Bagaimana Cara Membantu Lansia Saat Evakuasi Bencana?
Gusti Ayu Tita P
19 September 2026
Bencana dapat terjadi kapan saja dan membutuhkan proses evakuasi yang cepat serta terorganisir. Dalam situasi seperti ini, lansia menjadi salah satu kelompok yang membutuhkan perhatian lebih karena mungkin memiliki keterbatasan dalam bergerak, melihat, mendengar, atau memahami situasi darurat. Kondisi tersebut membuat proses evakuasi perlu dilakukan dengan tenang, sabar, dan terencana. Pendamping juga perlu memastikan lansia tidak tertinggal dan tetap berada di tempat yang aman. Dengan persiapan yang tepat, risiko cedera dan kepanikan selama evakuasi dapat dikurangi.
MEMAHAMI KEBUTUHAN LANSIA SEBELUM EVAKUASI
Sebelum bencana terjadi, penting untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan setiap lansia yang akan dibantu. Perhatikan kemampuan berjalan, kondisi kesehatan, kebutuhan obat, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, serta alat bantu yang biasa digunakan. Informasi tersebut akan membantu keluarga atau pendamping menentukan cara evakuasi yang sesuai. Lansia yang menggunakan tongkat, alat bantu jalan, atau kursi roda juga perlu mendapatkan perhatian khusus. Data kontak keluarga dan informasi medis penting sebaiknya mudah ditemukan ketika keadaan darurat terjadi.
Persiapan juga dapat dilakukan dengan mengenalkan lansia pada jalur evakuasi dan titik kumpul yang telah ditentukan. Jika memungkinkan, lakukan latihan evakuasi secara sederhana agar lansia tidak terlalu bingung ketika keadaan darurat benar-benar terjadi. Jelaskan langkah yang harus dilakukan menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Hindari memberikan terlalu banyak instruksi sekaligus karena dapat membuat lansia semakin panik. Rencana evakuasi keluarga sebaiknya diketahui oleh seluruh anggota keluarga agar bantuan dapat diberikan dengan cepat.
MENENTUKAN JALUR EVAKUASI YANG AMAN
Jalur evakuasi untuk lansia harus mempertimbangkan kemudahan bergerak dan kondisi fisik orang yang dibantu. Pilih jalur yang memiliki permukaan relatif aman, tidak banyak hambatan, dan dapat dilalui dengan alat bantu yang digunakan lansia. Hindari jalur yang berisiko terkena bahaya lanjutan seperti runtuhan bangunan, genangan air tinggi, asap tebal, atau material longsor. Jika jalur utama tidak dapat digunakan, pendamping harus mengetahui alternatif yang sudah ditentukan sebelumnya. Petunjuk evakuasi dan arahan petugas harus menjadi acuan selama proses berlangsung.
Ketika evakuasi dimulai, jangan memaksa lansia berjalan terlalu cepat karena dapat meningkatkan risiko terjatuh. Pendamping dapat berjalan di samping atau sedikit di depan untuk membantu menjaga keseimbangan dan mengarahkan perjalanan. Berikan waktu yang cukup untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Jika kondisi lansia tidak memungkinkan untuk berjalan, gunakan alat bantu evakuasi yang sesuai atau minta bantuan petugas. Keselamatan harus menjadi prioritas dibandingkan kecepatan semata.
MEMBANTU LANSIA TETAP TENANG SAAT EVAKUASI
Kepanikan dapat membuat proses evakuasi menjadi lebih sulit, terutama bagi lansia yang mengalami kebingungan ketika menghadapi situasi tidak biasa. Pendamping sebaiknya berbicara dengan suara yang tenang dan jelas serta memberikan instruksi secara singkat. Jelaskan apa yang sedang terjadi tanpa menggunakan kata-kata yang dapat memperbesar rasa takut. Tetap berada dekat dengan lansia agar mereka merasa mendapatkan dukungan. Komunikasi yang baik dapat membantu lansia mengikuti arahan dengan lebih mudah.
Pendamping juga perlu memperhatikan kondisi fisik lansia selama perjalanan. Jika lansia terlihat kelelahan, berikan kesempatan untuk berhenti di lokasi yang benar-benar aman apabila situasi memungkinkan. Jangan meninggalkan lansia sendirian hanya karena proses evakuasi berlangsung cepat. Pastikan mereka tetap bersama keluarga atau kelompok pendamping sampai mencapai lokasi aman. Setelah sampai di titik kumpul, lakukan pengecekan kembali untuk memastikan kondisi lansia dan keberadaan anggota keluarga lainnya.
MENYIAPKAN KEBUTUHAN PENTING LANSIA
Persiapan perlengkapan khusus sangat membantu ketika lansia harus meninggalkan rumah dalam keadaan darurat. Beberapa kebutuhan yang perlu dipertimbangkan antara lain obat rutin, alat bantu jalan, kacamata, alat bantu dengar, dokumen penting, air minum, makanan yang sesuai kebutuhan, dan pakaian secukupnya. Barang-barang tersebut sebaiknya disimpan di tempat yang mudah dijangkau. Obat-obatan juga perlu diperiksa secara berkala agar tidak melewati masa penggunaan. Tas siaga bencana dapat disiapkan khusus agar kebutuhan lansia tidak tercampur dengan perlengkapan lainnya.
Selain barang, informasi mengenai kondisi lansia juga penting untuk dipersiapkan. Catat informasi yang relevan seperti obat yang biasa digunakan dan kontak keluarga yang dapat dihubungi dalam keadaan darurat. Jika lansia memiliki kebutuhan khusus, informasikan kepada petugas atau pihak yang membantu proses evakuasi. Hindari membawa terlalu banyak barang yang justru dapat memperlambat perpindahan. Fokuskan perlengkapan pada kebutuhan dasar dan keselamatan lansia.
KESIMPULAN
Membantu lansia saat evakuasi bencana membutuhkan persiapan, kesabaran, komunikasi, dan perhatian terhadap kondisi fisik. Sebelum bencana terjadi, keluarga perlu mengetahui kebutuhan lansia, menentukan jalur evakuasi, mengenali titik kumpul, serta menyiapkan perlengkapan penting. Saat evakuasi berlangsung, pendamping harus membantu lansia bergerak dengan aman tanpa memaksakan kecepatan. Arahan petugas dan informasi resmi juga perlu diikuti untuk menghindari risiko yang tidak perlu. Dengan rencana evakuasi yang matang, proses penyelamatan lansia dapat berlangsung lebih aman dan terarah.
About the Author
Gusti Ayu Tita P
Author — STEKOM University
An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.