University of Science and Computer Technology
MENU NAVIGASI
Beranda / Artikel / Tips dan Trik
Tips dan Trik 36 views

Bagaimana Cara Membangun Kembali Rasa Aman Setelah Mengalami Trauma?

G

Gusti Ayu Tita P

21 September 2026

Bagikan:
Bagaimana Cara Membangun Kembali Rasa Aman Setelah Mengalami Trauma?

Mengalami peristiwa traumatis dapat membuat seseorang kehilangan rasa aman terhadap diri sendiri, lingkungan, maupun orang lain. Setelah kejadian tersebut, seseorang mungkin menjadi lebih waspada, mudah takut, sulit percaya, atau menghindari situasi tertentu yang mengingatkan pada pengalaman sebelumnya. Respons tersebut dapat menjadi bagian dari reaksi terhadap pengalaman yang dianggap mengancam. Rasa aman biasanya tidak kembali dalam waktu singkat dan membutuhkan proses yang berbeda bagi setiap orang. Lalu, bagaimana cara membangun kembali rasa aman setelah mengalami trauma?

MEMAHAMI BAHWA RESPONS TRAUMA ADALAH HAL YANG DAPAT TERJADI

Setelah mengalami trauma, seseorang dapat merasakan berbagai respons seperti takut, cemas, mudah terkejut, sulit tidur, atau terus mengingat kejadian tertentu. Respons tersebut dapat muncul karena tubuh dan pikiran sedang berusaha menghadapi pengalaman yang dianggap mengancam. Memahami hal ini dapat membantu seseorang tidak terlalu menyalahkan dirinya sendiri. Reaksi setelah trauma bukan berarti seseorang lemah atau gagal menghadapi kehidupan.

Setiap orang juga memiliki respons yang berbeda terhadap peristiwa traumatis. Ada yang langsung merasakan dampaknya, sementara orang lain baru mengalaminya setelah beberapa waktu. Karena itu, seseorang tidak perlu membandingkan proses pemulihannya dengan orang lain. Memberikan waktu kepada diri sendiri merupakan bagian penting dalam membangun kembali rasa aman.

MEMBANGUN LINGKUNGAN YANG AMAN

Rasa aman dapat mulai dibangun dengan menciptakan lingkungan yang membuat seseorang merasa terlindungi. Lingkungan tersebut dapat berupa rumah, kamar, tempat kerja, kampus, atau ruang lain yang memberikan kenyamanan. Jika terdapat orang atau situasi yang masih menjadi sumber ancaman, menjauh dari kondisi tersebut dapat menjadi langkah penting. Keselamatan fisik perlu menjadi prioritas sebelum seseorang berusaha menghadapi dampak emosional dari trauma.

Rutinitas sederhana juga dapat membuat kehidupan terasa lebih terprediksi. Menentukan waktu tidur, makan, belajar, bekerja, dan beristirahat secara teratur dapat membantu menciptakan struktur sehari hari. Tidak semua kegiatan harus dilakukan dengan sempurna. Yang terpenting adalah membangun pola yang stabil dan sesuai dengan kemampuan.

MENGENALI PEMICU YANG MEMBUAT CEMAS

Pemicu trauma merupakan sesuatu yang dapat mengingatkan seseorang pada pengalaman yang pernah terjadi. Pemicu dapat berupa tempat, suara, aroma, percakapan, gambar, orang tertentu, atau situasi tertentu. Ketika pemicu muncul, seseorang dapat mengalami rasa takut atau respons tubuh yang kuat meskipun kondisi saat itu sebenarnya aman. Mengenali pola tersebut dapat membantu seseorang memahami apa yang sedang terjadi.

Mencatat situasi yang memunculkan rasa takut dapat menjadi salah satu cara untuk mengenali pemicu. Namun, mengenali pemicu bukan berarti seseorang harus menghindari semua hal yang mengingatkan pada trauma selamanya. Penghindaran berlebihan justru dapat membatasi aktivitas sehari hari. Jika menghadapi pemicu terasa sangat berat, proses menghadapinya sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan bantuan profesional.

MENGGUNAKAN TEKNIK UNTUK MENENANGKAN DIRI

Ketika rasa takut muncul, seseorang dapat mencoba teknik sederhana untuk membantu tubuh kembali tenang. Mengatur napas secara perlahan dapat membantu mengurangi ketegangan dan membuat perhatian kembali pada kondisi saat ini. Teknik grounding juga dapat digunakan dengan memperhatikan benda yang terlihat, suara yang terdengar, atau sensasi tubuh yang dirasakan. Tujuannya adalah membantu seseorang menyadari bahwa dirinya sedang berada di masa sekarang.

Teknik tersebut tidak harus dilakukan dengan cara yang rumit. Seseorang dapat duduk di tempat yang aman, menarik napas perlahan, lalu memperhatikan lingkungan sekitar. Jika satu teknik tidak terasa cocok, dapat mencoba cara lain yang lebih nyaman. Teknik menenangkan diri merupakan alat pendukung dan bukan pengganti penanganan profesional ketika gejala trauma cukup berat.

