Semarang — Kepedulian terhadap anak-anak disabilitas dapat diwujudkan melalui berbagai cara sederhana, tidak selalu dalam bentuk acara besar atau pidato formal, melainkan juga melalui interaksi yang hangat, perhatian yang tulus, serta kesediaan untuk hadir dan mendengarkan mereka secara langsung. Hal tersebut tercermin dalam kegiatan “Industri Ramah Inklusi” yang diselenggarakan di SLB Negeri Semarang, Gedung Semeru, pada Selasa (9/6/2026).
Kegiatan ini dihadiri lebih dari 600 anak disabilitas serta melibatkan para guru SLB, mahasiswa, perwakilan perusahaan mitra, dan tamu undangan dari unsur pendidikan serta pemerintahan. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan, mencerminkan semangat inklusivitas yang terus diperkuat di dunia pendidikan.

Turut hadir Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Wilayah II Provinsi Jawa Tengah, Haris Wahyudi, S.Pd., M.Pd., yang dalam kesempatan tersebut berinteraksi langsung dengan para siswa. Beliau menyapa dengan ramah, berdialog ringan, serta memberikan perhatian yang membuat anak-anak merasa nyaman dan dihargai.
Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa pendidikan inklusif merupakan komitmen bersama untuk memastikan seluruh anak, termasuk anak-anak disabilitas, memiliki kesempatan yang sama dalam mengembangkan potensi diri. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara dunia pendidikan, dunia industri, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang ramah inklusi.

“Tugas kita bersama adalah memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam memperoleh hak pendidikan dan kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik,” ungkapnya. Beliau juga menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk membuka lebih banyak ruang pengembangan diri dan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas.
Suasana kebersamaan semakin terasa saat seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh antusias, termasuk momen makan bersama dalam rangka syukuran Idul Adha. Kegiatan ini menjadi simbol kuat bahwa perbedaan bukan penghalang untuk saling berbagi dan hidup berdampingan dalam harmoni.
Kegiatan “Industri Ramah Inklusi” ini menjadi pengingat penting bahwa inklusi bukan hanya tentang akses dan fasilitas, tetapi juga tentang penerimaan, penghargaan, dan ruang untuk setiap individu agar dapat berkembang secara setara.

Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat inklusivitas dapat terus tumbuh dan menjadi bagian dari budaya pendidikan di Indonesia. Kehadiran Haris Wahyudi, S.Pd., M.Pd. menjadi bentuk nyata dukungan terhadap penguatan pendidikan inklusif yang humanis dan berkelanjutan.
Tentang Penulis
Ellvia Varisca
Penulis — Universitas STEKOM
Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.