Bagaimana Perjalanan Hanfu dari Dinasti Kuno hingga Dinasti Terakhir Tiongkok?
Gusti Ayu Tita P
15 Desember 2025
Hanfu merupakan istilah modern yang umumnya digunakan untuk merujuk pada tradisi pakaian masyarakat Han di Tiongkok. Perkembangannya berlangsung selama berabad-abad sehingga bentuk Hanfu pada satu periode tidak selalu sama dengan periode lainnya. Perubahan politik, kehidupan sosial, teknologi tekstil, selera estetika, dan interaksi antarkelompok turut memengaruhi perkembangan pakaian di Tiongkok. Karena itu, Hanfu lebih tepat dipahami sebagai kumpulan tradisi busana yang mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perjalanan tersebut dapat ditelusuri melalui berbagai dinasti, mulai dari masa awal kekaisaran hingga berakhirnya pemerintahan Dinasti Qing pada awal abad ke-20.
AWAL PERKEMBANGAN BUSANA TIONGKOK KUNO
Tradisi pakaian di Tiongkok sudah berkembang jauh sebelum munculnya dinasti kekaisaran. Masyarakat pada masa awal menggunakan berbagai bahan seperti rami dan sutra, dengan bentuk pakaian yang menyesuaikan kebutuhan dan kondisi sosial. Seiring berkembangnya teknologi tekstil, masyarakat mulai menghasilkan kain dengan kualitas, pola, dan warna yang semakin beragam. Pakaian juga tidak hanya berfungsi untuk melindungi tubuh, tetapi berkembang menjadi bagian dari aturan sosial dan budaya. Perkembangan awal inilah yang menjadi dasar bagi berbagai tradisi busana pada masa dinasti berikutnya.
HANFU PADA DINASTI YUAN
Dinasti Yuan didirikan oleh bangsa Mongol setelah penaklukan wilayah Tiongkok dan menjadi bagian dari Kekaisaran Mongol. Pergantian pemerintahan membawa lingkungan sosial yang semakin beragam karena masyarakat Han hidup berdampingan dengan kelompok Mongol dan kelompok lainnya. Tradisi pakaian Han berinteraksi dengan busana masyarakat stepa, terutama dalam konteks kehidupan militer, berkuda, dan aktivitas luar ruangan. Pakaian yang berkembang pada masa Yuan menunjukkan adanya perpaduan serta perbedaan antara berbagai kelompok masyarakat. Periode ini menjadi contoh bahwa perubahan politik dapat memberikan pengaruh terhadap perkembangan gaya busana.
HANFU PADA DINASTI MING
Dinasti Ming berdiri pada abad ke-14 setelah runtuhnya Dinasti Yuan dan dipimpin oleh penguasa dari masyarakat Han. Pemerintahan Ming mengembangkan berbagai aturan mengenai pakaian berdasarkan status, jabatan, dan fungsi penggunaannya. Jubah, atasan, bawahan, rok, serta aksesori memiliki banyak variasi dan digunakan dalam konteks yang berbeda. Busana pada masa Ming kemudian menjadi salah satu referensi penting dalam gerakan kebangkitan Hanfu pada era modern. Namun, Hanfu Ming juga terdiri atas beragam gaya sehingga tidak dapat diwakili hanya oleh satu model pakaian.
HANFU DAN PERUBAHAN PADA DINASTI QING
Dinasti Qing didirikan oleh bangsa Manchu dan menjadi dinasti kekaisaran terakhir Tiongkok. Setelah Qing berkuasa, sistem pakaian resmi mengalami perubahan dan pemerintah memperkenalkan aturan berpakaian yang berkaitan dengan identitas Manchu. Pakaian seperti changshan dan berbagai busana berkaitan dengan tradisi berkuda menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pada masa tersebut. Di sisi lain, masyarakat Han tetap mempertahankan beragam kebiasaan berpakaian dalam kehidupan sehari-hari, meskipun berada dalam lingkungan politik Qing. Karena itu, sejarah busana pada masa Qing memperlihatkan interaksi kompleks antara tradisi Manchu, Han, dan kelompok masyarakat lainnya.
BERAKHIRNYA DINASTI QING DAN PERUBAHAN BUSANA
Dinasti Qing berakhir pada 1912 setelah Revolusi Xinhai dan berdirinya Republik Tiongkok. Perubahan politik tersebut membawa perubahan besar dalam cara masyarakat memandang pakaian, modernitas, dan identitas. Pakaian bergaya Barat semakin dikenal, khususnya di lingkungan perkotaan, sementara pakaian tradisional mulai memiliki fungsi yang berbeda dibandingkan masa kekaisaran. Pada abad ke-20 kemudian berkembang berbagai bentuk busana modern Tiongkok, termasuk qipao yang memiliki sejarah perkembangan tersendiri. Perubahan tersebut menandai peralihan dari tradisi busana kekaisaran menuju masyarakat modern.
KEBANGKITAN HANFU DI ERA MODERN
Meskipun penggunaan pakaian tradisional sempat berkurang dalam kehidupan sehari-hari, minat terhadap Hanfu kembali meningkat pada era kontemporer. Generasi muda, komunitas budaya, media sosial, fotografi, festival, dan industri kreatif berperan dalam memperkenalkan kembali berbagai gaya busana yang terinspirasi dari sejarah. Hanfu modern tidak selalu merupakan rekonstruksi pakaian sejarah yang sepenuhnya akurat karena sebagian desain dibuat dengan penyesuaian terhadap kebutuhan masa kini. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tradisi budaya dapat memperoleh bentuk baru tanpa harus berhenti berkembang. Pada saat yang sama, pemahaman terhadap sejarah tetap penting agar penggunaan Hanfu tidak terlepas dari konteks budaya yang melatarbelakanginya.
KESIMPULAN
Perjalanan Hanfu dari masa kuno hingga Dinasti Qing menunjukkan bahwa busana Tiongkok terus mengalami perubahan mengikuti perkembangan sejarah dan masyarakat. Dinasti Qin dan Han menjadi bagian penting dalam pembentukan tradisi kekaisaran, sedangkan periode Sui, Tang, Song, Yuan, dan Ming memperlihatkan perkembangan gaya yang berbeda-beda. Pada Dinasti Qing, tradisi pakaian Han berinteraksi dengan sistem busana Manchu hingga akhirnya kekaisaran Tiongkok berakhir pada 1912. Setelah itu, modernisasi mengubah cara masyarakat menggunakan dan memaknai pakaian tradisional. Kini, Hanfu kembali mendapatkan perhatian sebagai bagian dari warisan budaya, sekaligus mengalami reinterpretasi melalui kehidupan dan budaya populer modern.
About the Author
Gusti Ayu Tita P
Author — STEKOM University
An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.