Shin Tae-yong akhirnya angkat bicara setelah dijatuhi sanksi disiplin oleh Komite Disiplin Federasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA). Mantan pelatih Timnas Indonesia itu dikenai larangan beraktivitas di seluruh kompetisi dan kegiatan sepak bola yang berada di bawah kewenangan KFA selama 10 tahun setelah dinilai melakukan tindakan yang melanggar kode etik dan disiplin.

Dilansir dari Channel A melalui VIVA, keputusan tersebut diumumkan pada Kamis, 23 Juli 2026, setelah Komite Disiplin KFA menyelesaikan pemeriksaan terhadap insiden yang terjadi pada 19 Juli 2026. Putusan itu langsung menjadi sorotan publik karena hukuman yang dijatuhkan tergolong berat bagi pelatih yang memiliki rekam jejak panjang di dunia sepak bola Asia.

Kronologi Insiden

Kasus yang menyeret nama Shin Tae-yong bermula dari beredarnya sebuah video yang direkam saat ia memimpin Ulsan HD beberapa waktu setelah ditunjuk sebagai pelatih kepala klub tersebut. Dilansir dari Vietnam.vn yang mengutip pemberitaan media Korea Selatan, video tersebut memperlihatkan Shin Tae-yong melakukan kontak fisik dengan bek tengah Jung Seung-hyun, yang juga merupakan pemain Tim Nasional Korea Selatan.

Rekaman itu dengan cepat menyebar di media sosial dan memicu perdebatan di kalangan penggemar sepak bola. Sebagian pihak menilai tindakan tersebut tidak mencerminkan sikap profesional seorang pelatih, sementara sebagian lainnya beranggapan bahwa kejadian itu merupakan bentuk keakraban yang disalahartikan.

Dikutip dari VIVA yang mengutip Channel A, kontroversi tersebut menjadi salah satu dasar pemeriksaan oleh Komite Disiplin Federasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA). Setelah melakukan penelaahan terhadap rekaman video dan meminta keterangan dari sejumlah pihak, KFA memutuskan menjatuhkan larangan beraktivitas selama 10 tahun di seluruh kompetisi dan kegiatan sepak bola yang berada di bawah kewenangannya karena menilai tindakan Shin Tae-yong melanggar kode etik dan disiplin.

Di sisi lain, Shin Tae-yong membantah bahwa dirinya melakukan tindakan kekerasan. Ia menjelaskan bahwa sentuhan terhadap Jung Seung-hyun dilakukan sebagai bentuk sapaan kepada mantan anak asuhnya dan tidak dimaksudkan untuk menyakiti. Namun, penjelasan tersebut tetap memunculkan perbedaan pandangan di kalangan publik dan pengamat sepak bola.

Perselisihan dengan Sejumlah Pemain dan Isu Profesionalisme

Selain insiden yang menjadi perhatian publik, dikutip dari KBS dan dirangkum oleh detikSport, Shin Tae-yong juga dikabarkan mengalami ketegangan dengan sejumlah pemain senior Ulsan HD selama menangani klub tersebut. Shin mengakui bahwa ada beberapa pemain yang tidak lagi menjalin komunikasi dengan baik dengannya. Menurutnya, kondisi itu dipicu oleh kebijakan memberikan lebih banyak kesempatan bermain kepada pemain muda sesuai kebutuhan tim, sehingga membuat sebagian pemain senior merasa tidak puas.

Di tengah situasi tersebut, muncul pula isu yang menyoroti profesionalisme Shin Tae-yong. Dilansir dari Vietnam.vn dan dirangkum tvOneNews, sebuah foto yang memperlihatkan tas golf milik Shin berada di dalam bus tim Ulsan HD saat menjalani laga tandang sempat viral di media sosial. Foto tersebut memunculkan tudingan bahwa Shin bermain golf di luar jadwal tim sehingga dianggap kurang fokus menjalankan tugas sebagai pelatih. Isu itu kemudian menjadi salah satu kontroversi yang memperburuk situasi di internal klub.

