalahkan diriku.
Kita hanya… tumbuh dengan cara yang tak lagi searah.
Dan walaupun aku paham bahwa segala sesuatu bisa berakhir,
kenapa harus kamu yang jadi bagian paling aku rindukan?
Setiap tawa yang dulu kita bagi, sekarang terasa seperti gema dari masa lalu.
Indah, tapi tak bisa kusentuh lagi.
Kita Pernah Tertawa, Itu Sudah Lebih dari Cukup
Kamu tidak di sini lagi. Tapi tawamu masih tersimpan rapi di ingatanku.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika aku sudah tak lagi menangisi yang pergi,
aku akan tersenyum karena ingat:
aku pernah punya seseorang… yang bisa membuatku tertawa dengan tulus, meski akhirnya pergi tanpa pamit.
Kita tertawa bersama, tapi tidak ditakdirkan untuk bersama selamanya.
Dan dari semua kehilangan yang pernah kurasa,
kamu tetap jadi kehilangan yang paling sunyi.
About the Author
Ambar Arum Putri Hapsari
Author — STEKOM University
An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.