University of Science and Computer Technology
MENU NAVIGASI
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 34 views

Pengaruh Tren Flexing Media Sosial terhadap Gaya Hidup Mahasiswa

G

Gusti Ayu Tita P

12 Agustus 2026

Bagikan:
Pengaruh Tren Flexing Media Sosial terhadap Gaya Hidup Mahasiswa

Perkembangan media sosial telah mengubah cara mahasiswa memperoleh informasi, berkomunikasi, membangun relasi, dan menampilkan kehidupan sehari-hari. Berbagai unggahan mengenai pencapaian, barang yang dimiliki, perjalanan, tempat makan, hingga aktivitas tertentu dapat dengan mudah dilihat oleh banyak orang dalam waktu singkat. Salah satu fenomena yang semakin sering ditemukan adalah flexing di media sosial, yaitu kebiasaan menunjukkan kepemilikan, pencapaian, atau gaya hidup tertentu kepada publik. Meskipun tidak semua bentuk flexing dilakukan dengan tujuan negatif, paparan terhadap konten semacam ini secara terus-menerus dapat memengaruhi cara mahasiswa menilai kesuksesan, menentukan kebutuhan, serta memandang kehidupan orang lain.

Mahasiswa berada pada fase kehidupan ketika proses membangun identitas, menentukan prioritas, dan belajar mengelola keuangan berlangsung secara bersamaan. Karena itu, tren flexing dapat memberikan pengaruh tertentu terhadap kebiasaan dan keputusan sehari-hari, terutama ketika unggahan media sosial dijadikan sebagai tolok ukur kehidupan yang ideal. Keinginan untuk mengikuti tren dapat mendorong perubahan gaya hidup, meningkatkan kebiasaan membandingkan diri, menimbulkan tekanan untuk terlihat berhasil, hingga memicu pengeluaran yang tidak sesuai kebutuhan. Memahami dampak tersebut penting agar mahasiswa dapat menggunakan media sosial secara lebih bijak, mempertahankan kondisi keuangan yang sehat, serta menentukan ukuran keberhasilan berdasarkan tujuan dan kemampuan pribadi.

 

DAMPAK TREN FLEXING TERHADAP KEHIDUPAN MAHASISWA

  1. Mengubah Cara Memandang Gaya Hidup

    Konten media sosial dapat memperkenalkan mahasiswa pada berbagai bentuk gaya hidup yang sebelumnya mungkin tidak menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Unggahan mengenai barang bermerek, tempat makan populer, perjalanan, perangkat elektronik, atau aktivitas dengan biaya tinggi dapat terlihat sebagai sesuatu yang menarik dan ideal. Paparan yang berulang dapat membuat sebagian mahasiswa mulai menganggap gaya hidup tersebut sebagai standar yang perlu diikuti agar tidak merasa tertinggal dari lingkungan pergaulan.

    Perubahan cara pandang terhadap gaya hidup sebenarnya tidak selalu bermasalah apabila dilakukan sesuai kemampuan. Persoalan muncul ketika keputusan konsumsi lebih banyak dipengaruhi oleh keinginan untuk terlihat mengikuti tren daripada kebutuhan yang sebenarnya. Mahasiswa perlu memahami bahwa gaya hidup setiap orang dibentuk oleh kondisi ekonomi, prioritas, tujuan, dan lingkungan yang berbeda sehingga tidak tepat jika kehidupan pribadi diukur berdasarkan apa yang ditampilkan orang lain di media sosial.

  2. Memperkuat Kebiasaan Membandingkan Diri

    Media sosial membuat mahasiswa dapat melihat pencapaian orang lain hampir setiap saat. Konten flexing dapat membuat seseorang membandingkan kondisi pendidikan, penampilan, barang yang dimiliki, pengalaman perjalanan, hingga kehidupan sosialnya dengan orang lain. Perbandingan seperti ini sering kali tidak menggambarkan keadaan secara utuh karena pengguna media sosial biasanya hanya menampilkan bagian kehidupan yang dianggap menarik atau layak dibagikan.