MEMBANGUN KEMBALI KEPERCAYAAN TERHADAP ORANG LAIN

Trauma dapat membuat seseorang sulit mempercayai orang lain, terutama jika pengalaman buruk tersebut melibatkan seseorang yang sebelumnya dipercaya. Karena itu, membangun kembali kepercayaan tidak perlu dilakukan secara terburu buru. Mulailah dengan orang yang dianggap aman dan dapat menghormati batasan pribadi. Hubungan yang sehat biasanya dibangun melalui komunikasi yang konsisten dan pengalaman positif secara bertahap.

Seseorang juga berhak menentukan batasan dalam hubungan sosial. Tidak perlu menceritakan seluruh pengalaman traumatis kepada orang lain jika belum siap. Berani mengatakan tidak terhadap sesuatu yang membuat tidak nyaman merupakan bagian dari membangun kembali rasa kendali. Rasa aman dapat tumbuh ketika seseorang mengetahui bahwa dirinya memiliki pilihan dalam menentukan hubungan dan lingkungan.

MEMBANGUN KEMBALI RASA KENDALI

Pengalaman traumatis dapat membuat seseorang merasa kehilangan kendali atas kehidupannya. Untuk mengatasinya, seseorang dapat mulai dengan membuat keputusan kecil yang berada dalam kendalinya. Misalnya, menentukan kegiatan harian, memilih orang yang ingin ditemui, atau mengatur waktu untuk beristirahat. Keputusan sederhana tersebut dapat membantu membangun kembali rasa memiliki kendali.

Jangan memaksakan diri melakukan sesuatu yang belum siap dihadapi. Pemulihan bukan perlombaan yang harus diselesaikan secepat mungkin. Kemajuan kecil tetap merupakan bagian dari proses. Dengan memberikan ruang bagi diri sendiri untuk menentukan batas dan pilihan, rasa aman dapat berkembang secara perlahan.

MENCARI DUKUNGAN DARI ORANG TERPERCAYA

Seseorang yang mengalami trauma tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Berbicara dengan keluarga, teman, pasangan, atau orang lain yang dipercaya dapat memberikan rasa didukung. Orang terdekat sebaiknya mendengarkan tanpa menghakimi dan tidak memaksa seseorang untuk menceritakan pengalaman sebelum siap. Dukungan sederhana seperti menemani atau membantu menjalankan aktivitas juga dapat berarti.

Namun, dukungan sosial memiliki batas. Jika trauma menyebabkan gangguan tidur yang menetap, kecemasan berat, penghindaran berlebihan, atau kesulitan menjalani aktivitas, bantuan profesional dapat diperlukan. Psikolog atau psikiater dapat membantu memahami kondisi dan menentukan pendekatan yang sesuai. Mendapatkan bantuan profesional bukan berarti seseorang tidak mampu mengatasi masalahnya sendiri.

MEMBANGUN RUTINITAS DAN MERAWAT DIRI

Rutinitas dapat memberikan struktur ketika kehidupan terasa tidak stabil setelah mengalami trauma. Tidur cukup, makan teratur, melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan, serta menyediakan waktu untuk beristirahat dapat membantu menjaga kondisi tubuh. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, membaca, atau melakukan hobi juga dapat membantu seseorang kembali terhubung dengan kehidupan sehari hari. Pilih kegiatan yang terasa aman dan tidak perlu memaksakan diri.

Perawatan diri bukan berarti mengabaikan masalah yang sedang dihadapi. Justru, menjaga kondisi fisik dan emosional dapat memberikan energi untuk menjalani proses pemulihan. Hindari menggunakan alkohol atau zat lain sebagai cara utama untuk mengatasi rasa takut atau kenangan traumatis. Jika merasa kesulitan menjaga rutinitas, lakukan perubahan kecil dan bertahap.

MENCARI BANTUAN PROFESIONAL BILA DIPERLUKAN

Bantuan profesional penting dipertimbangkan jika dampak trauma berlangsung lama atau mengganggu kehidupan sehari hari. Psikolog atau psikiater dapat membantu seseorang memahami gejala dan menentukan bentuk penanganan yang sesuai. Beberapa jenis psikoterapi dapat digunakan untuk membantu orang menghadapi pengalaman traumatis dan mengurangi gejala yang muncul. Penanganan biasanya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setiap individu.

Jika seseorang merasa tidak aman, memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, atau tidak mampu menjaga keselamatan dirinya, bantuan segera perlu dicari melalui layanan kesehatan atau orang terpercaya di sekitarnya. Jangan menghadapi kondisi tersebut sendirian. Mendapatkan pertolongan merupakan langkah penting untuk menjaga keselamatan. Pemulihan dapat dilakukan secara bertahap dengan dukungan yang tepat.

KESIMPULAN

Membangun kembali rasa aman setelah mengalami trauma membutuhkan waktu, kesabaran, dan lingkungan yang mendukung. Langkah awal dapat dilakukan dengan memastikan keselamatan, membangun rutinitas, mengenali pemicu, serta menggunakan teknik sederhana untuk menenangkan diri. Kepercayaan terhadap orang lain dan rasa kendali juga dapat dibangun kembali secara perlahan. Jika dampak trauma mengganggu kehidupan sehari hari, bantuan psikolog atau psikiater dapat menjadi bagian penting dari proses pemulihan. Setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda sehingga tidak perlu memaksakan diri untuk pulih dengan kecepatan tertentu.

G

About the Author

Gusti Ayu Tita P

Author — STEKOM University

An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.