University of Science and Computer Technology
MENU NAVIGASI
Beranda / Artikel / Information
Information 81 views

Quiet Quitting and Its Impact on Workplace Culture

G

Gusti Ayu Tita P

24 Juni 2026

Bagikan:
Quiet Quitting and Its Impact on Workplace Culture

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah Quiet Quitting menjadi topik yang banyak dibahas dalam dunia kerja. Fenomena ini tidak berarti karyawan benar-benar mengundurkan diri dari pekerjaannya, melainkan memilih untuk bekerja sesuai deskripsi tugas tanpa memberikan usaha tambahan yang sebelumnya mungkin mereka lakukan. Kondisi ini muncul sebagai respons terhadap berbagai faktor, mulai dari kelelahan kerja hingga kurangnya penghargaan dari perusahaan. Meskipun terlihat sederhana, dampaknya dapat memengaruhi produktivitas dan dinamika organisasi secara keseluruhan. Oleh karena itu, memahami Quiet Quitting menjadi penting bagi perusahaan maupun karyawan.

WHAT IS QUIET QUITTING?

Quiet Quitting adalah kondisi ketika karyawan hanya melakukan pekerjaan sesuai tanggung jawab yang telah ditentukan tanpa mengambil tugas tambahan di luar kewajibannya. Mereka tetap hadir bekerja, memenuhi target dasar, dan menjalankan tugas utama, tetapi tidak lagi menunjukkan antusiasme berlebihan terhadap pekerjaan.

Fenomena ini berbeda dengan kemalasan atau ketidakmampuan bekerja. Banyak karyawan yang melakukan Quiet Quitting sebenarnya memiliki kompetensi yang baik, namun merasa bahwa usaha ekstra yang mereka berikan tidak mendapatkan apresiasi yang sepadan. Akibatnya, mereka memilih menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi daripada terus memberikan kontribusi lebih.

MAIN CAUSES OF QUIET QUITTING

Salah satu penyebab utama Quiet Quitting adalah burnout atau kelelahan kerja yang berkepanjangan. Tekanan pekerjaan yang tinggi, target yang tidak realistis, serta kurangnya waktu istirahat dapat membuat karyawan kehilangan motivasi untuk memberikan performa terbaiknya.

Selain itu, kurangnya penghargaan dan pengakuan dari perusahaan juga menjadi faktor penting. Ketika karyawan merasa kontribusinya tidak dihargai, mereka cenderung mengurangi keterlibatan emosional terhadap pekerjaan. Faktor lain seperti komunikasi yang buruk, kepemimpinan yang tidak efektif, dan peluang karier yang terbatas juga dapat memicu munculnya Quiet Quitting dalam organisasi.

IMPACT ON WORKPLACE CULTURE

Quiet Quitting dapat memberikan dampak signifikan terhadap Workplace Culture. Ketika semakin banyak karyawan yang kehilangan keterlibatan dalam pekerjaan, suasana kerja menjadi kurang kolaboratif dan produktif. Semangat tim dapat menurun karena anggota tim tidak lagi terdorong untuk saling membantu atau berkontribusi lebih.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menciptakan lingkungan kerja yang pasif. Inovasi menjadi berkurang karena karyawan hanya fokus pada tugas wajib tanpa berinisiatif mencari solusi baru. Jika dibiarkan terus-menerus, budaya kerja yang sebelumnya positif dapat berubah menjadi lingkungan yang kurang dinamis dan kurang mendukung pertumbuhan perusahaan.

EFFECTS ON EMPLOYEE ENGAGEMENT AND PRODUCTIVITY

Salah satu dampak terbesar Quiet Quitting adalah menurunnya Employee Engagement. Karyawan yang tidak lagi merasa terhubung dengan pekerjaannya cenderung menunjukkan tingkat partisipasi yang lebih rendah dalam berbagai aktivitas perusahaan. Mereka mungkin tetap menyelesaikan pekerjaan, tetapi tanpa semangat dan komitmen yang kuat.

Penurunan keterlibatan ini secara langsung memengaruhi produktivitas organisasi. Ketika motivasi kerja berkurang, kualitas hasil kerja dapat menurun dan peluang untuk mencapai target yang lebih tinggi menjadi lebih kecil. Perusahaan juga berisiko kehilangan potensi terbaik dari karyawan yang sebenarnya memiliki kemampuan besar untuk berkembang.

HOW COMPANIES CAN PREVENT QUIET QUITTING

Perusahaan dapat mengurangi risiko Quiet Quitting dengan menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan suportif. Salah satu langkah penting adalah memberikan recognition yang adil atas kontribusi karyawan. Pengakuan sederhana sekalipun dapat meningkatkan rasa dihargai dan memperkuat motivasi kerja.

Selain itu, perusahaan perlu membangun komunikasi yang terbuka antara manajemen dan karyawan. Kesempatan untuk menyampaikan pendapat, memberikan masukan, dan berdiskusi mengenai tantangan pekerjaan dapat meningkatkan rasa memiliki terhadap organisasi. Program pengembangan karier, pelatihan keterampilan, serta dukungan terhadap keseimbangan kehidupan kerja juga menjadi strategi efektif untuk meningkatkan keterlibatan karyawan.

THE FUTURE OF WORK AND EMPLOYEE EXPECTATIONS

Perubahan pola kerja modern membuat karyawan semakin memperhatikan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Banyak pekerja kini tidak hanya mencari gaji yang kompetitif, tetapi juga lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan mental dan perkembangan profesional mereka.

Perusahaan yang mampu memahami perubahan ekspektasi ini akan lebih mudah mempertahankan talenta terbaik. Dengan membangun budaya kerja yang menghargai kontribusi, mendorong komunikasi terbuka, dan memberikan peluang pertumbuhan, organisasi dapat menciptakan tenaga kerja yang lebih loyal dan produktif. Pendekatan ini tidak hanya membantu mencegah Quiet Quitting, tetapi juga memperkuat budaya kerja yang sehat dan berkelanjutan.

CONCLUSION

Quiet Quitting merupakan fenomena yang mencerminkan perubahan cara pandang karyawan terhadap pekerjaan. Meskipun tidak selalu terlihat secara langsung, dampaknya dapat memengaruhi Workplace Culture, keterlibatan karyawan, dan produktivitas perusahaan. Penyebabnya beragam, mulai dari burnout hingga kurangnya apresiasi dari organisasi. Oleh karena itu, perusahaan perlu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan dan perkembangan karyawan. Dengan strategi yang tepat, Quiet Quitting dapat diminimalkan dan budaya kerja yang positif dapat terus berkembang.

G

About the Author

Gusti Ayu Tita P

Author — STEKOM University

An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.