Universitas Sains dan Teknologi Komputer
MENU NAVIGASI
Language
ID | EN | language
Beranda / Artikel / Tips dan Trik
Tips dan Trik 69 dibaca

Bagaimana Cara Menghadapi Kepanikan Saat Evakuasi Bencana?

G

Gusti Ayu Tita P

19 September 2026

Bagikan:
Bagaimana Cara Menghadapi Kepanikan Saat Evakuasi Bencana?

Evakuasi bencana merupakan tindakan penting untuk melindungi diri ketika terjadi keadaan darurat seperti gempa bumi, banjir, kebakaran, tanah longsor, atau bencana lainnya. Dalam situasi tersebut, kepanikan dapat membuat seseorang sulit berpikir jernih dan mengambil keputusan yang tepat. Karena itu, kemampuan untuk mengendalikan kepanikan sangat diperlukan agar proses evakuasi dapat berlangsung dengan lebih aman dan teratur. Mengetahui apa yang harus dilakukan sebelum bencana terjadi juga dapat membantu seseorang lebih siap menghadapi kondisi darurat.

TETAP TENANG DAN JANGAN TERBURU BURU

Hal pertama yang perlu dilakukan ketika menghadapi kepanikan saat evakuasi adalah berusaha tetap tenang. Tarik napas secara perlahan dan fokus pada kondisi di sekitar sebelum mengambil tindakan. Kepanikan berlebihan dapat membuat seseorang berlari tanpa arah, saling mendorong, atau mengabaikan petunjuk keselamatan. Sebaliknya, sikap tenang membantu seseorang memahami situasi dan menentukan langkah yang lebih tepat.

Jika berada di tempat yang ramai, hindari mengikuti kepanikan orang lain tanpa mengetahui tujuan mereka. Perhatikan arahan petugas, tanda jalur evakuasi, dan informasi resmi yang tersedia. Jangan berhenti terlalu lama di tengah jalur karena dapat menghambat orang lain yang sedang menyelamatkan diri. Dengan tetap fokus dan tidak terburu-buru, proses evakuasi dapat berjalan lebih tertib.

IKUTI JALUR EVAKUASI YANG SUDAH DITENTUKAN

Ketika bencana terjadi, gunakan jalur evakuasi resmi yang telah ditentukan oleh pengelola gedung atau pihak berwenang. Jalur tersebut biasanya dirancang untuk membantu orang menuju lokasi yang lebih aman. Hindari menggunakan jalan pintas jika belum mengetahui apakah area tersebut aman atau tidak. Kondisi lingkungan setelah bencana dapat berubah sehingga jalan yang biasanya aman belum tentu dapat dilewati.

Perhatikan rambu evakuasi, petunjuk arah, dan tanda titik kumpul selama perjalanan. Jika berada di gedung, gunakan tangga darurat apabila diarahkan dan jangan menggunakan lift ketika terjadi keadaan darurat tertentu seperti kebakaran atau pemadaman listrik. Tetap berjalan dengan tertib dan berikan ruang kepada orang yang membutuhkan bantuan. Mengikuti jalur yang benar dapat mengurangi risiko tersesat dan membantu proses penyelamatan.

JANGAN TERPANCING INFORMASI YANG BELUM TERBUKTI

Dalam situasi bencana, informasi dapat menyebar dengan sangat cepat melalui media sosial dan pesan pribadi. Namun, tidak semua informasi yang beredar dapat dipercaya. