Antonio Rattinsalah satu legenda terbesar sepak bola Argentina, meninggal dunia pada Sabtu (11/7) dalam usia 89 tahun. Kabar duka tersebut disampaikan oleh Boca Juniors, klub yang menjadi rumahnya sepanjang karier sebagai pemain. Kepergian Rattin meninggalkan duka mendalam bagi dunia sepak bola karena ia dikenal sebagai sosok yang tidak hanya berprestasi di lapangan, tetapi juga meninggalkan warisan penting bagi perkembangan aturan permainan sepak bola modern.

Klub Boca Juniors menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan orang-orang terdekat Rattin. Dalam pernyataannya, klub menyebut Rattin sebagai ikon dan simbol Boca Juniors yang telah memberikan dedikasi luar biasa selama bertahun-tahun.

Karier Gemilang Bersama Boca Juniors

Antonio Rattin menghabiskan seluruh karier profesionalnya bersama Boca Juniors pada periode 1956 hingga 1970. Selama kurang lebih 14 tahun membela klub asal Buenos Aires tersebut, ia tampil dalam 382 pertandingan dan mencetak 28 gol.

Sebagai gelandang bertahan, Rattin dikenal memiliki kepemimpinan kuat, permainan disiplin, dan kemampuan membaca pertandingan dengan sangat baik. Bersama Boca Juniors, ia berhasil mempersembahkan empat gelar liga Argentina serta membawa tim mencapai final Copa Libertadores pada tahun 1963. Kesetiaannya kepada satu klub menjadikan Rattin sebagai salah satu figur paling dihormati dalam sejarah Boca Juniors.

Pilar Tim Nasional Argentina

Di level internasional, Rattin memperkuat Tim Nasional Argentina sepanjang 1959 hingga 1969. Ia tampil pada Piala Dunia 1962 di Chile dan Piala Dunia 1966 di Inggris. Pada Piala Dunia 1966, Rattin dipercaya sebagai kapten ArgentinaKepemimpinannya di lapangan menjadikannya salah satu pemain paling disegani pada masanya. Meski tidak berhasil membawa Argentina menjadi juara dunia, kontribusinya tetap dikenang sebagai bagian penting dalam sejarah sepak bola negara tersebut.

BACA JUGA: Komedian Temon Meninggal Dunia, Tinggalkan Duka bagi Dunia Hiburan Indonesia

Insiden Kontroversial yang Mengubah Sepak Bola Dunia

Nama Antonio Rattin tidak hanya dikenang karena prestasinya, tetapi juga karena sebuah insiden kontroversial pada perempat final Piala Dunia 1966 saat Argentina menghadapi Inggris di Wembley Stadium. Dalam pertandingan tersebut, Rattin mendapat kartu keluar dari wasit asal JermanRudolf Kreitlein. Saat itu belum terdapat sistem kartu kuning dan kartu merah, sehingga keputusan wasit hanya disampaikan secara lisan. Rattin mengaku tidak memahami keputusan tersebut karena kendala bahasa dan menolak langsung meninggalkan lapangan.

Aksi protesnya pun menjadi sorotan dunia, sebelum keluar lapangan ia sempat merusak bendera sudut lapangan dengan meremas bendera Inggris dan duduk di karpet merah yang disiapkan untuk Ratu Elizabeth II sebagai bentuk protes. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu pemicu FIFA mengevaluasi sistem komunikasi antara wasit dan pemain dari berbagai negara. Beberapa tahun setelahnya, FIFA memperkenalkan sistem kartu kuning dan kartu merah pada Piala Dunia 1970, sehingga keputusan wasit dapat dipahami secara universal oleh seluruh pemain tanpa hambatan bahasa.

Pengabdian Setelah Pensiun

Setelah gantung sepatu, Antonio Rattin masih aktif di dunia sepak bolaIa sempat menjadi pelatih Boca Juniors pada tahun 1980 sebelum berkiprah di dunia politik sebagai anggota parlemen Argentina. Meski menjalani berbagai peran setelah pensiun, namanya tetap paling identik dengan Boca Juniors dan Tim Nasional Argentina. Dalam salah satu wawancara terakhirnya, Rattin pernah menyampaikan bahwa sepanjang hidupnya ia hanya mengenakan dua seragam dengan penuh kebanggaan, yaitu Boca Juniors dan Tim Nasional Argentina.

Timnas Argentina Berduka Jelang Lawan Inggris di Semifinal Piala Dunia 2026

Kepergian Antonio Rattin terjadi di tengah perjalanan Timnas Argentina pada Piala Dunia 2026. Kabar duka tersebut datang hanya beberapa hari sebelum La Albiceleste menghadapi Inggris pada babak semifinal, sebuah laga yang kembali mempertemukan dua negara dengan rivalitas panjang dalam sejarah sepak bola. Suasana berkabung turut dirasakan para pemain Argentina. Saat menghadapi Swiss pada perempat final, skuad asuhan Lionel Scaloni mengenakan ban lengan hitam sebagai bentuk penghormatan kepada mantan kapten mereka. Penggunaan ban lengan hitam itu telah mendapat persetujuan FIFA setelah adanya permohonan dari Federasi Sepak Bola Argentina (AFA).

Laga semifinal melawan Inggris pun dipenuhi nilai emosional. Rattin merupakan sosok sentral dalam perempat final Piala Dunia 1966 antara Argentina dan Inggris, pertandingan yang dikenang karena kontroversi kartu keluar yang diterimanya. Insiden tersebut kemudian menjadi salah satu alasan FIFA memperkenalkan kartu kuning dan kartu merah pada Piala Dunia 1970 agar keputusan wasit lebih mudah dipahami pemain dari berbagai negara. Kini, enam dekade setelah peristiwa tersebut, Argentina kembali bertemu Inggris di panggung Piala Dunia. Pertandingan semifinal ini dipandang bukan sekadar perebutan tiket menuju final, tetapi juga menjadi momen penghormatan bagi Antonio Rattin, salah satu tokoh yang ikut membentuk sejarah rivalitas kedua negara di lapangan hijau.

Warisan yang Akan Terus Dikenang

Kepergian Antonio Rattin menjadi kehilangan besar bagi sepak bola Argentina. Ia dikenang bukan hanya sebagai gelandang bertahan yang tangguh, tetapi juga sebagai sosok yang secara tidak langsung ikut membentuk aturan sepak bola modern. Kepergian Antonio Rattin menutup perjalanan salah satu pemain paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola Argentina. Namun, kontribusi dan kisahnya akan terus dikenang sebagai bagian penting dari perjalanan olahraga paling populer di dunia.