Pada awal September 2025, Bali kembali diterjang banjir hebat setelah hujan deras melanda sejak Senin malam, 8 September, hingga Rabu dini hari, 10 September. Intensitas hujan tinggi menyebabkan daerah-daerah seperti Denpasar, Badung, Tabanan, Jembrana, hingga Karangasem dan Buleleng tergenang air, melumpuhkan transportasi dan memaksa evakuasi massal.
Penyebab Banjir
Beberapa faktor utama yang menjadi pemicu adalah:
- Curah hujan ekstrem yang terjadi secara terus-menerus sejak 8 September.
- Sistem drainase yang tidak memadai dan saluran air tersumbat sampah, menghambat aliran air saat hujan deras datang.
- Dampak pembangunan masif yang mengganggu daya serap tanah; banyak area berubah dari tanah terbuka menjadi permukiman atau jalan, memperparah risiko banjir.
- Melimpahnya debit sungai dan saluran pembuangan yang tak mampu menampung air sebanyak itu, menyebabkan genangan sulit surut.
Dampak Nyata Banjir
Dampak dari bencana ini sangat terasa dan menyita perhatian publik Bali:
- Di Denpasar, terdapat sekitar 43 titik banjir, rumah hingga lantai dua terendam, evakuasi sedang berjalan.
- Jalan hidup lumpuh; genangan air setinggi paha hingga pinggang orang dewasa, ada bangunan hingga tiga lantai yang ambruk.
- Warga dan pemilik indekos panik saat hujan deras terjadi di malam hari; barang elektronik dan pribadi banyak yang rusak atau hilang (sepatu, helm, motor terendam).
- Di Pasar Kumbasari, ratusan pedagang terdampak karena pembuangan air terhambat debit tinggi.
- Di Jembrana, jalan Denpasar–Gilimanuk lumpuh total sepanjang 2 km, kendaraan tak bisa melintas.
- Di Tabanan, puluhan keluarga terdampak banjir; sebagian mengungsi, sebagian bertahan, tetapi evakuasi cepat sudah dilakukan oleh TRC dan BPBD.
Respons dan Penanganan
BPBD dan instansi terkait segera bertindak:
- Evakuasi ribuan warga dilakukan sepanjang malam hingga pagi.
- Dinas PUPR Denpasar merespons aduan masyarakat, langsung melakukan penanganan saluran air dan pengendalian genangan.
- Petugas SATLANTAS dan Polres Jembrana memantau dan mengimbau warga agar tidak memaksa melintasi jalan terendam.
- Di level provinsi dan kabupaten, operasi TRC dan koordinasi desa intensif, serta himbauan waspada banjir susulan melalui BPBD dan BMKG terus digaungkan.
Langkah Pencegahan ke Depan
Secara lebih luas, strategi mitigasi bencana dan kesiapsiagaan sangat penting untuk mengurangi risiko berulang:
- Perbaikan sistem drainase dan saluran air untuk memastikan kuantitas air hujan dapat ditampung dan dialirkan dengan efektif.
- Pengawasan pembangunan permukiman dan area impervious, serta peningkatan ruang resapan air seperti sumur, taman terbuka, dan penghijauan.
- Sosialisasi komunitas agar aktif melaporkan banjir atau penyumbatan saluran, serta mengikuti update cuaca dan peringatan dini dari BMKG dan BPBD.
- Kolaborasi pemerintah dan komunitas dalam perencanaan mitigasi, termasuk pemetaan rawan banjir berdasar data seperti Kajian Risiko Bencana Nasional.
Dari fakta-fakta tersebut, dapat disimpulkan bahwa banjir di Bali pada awal September 2025 merupakan akibat kombinasi cuaca ekstrem, infrastruktur buruk, dan tekanan pembangunan yang menyebabkan kerusakan signifikan di berbagai wilayah. Namun, respon cepat dari BPBD, dinas terkait, dan warga menunjukkan upaya kolaboratif yang menjadi contoh dalam menghadapi bencana. Ke depan, mitigasi berbasis data, pemulihan infrastruktur, dan kesadaran masyarakat menjadi kunci agar Bali bisa lebih tangguh menghadapi tantangan serupa.