Namun, Shin Tae-yong membantah tuduhan tersebut. Dalam wawancara yang dikutip KBS dan diberitakan Suara.com, ia menegaskan bahwa dirinya tidak bermain golf saat tim bertanding. Menurut Shin, tas golf tersebut hanya dititipkan di bus tim untuk dikirim ke rumahnya di Seongnam setelah sebelumnya digunakan, bukan sebagai bukti bahwa ia bermain golf di tengah agenda klub. Ia juga membantah berbagai tuduhan yang menyebut dirinya bersikap kasar kepada pemain dan menegaskan bahwa gaya kepemimpinannya selama ini lebih mengedepankan kedekatan dengan para pemain.

Meski telah memberikan klarifikasi, berbagai kontroversi yang muncul, mulai dari hubungan dengan sejumlah pemain senior, isu profesionalisme, hingga performa tim yang menurun, disebut ikut memperbesar tekanan terhadap Shin Tae-yong selama menangani Ulsan HD. Pada akhirnya, manajemen klub memutuskan mengakhiri kerja sama dengannya setelah sekitar 65 hari menjabat sebagai pelatih kepala.

Shin Tae-yong Nilai Keputusan Belum Sepenuhnya Adil

Menanggapi sanksi tersebut, Shin Tae-yong menyatakan tetap menghormati keputusan Komite Disiplin KFA. Namun, ia menilai masih terdapat sejumlah fakta yang belum dipertimbangkan secara menyeluruh dalam proses pemeriksaan.

Dikutip dari Channel A melalui VIVA, Shin mengatakan dirinya merasa masih ada banyak hal yang belum terungkap sehingga keputusan tersebut dinilai belum sepenuhnya adil. Meski demikian, ia memilih tidak memperpanjang polemik karena ingin menjaga situasi sepak bola Korea Selatan tetap kondusif.

Ia juga mengaku sebenarnya ingin menjelaskan kronologi kejadian secara lebih rinci. Namun, Shin memilih menahan diri karena tidak ingin keterangannya berdampak terhadap pihak lain yang turut terlibat dalam insiden tersebut.

Pertimbangkan Mengajukan Banding

Shin Tae-yong mengungkapkan bahwa dirinya masih mempelajari kemungkinan untuk mengajukan banding atas keputusan tersebut. Dilansir dari VIVA, ia mengaku masih berkonsultasi dengan tim hukum dan sejumlah pihak terkait sebelum menentukan langkah selanjutnya.

Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi apakah proses banding benar-benar akan diajukan kepada Komite Disiplin KFA.

Sanksi Hanya Berlaku di Bawah Yurisdiksi KFA

Sanksi yang dijatuhkan berlaku untuk seluruh aktivitas sepak bola yang berada di bawah kewenangan Federasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA). Dengan demikian, larangan tersebut tidak secara otomatis berlaku pada kompetisi atau organisasi sepak bola internasional yang berada di luar yurisdiksi federasi tersebut.

Sejumlah pengamat menilai perkembangan kasus ini masih dapat berubah apabila proses banding diajukan atau terdapat keputusan lanjutan dari KFA.

Rekam Jejak Shin Tae-yong

Shin Tae-yong dikenal sebagai salah satu pelatih paling berpengalaman di Asia. Sebelum berkarier sebagai pelatih, ia sukses bersama Seongnam Ilhwa Chunma sebagai pemain maupun pelatih, termasuk membawa klub tersebut meraih gelar Liga Champions Asia.

Namanya semakin dikenal publik Indonesia setelah dipercaya menangani Timnas Indonesia pada periode 2020 hingga 2025. Selama memimpin skuad Garuda, Shin berhasil meningkatkan performa tim nasional, membawa Indonesia menembus babak gugur Piala Asia AFC, serta meningkatkan daya saing tim di berbagai ajang internasional.

Publik Menunggu Keputusan Selanjutnya

Kasus yang menimpa Shin Tae-yong masih menjadi perhatian besar di kalangan pecinta sepak bola. Banyak pihak memilih menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum memberikan penilaian terhadap keputusan yang telah dijatuhkan oleh KFA.

Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan lanjutan dari Komite Disiplin KFA mengenai kemungkinan perubahan keputusan. Sementara itu, Shin Tae-yong menegaskan akan tetap menghormati proses yang berjalan sambil mempertimbangkan upaya banding sesuai mekanisme yang berlaku.