    Jika kebiasaan membandingkan diri berlangsung terus-menerus, mahasiswa dapat merasa bahwa pencapaiannya belum cukup meskipun sebenarnya telah mengalami perkembangan. Perasaan tertinggal tersebut dapat mengurangi penghargaan terhadap proses pribadi. Karena itu, mahasiswa perlu menyadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Fokus terhadap perkembangan diri, kemampuan yang sedang dibangun, serta tujuan jangka panjang akan lebih bermanfaat daripada terus mengejar pencapaian yang terlihat pada akun orang lain.

  3. Meningkatkan Tekanan untuk Terlihat Berhasil

    Tren flexing dapat membentuk anggapan bahwa keberhasilan harus ditunjukkan melalui penampilan, barang, pengalaman, atau aktivitas tertentu. Mahasiswa yang sering melihat konten semacam ini dapat merasa perlu menampilkan kehidupan yang terlihat menarik agar memperoleh perhatian dan pengakuan dari lingkungan. Tekanan tersebut dapat membuat keputusan sehari-hari lebih berorientasi pada bagaimana sesuatu terlihat di media sosial daripada manfaat yang sebenarnya diperoleh.

    Keinginan untuk mendapatkan pengakuan juga dapat memengaruhi cara mahasiswa menggunakan waktu dan uang. Seseorang mungkin memilih suatu kegiatan karena dianggap menarik untuk dibagikan, bukan karena benar-benar membutuhkannya. Kesadaran terhadap dorongan tersebut penting agar mahasiswa dapat menentukan keputusan berdasarkan tujuan pribadi. Keberhasilan seharusnya tidak hanya diukur dari penampilan di ruang digital, tetapi juga dari proses belajar, kemampuan, karakter, dan pencapaian yang memiliki manfaat nyata.

  4. Mendorong Kebiasaan Belanja Berlebihan

    Paparan terhadap gaya hidup tertentu dapat meningkatkan dorongan untuk membeli barang atau menggunakan jasa yang sedang populer. Mahasiswa mungkin merasa perlu memiliki produk tertentu karena sering melihatnya dalam unggahan orang lain. Apabila keputusan tersebut dilakukan berulang kali tanpa mempertimbangkan kemampuan keuangan, pengeluaran dapat meningkat dan mengurangi dana yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan pendidikan, transportasi, makanan, tabungan, atau keperluan lainnya.

    Kebiasaan konsumtif juga dapat muncul ketika pembelian dilakukan untuk mendapatkan kepuasan sesaat atau pengakuan sosial. Mahasiswa perlu membedakan kebutuhan dan keinginan sebelum melakukan transaksi. Membuat anggaran, menetapkan batas pengeluaran, dan menunda pembelian yang tidak mendesak dapat membantu mengurangi keputusan impulsif. Dengan pengelolaan keuangan yang baik, mahasiswa tetap dapat menikmati gaya hidup yang sesuai tanpa mengorbankan kebutuhan utama.

  5. Menggeser Prioritas Kehidupan Sehari Hari

    Ketika perhatian terlalu banyak diberikan pada tren dan penampilan di media sosial, prioritas mahasiswa dapat mengalami perubahan. Waktu dan energi yang seharusnya digunakan untuk belajar, mengembangkan keterampilan, membangun pengalaman, atau beristirahat dapat terserap untuk mengikuti berbagai aktivitas yang dianggap penting karena sedang populer. Kondisi tersebut dapat membuat mahasiswa lebih berorientasi pada pencitraan daripada pengembangan diri yang memberikan manfaat jangka panjang.

    Mahasiswa perlu menentukan kembali aktivitas yang benar-benar mendukung tujuan hidup dan pendidikan. Media sosial dapat tetap digunakan sebagai sarana hiburan, komunikasi, dan informasi, tetapi penggunaannya sebaiknya tidak mengambil alih prioritas utama. Menetapkan tujuan akademik, karier, keuangan, dan pengembangan diri dapat membantu mahasiswa membuat keputusan yang lebih terarah ketika menghadapi berbagai tren di lingkungan digital.

