Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Tips dan Trik
Tips dan Trik 94 dibaca

Bagaimana Cara Membantu Anak Saat Proses Evakuasi Bencana?

G

Gusti Ayu Tita P

19 September 2026

Bagikan:
Bagaimana Cara Membantu Anak Saat Proses Evakuasi Bencana?

Bencana dapat terjadi secara tiba-tiba dan membuat suasana menjadi panik, terutama bagi anak-anak. Dalam kondisi tersebut, anak membutuhkan pendampingan dari orang tua, keluarga, guru, atau orang dewasa yang berada di sekitarnya. Anak memiliki kebutuhan dan kemampuan yang berbeda sehingga proses evakuasi perlu dilakukan dengan cara yang tenang, aman, dan terarah. UNICEF juga menekankan pentingnya memasukkan kebutuhan anak dalam perencanaan kesiapsiagaan bencana.

Membantu anak saat evakuasi bukan hanya tentang membawa mereka ke tempat aman, tetapi juga memastikan anak tetap bersama orang yang bertanggung jawab, mendapatkan informasi yang mudah dipahami, dan tidak terpisah dari keluarga. Persiapan sebelum bencana akan membuat proses evakuasi lebih teratur ketika keadaan darurat benar-benar terjadi.

PAHAMI KONDISI ANAK SAAT BENCANA

Anak dapat merasa takut, bingung, atau panik ketika menghadapi suara keras, kerumunan, kerusakan bangunan, atau perubahan lingkungan secara mendadak. Karena itu, orang dewasa perlu memberikan penjelasan menggunakan bahasa yang sederhana dan sesuai usia anak. Hindari memberikan informasi yang menakutkan secara berlebihan karena dapat membuat anak semakin sulit mengikuti arahan. Anak perlu mengetahui bahwa mereka sedang diarahkan menuju tempat yang lebih aman.

Selama evakuasi, anak sebaiknya tetap berada dalam pengawasan orang tua atau pengasuh yang dikenal. UNICEF menyarankan agar anak tetap bersama orang tua atau pengasuh selama proses evakuasi jika memungkinkan. Dengan pendampingan tersebut, risiko anak tersesat atau terpisah dari keluarga dapat dikurangi.

AJARKAN JALUR DAN ATURAN EVAKUASI

Sebelum terjadi bencana, orang tua dapat mengenalkan kepada anak jalur evakuasi, pintu keluar, dan titik kumpul yang telah ditentukan. Penjelasan dapat dilakukan melalui latihan sederhana agar anak tidak hanya mengetahui secara teori, tetapi juga memahami apa yang harus dilakukan ketika keadaan darurat terjadi. BNPB juga merekomendasikan keluarga memiliki peta sederhana jalur evakuasi dan titik kumpul yang disepakati bersama.

Anak juga perlu diajarkan untuk mengikuti arahan orang dewasa dan petugas, tidak berlari sembarangan, serta tidak kembali ke bangunan yang sudah ditinggalkan. Jika berada di sekolah, anak perlu mengikuti prosedur evakuasi yang telah ditetapkan sekolah. Latihan secara berkala dapat membantu anak lebih mengenal langkah yang harus dilakukan sehingga tidak terlalu bingung ketika menghadapi situasi sebenarnya.

DAMPINGI ANAK SELAMA PROSES EVAKUASI

Ketika evakuasi berlangsung, orang dewasa harus berusaha tetap tenang dan fokus. Anak dapat diarahkan untuk berjalan bersama kelompok dan tidak meninggalkan pendampingnya. Jika kondisi memungkinkan, orang dewasa dapat memegang tangan anak atau memastikan anak berada dalam jarak yang mudah diawasi. Jangan membiarkan anak berjalan sendiri menuju lokasi evakuasi.

Perhatikan pula kebutuhan khusus anak, seperti makanan, minuman, obat yang memang diperlukan, atau barang penting lainnya. Dalam kondisi darurat, keselamatan harus menjadi prioritas utama sehingga barang bawaan tidak boleh menghambat pergerakan. Jika anak terpisah dari pengasuh, segera laporkan kepada petugas atau pihak yang bertanggung jawab agar proses pencarian dan penyatuan kembali dapat dilakukan dengan aman.

SIAPKAN KEBUTUHAN ANAK SEBELUM BENCANA

Keluarga sebaiknya menyiapkan tas siaga bencana yang disesuaikan dengan kebutuhan seluruh anggota keluarga, termasuk anak. Isinya dapat mencakup air minum, makanan yang sesuai, pakaian, perlengkapan kebersihan, obat yang diperlukan, dokumen penting, penerangan, dan kebutuhan khusus lainnya. BNPB juga memasukkan tas siaga sebagai salah satu bagian yang perlu diperhatikan dalam kesiapsiagaan keluarga.

Selain perlengkapan, anak perlu mengetahui nama orang tua, nomor kontak keluarga, serta tempat berkumpul apabila anggota keluarga terpisah. Informasi tersebut dapat ditulis pada kartu identitas yang dibawa anak jika diperlukan. Orang tua juga dapat memberi tahu anak siapa orang dewasa yang harus dicari ketika mereka membutuhkan bantuan. Persiapan sederhana seperti ini dapat membantu mengurangi risiko kebingungan ketika terjadi keadaan darurat.

BANTU ANAK TETAP TENANG DI TEMPAT EVAKUASI

Setelah tiba di lokasi aman, anak tetap membutuhkan rasa aman dan pendampingan. Orang dewasa dapat berbicara dengan suara tenang dan memberikan informasi sederhana mengenai keadaan yang sedang terjadi. Anak sebaiknya tidak dipaksa untuk menceritakan perasaannya jika belum siap. Yang penting adalah memastikan anak berada di tempat yang aman dan tetap mendapatkan pengawasan.

Kondisi setelah bencana juga dapat membuat anak mengalami tekanan emosional karena kehilangan rumah, rutinitas, atau terpisah dari lingkungan yang dikenalnya. UNICEF mencatat bahwa bencana dapat meningkatkan kerentanan anak terhadap berbagai risiko, termasuk dampak emosional dan perpisahan dengan keluarga. Oleh karena itu, kebutuhan perlindungan anak harus tetap diperhatikan selama berada di tempat pengungsian.

KESIMPULAN

Membantu anak saat proses evakuasi bencana membutuhkan persiapan, pendampingan, dan komunikasi yang baik. Anak perlu mengenal jalur evakuasi, titik kumpul, aturan keselamatan, serta orang yang dapat dimintai bantuan sebelum bencana terjadi. Saat evakuasi berlangsung, orang dewasa harus memastikan anak tetap bersama pendamping dan mengikuti arahan petugas. Persiapan tas siaga serta informasi kontak keluarga juga dapat membantu ketika terjadi keadaan darurat.

Yang tidak kalah penting, keselamatan anak harus tetap diperhatikan setelah mencapai tempat evakuasi. Dengan rencana yang jelas dan latihan yang teratur, anak dapat lebih siap menghadapi keadaan darurat tanpa membuat mereka semakin takut atau panik.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.