sumber img: X Lambe Saham

 

Ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa, 1 September 2026. Jumlah santri yang terdampak sempat mengalami perubahan seiring proses pendataan dan pemeriksaan di lapangan.

Dilansir dari detikJatim, sebanyak 566 santri terdampak dalam kejadian tersebut. Dari jumlah itu, sebagian santri masih menjalani perawatan, sementara lainnya telah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik.

Gejala Muncul Beberapa Jam Setelah Makan

Dugaan keracunan bermula setelah para santri mengonsumsi menu MBG yang dibagikan di lingkungan pesantren. Menurut keterangan pengasuh pesantren, sejumlah santri mulai merasakan gangguan kesehatan beberapa jam setelah makan. Keluhan yang muncul antara lain mual, muntah, pusing dan lemas. Awalnya hanya beberapa santri yang mengalami gejala. Namun, jumlahnya kemudian bertambah sehingga para santri mulai dibawa ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan.

Dikutip dari RM.id, sejumlah santri mulai mengeluhkan gejala sekitar pukul 16.00 WIB, beberapa jam setelah menyantap makanan MBG. Keluhan yang muncul di antaranya mual, pusing, muntah, diare hingga sesak napas. Para santri yang membutuhkan penanganan medis kemudian dirujuk ke beberapa rumah sakit di wilayah Sidoarjo. Kondisi sebagian korban dilaporkan membaik setelah mendapatkan perawatan.

Menu MBG yang Dikonsumsi Santri

Menu yang disantap para santri sebelum munculnya keluhan kesehatan terdiri dari beberapa makanan. Berdasarkan laporan sejumlah media, menu tersebut meliputi

  • Nasi putih
  • Telur orak-arik
  • Tempe bumbu Bali
  • Tumis buncis dan baby corn
  • Buah apel

 

Menu tersebut didistribusikan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin. Santri di pesantren bukan satu-satunya penerima yang dilaporkan mengalami keluhan. Sejumlah lembaga pendidikan lain yang menerima makanan dari SPPG yang sama juga dilaporkan terdampak.

Hal tersebut dilansir dari detikJatim yang menyebut SPPG Kalitengah menyuplai MBG ke 19 sekolah. Selain dua sekolah yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Manbaul Hikam, distribusi juga dilakukan ke sejumlah sekolah lainnya.

Tidak Ada Korban Meninggal Dunia

Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, memastikan tidak ada korban meninggal dunia dalam kejadian tersebut. Ia menyampaikan bahwa sejumlah santri yang sebelumnya menjalani perawatan sudah mulai pulih. Sebagian diantaranya bahkan telah diperbolehkan kembali ke keluarga maupun pesantren. Rumah sakit tetap disiagakan untuk mengantisipasi apabila ada pasien yang membutuhkan penanganan lanjutan.

SPPG Kalitengah Dihentikan Sementara

Pasca kejadian tersebut, SPPG Kalitengah menjadi perhatian dan dilakukan penghentian sementara operasional untuk kepentingan pemeriksaan. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui penyebab munculnya gangguan kesehatan pada para penerima MBG. Dikutip dari detikJatim, penghentian sementara tersebut dilakukan sambil menunggu proses evaluasi dan hasil pemeriksaan laboratorium.

Pemerintah juga melakukan investigasi terhadap makanan yang dikonsumsi para santri. Sampel makanan dan berbagai aspek dalam proses penyediaan MBG menjadi bagian dari pemeriksaan untuk memastikan penyebab kejadian tersebut. Hingga proses investigasi selesai, dugaan keracunan tersebut belum dapat secara final disimpulkan disebabkan oleh satu jenis makanan tertentu. Penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan dan investigasi pihak terkait.

Kepala SPPG Kalitengah Diusulkan Dicopot

Selain menghentikan sementara operasional SPPG Kalitengah, Badan Gizi Nasional juga mengusulkan pencopotan dan pergantian Kepala SPPG Kalitengah sebagai tindak lanjut atas kasus dugaan keracunan MBG yang dialami ratusan santri. Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana, menyampaikan bahwa pihaknya mengusulkan agar Kepala SPPG tersebut dicopot dari jabatannya sekaligus digantikan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan di Jakarta pada Rabu, 2 September 2026.

Dikutip dari ANTARA, BGN juga menjatuhkan sanksi suspend berat selama 30 hari terhadap SPPG Sidoarjo Talangangin Kalitengah. Langkah tersebut dilakukan sembari investigasi terhadap penyebab keracunan terus dilakukan. Usulan pencopotan Kepala SPPG menjadi bagian dari evaluasi terhadap pengelolaan dapur MBG tersebut. BGN masih berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk mengetahui penyebab pasti kejadian dan memastikan keamanan makanan yang diproduksi serta didistribusikan.

Sementara itu, Kepala SPPG Kalitengah, Rafli Ridho, sebelumnya telah menyampaikan permintaan maaf setelah ratusan santri Ponpes Manbaul Hikam mengalami dugaan keracunan. Ia mengaku menyesal atas kejadian tersebut. Dilansir detikJatim, Rafli mengatakan proses pengolahan makanan MBG dilakukan seperti biasa. Ia juga menjelaskan bahwa makanan mulai diolah sekitar pukul 00.00 WIB dan dikirim kepada penerima sekitar pukul 11.00 WIB.

BACA JUGA: Usai 566 Santri Diduga Keracunan MBG, Kepala SPPG Dipecat dan 31 SPPG di Sidoarjo Ternyata Belum Berizin

Pemerintah Lakukan Investigasi

BGN menyatakan telah melakukan investigasi terhadap kasus yang melibatkan ratusan santri tersebut. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan sumber masalah sekaligus mencegah kejadian serupa kembali terjadi. Dikutip dari Liputan6, BGN dan Dinas Kesehatan melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab dugaan keracunan tersebut. Hasil pemeriksaan nantinya akan diumumkan kepada publik.

Kasus santri keracunan MBG di Sidoarjo menjadi perhatian karena jumlah penerima yang mengalami keluhan cukup besar. Pemerintah dan pihak terkait masih melakukan pendataan serta penanganan terhadap korban yang membutuhkan perawatan. Dengan adanya investigasi, masyarakat menunggu hasil pemeriksaan untuk mengetahui secara jelas penyebab gangguan kesehatan yang dialami para santri setelah mengkonsumsi MBG.