 

STRATEGI MENYIKAPI TREN FLEXING SECARA BIJAK

  1. Meningkatkan Kesadaran Saat Menggunakan Media Sosial

    Langkah pertama yang dapat dilakukan mahasiswa adalah menyadari bahwa media sosial hanya memperlihatkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Unggahan biasanya dipilih dan disusun agar terlihat menarik sehingga tidak dapat dijadikan gambaran lengkap mengenai kondisi ekonomi, kehidupan pribadi, maupun perjalanan seseorang. Memahami hal tersebut dapat membantu mahasiswa mengurangi kecenderungan menganggap kehidupan yang terlihat di media sosial sebagai kondisi yang sepenuhnya nyata.

    Mahasiswa juga dapat mengatur waktu penggunaan media sosial dan memilih jenis konten yang lebih bermanfaat. Jika terdapat akun atau konten yang terus menimbulkan tekanan untuk membandingkan diri, mahasiswa dapat mengurangi paparan terhadap konten tersebut. Penggunaan media sosial yang lebih sadar akan membantu menciptakan ruang digital yang mendukung perkembangan diri daripada sekadar mendorong keinginan mengikuti tren.

  2. Menentukan Gaya Hidup Sesuai Kemampuan

    Gaya hidup yang sehat bagi mahasiswa adalah gaya hidup yang sesuai dengan kondisi dan tujuan masing-masing. Tidak ada keharusan untuk mengikuti seluruh tren yang sedang populer apabila hal tersebut tidak sesuai dengan kemampuan. Mahasiswa dapat menikmati aktivitas sosial dan hiburan selama pengeluaran tetap berada dalam batas yang telah ditentukan. Prinsip tersebut membantu mahasiswa menghindari tekanan untuk terlihat memiliki kehidupan yang sama dengan orang lain.

    Menyesuaikan gaya hidup dengan kemampuan juga berarti berani mengatakan tidak terhadap pengeluaran yang tidak diperlukan. Keputusan untuk hidup lebih sederhana bukan berarti gagal mengikuti perkembangan zaman. Justru kemampuan menentukan batas dapat menunjukkan kedewasaan dalam mengelola keuangan dan prioritas. Mahasiswa yang mampu mengendalikan keinginan akan memiliki ruang lebih besar untuk mengalokasikan sumber daya pada pendidikan, keterampilan, pengalaman, dan rencana masa depan.

  3. Membuat Prioritas Keuangan yang Jelas

    Pengelolaan keuangan menjadi semakin penting ketika mahasiswa menghadapi banyak tawaran konsumsi melalui media sosial. Sebelum membeli sesuatu, mahasiswa dapat mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan, apakah tersedia dana yang cukup, dan apakah pembelian tersebut mengganggu kebutuhan lain. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu membedakan keputusan berdasarkan kebutuhan dari keputusan yang muncul karena dorongan mengikuti tren.

    Mahasiswa juga dapat membuat daftar kebutuhan rutin dan menetapkan batas pengeluaran untuk hiburan atau kegiatan sosial. Jika memungkinkan, sebagian dana dapat disisihkan untuk tabungan dan kebutuhan pendidikan. Dengan adanya perencanaan, mahasiswa dapat menggunakan uang secara lebih bertanggung jawab. Kondisi keuangan yang teratur juga membuat seseorang lebih bebas menentukan pilihan tanpa harus mengejar pengakuan melalui barang atau gaya hidup tertentu.

  4. Menghargai Pencapaian dan Proses Pribadi

    Setiap mahasiswa memiliki ukuran keberhasilan yang berbeda. Ada yang sedang berusaha meningkatkan nilai akademik, membangun keterampilan, menyelesaikan organisasi, mencari pengalaman kerja, atau mempersiapkan karier. Pencapaian tersebut tidak selalu terlihat menarik di media sosial, tetapi tetap memiliki nilai penting dalam perjalanan pribadi. Menghargai proses sendiri dapat mengurangi kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan melalui tampilan kehidupan yang berlebihan.

