University of Science and Computer Technology
MENU NAVIGASI
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 29 views

Apa Itu Toxic Positivity dan Mengapa Bisa Berdampak Buruk pada Kesehatan Mental?

G

Gusti Ayu Tita P

29 September 2026

Bagikan:
Apa Itu Toxic Positivity dan Mengapa Bisa Berdampak Buruk pada Kesehatan Mental?

 

Setiap orang tentu ingin berpikir positif saat menghadapi berbagai tantangan hidup. Sikap optimis memang dapat membantu seseorang bangkit dari kegagalan, menghadapi tekanan, dan menjaga semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Namun, berpikir positif secara berlebihan justru dapat menimbulkan dampak yang kurang baik apabila membuat seseorang mengabaikan atau menekan emosi yang sebenarnya dirasakan. Kondisi inilah yang dikenal sebagai toxic positivity.

Belakangan ini, istilah toxic positivity semakin sering dibahas karena berkaitan erat dengan kesehatan mental. Banyak orang tanpa sadar memberikan respons seperti "tetap semangat", "jangan sedih", atau "pikirkan yang positif saja" kepada seseorang yang sedang mengalami kesulitan. Meskipun terdengar baik, respons tersebut terkadang membuat seseorang merasa tidak dipahami sehingga emosi yang dimiliki semakin terpendam. Oleh karena itu, memahami arti, penyebab, serta dampak toxic positivity menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental secara lebih seimbang.

APA ITU TOXIC POSITIVITY?

Toxic positivity adalah kondisi ketika seseorang merasa harus selalu berpikir positif dan menolak keberadaan emosi negatif dalam situasi apa pun. Padahal, sedih, marah, kecewa, takut, atau cemas merupakan bagian alami dari kehidupan yang perlu diakui dan diproses dengan sehat. Memaksakan diri untuk selalu terlihat bahagia justru dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan memahami kondisi emosinya sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, toxic positivity dapat muncul melalui ucapan maupun sikap. Contohnya adalah mengatakan "semuanya pasti baik-baik saja", "jangan menangis", atau "orang lain lebih menderita daripada kamu" kepada seseorang yang sedang mengalami masalah. Kalimat tersebut memang bertujuan memberikan semangat, tetapi jika disampaikan tanpa empati dapat membuat lawan bicara merasa bahwa perasaannya tidak dianggap penting.

PENYEBAB TOXIC POSITIVITY SERING TERJADI

Salah satu penyebab utama toxic positivity adalah anggapan bahwa emosi negatif merupakan tanda kelemahan. Banyak orang dibesarkan dengan keyakinan bahwa menangis, mengeluh, atau mengungkapkan kesedihan adalah sesuatu yang harus dihindari. Akibatnya, mereka lebih memilih menyembunyikan perasaan dibandingkan menghadapinya secara sehat.

Selain itu, media sosial juga berperan dalam membentuk budaya yang selalu menampilkan kehidupan sempurna. Unggahan mengenai kesuksesan, kebahagiaan, dan pencapaian sering kali membuat seseorang merasa harus selalu terlihat positif agar diterima oleh lingkungan. Padahal, setiap orang memiliki masalah yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.

DAMPAK TOXIC POSITIVITY TERHADAP KESEHATAN MENTAL

Dampak terbesar toxic positivity adalah emosi menjadi terpendam. Ketika seseorang terus-menerus menolak rasa sedih, marah, atau kecewa, tekanan emosional dapat semakin menumpuk. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi meningkatkan stres, kecemasan, hingga menurunkan kualitas hidup.

Selain itu, toxic positivity juga dapat membuat seseorang merasa sendirian. Mereka menjadi enggan bercerita karena takut dianggap terlalu sensitif atau kurang bersyukur. Akibatnya, hubungan sosial menjadi kurang sehat karena komunikasi yang terbuka tidak dapat terjalin dengan baik. Dukungan emosional yang sebenarnya dibutuhkan pun menjadi sulit diperoleh.

CARA MENGHINDARI TOXIC POSITIVITY

Langkah pertama untuk menghindari toxic positivity adalah mengakui semua emosi yang dirasakan. Tidak ada emosi yang sepenuhnya buruk karena setiap perasaan memiliki fungsi sebagai bentuk respons terhadap suatu keadaan. Memberikan ruang bagi diri sendiri untuk merasakan kesedihan atau kekecewaan merupakan bagian penting dari proses pemulihan.

Selain itu, biasakan memberikan empati ketika mendengarkan cerita orang lain. Daripada langsung memberikan nasihat positif, cobalah mengatakan "Aku mengerti perasaanmu", "Terima kasih sudah mau bercerita", atau "Apa yang bisa aku bantu?". Pendekatan seperti ini membuat seseorang merasa didengar dan dihargai tanpa harus menyembunyikan emosinya.

TIPS MENJAGA KESEHATAN MENTAL SECARA SEHAT

Menjaga kesehatan mental bukan berarti harus selalu bahagia setiap saat. Yang lebih penting adalah mampu menerima seluruh emosi dan mengelolanya dengan baik. Beristirahat yang cukup, menjaga pola makan, berolahraga, serta melakukan aktivitas yang disukai dapat membantu menjaga keseimbangan emosional.

Apabila tekanan yang dirasakan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional. Mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Dengan dukungan yang tepat, seseorang dapat memahami emosinya secara lebih sehat dan menjalani kehidupan dengan lebih baik.

KESIMPULAN

Toxic positivity merupakan sikap memaksakan diri atau orang lain untuk selalu berpikir positif hingga mengabaikan emosi yang sebenarnya dirasakan. Meskipun niatnya baik, kebiasaan ini dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental, mulai dari meningkatnya stres, emosi yang terpendam, hingga berkurangnya kualitas hubungan sosial. Oleh karena itu, penting bagi setiap orang untuk memahami bahwa semua emosi memiliki peran yang wajar dalam kehidupan. Dengan menerima perasaan secara sehat, membangun empati, serta tidak ragu mencari bantuan profesional ketika dibutuhkan, kesehatan mental dapat terjaga dengan lebih baik dan seimbang.

G

About the Author

Gusti Ayu Tita P

Author — STEKOM University

An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.