sumber img: Facebook WXChasing
Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Selasa, 8 September 2026 pagi. Berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG, erupsi terjadi sebanyak dua kali dengan durasi singkat.
Erupsi pertama tercatat pada pukul 05.08 WIB, kemudian disusul letusan kedua pada pukul 05.34 WIB. Kedua erupsi tersebut terekam melalui seismograf, sementara tinggi kolom erupsi tidak teramati.
Dilansir dari Detikcom, erupsi pertama Gunung Anak Krakatau pada Selasa pagi berlangsung selama sekitar 15 detik dengan amplitudo maksimum 47 milimeter. Selanjutnya, erupsi kedua terjadi sekitar 26 menit kemudian dengan durasi 10 detik dan amplitudo maksimum 44 milimeter.
Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi
PVMBG menyebut visual letusan tidak teramati. Meski berlangsung singkat, aktivitas tersebut menunjukkan bahwa dinamika vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berlangsung setelah sebelumnya mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam. Episode erupsi menerus tersebut dimulai pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Setelah episode panjang tersebut berakhir, aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali ditandai dengan erupsi strombolian yang terjadi secara berkala. Dikutip dari Badan Geologi, aktivitas erupsi menerus Gunung Anak Krakatau tersebut disertai dengan suara gemuruh. Aktivitas vulkanik kemudian kembali menunjukkan letusan secara berkala setelah fase erupsi menerus berakhir.
Status Gunung Anak Krakatau Masih Level III
Badan Geologi masih menetapkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga. Status tersebut tetap berlaku setelah evaluasi aktivitas vulkanik hingga 7 September 2026. Badan Geologi juga menilai probabilitas terjadinya letusan dalam periode berikutnya masih tinggi.
Ancaman erupsi dapat berupa lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta aliran lava apabila kembali terjadi erupsi menerus. Dikutip dari Badan Geologi, masyarakat, wisatawan, dan pendaki diminta tidak memasuki kawasan dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Imbauan tersebut diberikan sebagai langkah pencegahan terhadap potensi bahaya dari aktivitas vulkanik.
BACA JUGA: Abu Vulkanik Anak Krakatau Mulai Menjauhi Jawa dan Sumatera, BMKG Ungkap Arah Pergerakannya
Abu Vulkanik Mulai Bergerak Menjauhi Indonesia
Aktivitas Gunung Anak Krakatau dalam beberapa hari terakhir juga berdampak terhadap sebaran abu vulkanik. BMKG sebelumnya mendeteksi abu vulkanik yang menyebar hingga wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.
Dikutip dari BMKG, berdasarkan analisis citra satelit, sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau terpantau melingkupi sejumlah wilayah tersebut. BMKG juga terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas erupsi dan dampaknya terhadap atmosfer, penerbangan, serta kondisi laut di sekitar Selat Sunda.
Namun, berdasarkan analisis BMKG pada 8 September 2026 pukul 04.00 WIB, sebaran abu vulkanik diprakirakan bergerak menjauhi wilayah Indonesia. Abu terpantau bergerak ke arah selatan hingga barat daya dan mencakup wilayah Samudra Hindia di barat laut Banten. Dilansir dari Detikcom, kondisi tersebut menjadi perkembangan positif setelah sebaran abu sebelumnya mengganggu aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah.
Dampak Erupsi terhadap Penerbangan
Erupsi Gunung Anak Krakatau sebelumnya menyebabkan gangguan besar terhadap penerbangan. Sebaran abu vulkanik membuat delapan bandara sempat ditutup sementara di Pulau Jawa dan Sumatra. Pada Selasa, sejumlah bandara mulai kembali beroperasi setelah kondisi sebaran abu membaik.
Bandara Soekarno-Hatta dan empat bandara lainnya dibuka kembali setelah angin membawa abu menjauh dari wilayah sekitar bandara. Sementara itu, dua bandara masih ditutup. Dilansir dari Reuters, dampak penundaan, pengalihan, dan pembatalan penerbangan akibat penutupan bandara tersebut mencapai sekitar 341 ribu penumpang, dengan total 2.961 penerbangan terdampak.
Masyarakat Diminta Tetap Waspada
Meski sebaran abu saat ini diprakirakan bergerak menjauhi wilayah Indonesia, masyarakat tetap diminta mengikuti informasi resmi dari PVMBG, Badan Geologi, BMKG, dan pemerintah daerah. Badan Geologi juga mengingatkan masyarakat yang terdampak abu vulkanik untuk mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar guna menghindari gangguan pernapasan.
Dikutip dari Badan Geologi, masyarakat di pesisir Banten dan Lampung juga diimbau tetap tenang serta tidak mempercayai informasi yang tidak berasal dari sumber resmi mengenai potensi tsunami. Pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dilakukan dan statusnya dapat dievaluasi apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan. Dengan aktivitas vulkanik yang masih tinggi, Gunung Anak Krakatau tetap menjadi perhatian utama pada 8 September 2026. Masyarakat di sekitar Selat Sunda diharapkan terus memantau perkembangan resmi dan mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan dari pihak berwenang.