    Mahasiswa dapat membangun kebiasaan mengevaluasi perkembangan diri secara berkala. Bandingkan kemampuan saat ini dengan kondisi sebelumnya, bukan hanya dengan pencapaian orang lain. Cara tersebut membantu mahasiswa melihat kemajuan yang mungkin tidak terlihat dalam unggahan media sosial. Ketika fokus berpindah dari pengakuan eksternal menuju perkembangan diri, penggunaan media sosial dapat menjadi lebih sehat dan tidak terlalu memengaruhi keputusan pribadi.

  5. Menggunakan Media Sosial untuk Hal yang Produktif

    Media sosial tidak hanya digunakan untuk mengikuti gaya hidup atau melihat pencapaian orang lain. Mahasiswa dapat memanfaatkannya untuk memperoleh informasi pendidikan, mengikuti perkembangan bidang yang diminati, menemukan peluang kegiatan, membangun jaringan profesional, serta memperkenalkan karya dan kemampuan. Dengan penggunaan yang tepat, media sosial dapat menjadi sarana pengembangan diri yang memberikan manfaat jangka panjang.

    Mahasiswa juga dapat mengikuti akun yang memberikan pengetahuan, inspirasi, dan informasi yang relevan dengan tujuan pendidikan atau karier. Membagikan pencapaian pribadi tetap dapat dilakukan selama didasarkan pada kebutuhan untuk berbagi pengalaman, bukan semata-mata mencari pengakuan. Dengan membangun kebiasaan menggunakan media sosial secara produktif, mahasiswa dapat tetap menikmati ruang digital tanpa harus menjadikan tren flexing sebagai standar kehidupan.

 

KESIMPULAN

Tren flexing di media sosial dapat memberikan pengaruh terhadap kehidupan mahasiswa, terutama dalam cara memandang gaya hidup, membandingkan diri, menilai keberhasilan, serta menentukan keputusan konsumsi. Paparan terhadap konten yang menampilkan barang mahal, pengalaman tertentu, atau pencapaian yang terlihat menarik dapat membuat sebagian mahasiswa merasa perlu mengikuti standar tersebut. Jika tidak disikapi secara kritis, kondisi ini berpotensi mendorong perubahan gaya hidup yang tidak sesuai kemampuan dan meningkatkan kebiasaan konsumtif.

Mahasiswa perlu memahami bahwa apa yang terlihat di media sosial bukanlah gambaran lengkap mengenai kehidupan seseorang. Setiap individu memiliki kondisi ekonomi, tujuan, prioritas, dan perjalanan yang berbeda. Karena itu, pencapaian orang lain sebaiknya dijadikan inspirasi jika memang memberikan manfaat, bukan sebagai ukuran untuk menentukan nilai diri. Menghargai proses pribadi dapat membantu mahasiswa membangun kepercayaan diri tanpa harus terus mengejar pengakuan melalui barang atau gaya hidup.

Pada akhirnya, penggunaan media sosial yang sehat membutuhkan kesadaran, kemampuan mengelola keuangan, dan ketegasan dalam menentukan prioritas. Mahasiswa tetap dapat menikmati berbagai tren selama keputusan yang diambil sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Mengalokasikan waktu dan uang untuk pendidikan, pengembangan keterampilan, pengalaman, kesehatan, hubungan sosial, serta rencana masa depan akan memberikan manfaat yang lebih berkelanjutan. Kesuksesan tidak semata-mata ditentukan oleh apa yang dapat ditampilkan kepada publik, tetapi juga oleh kemampuan seseorang berkembang, mencapai tujuan, dan menjalani kehidupan secara bertanggung jawab.

G

About the Author

Gusti Ayu Tita P

Author — STEKOM University

An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.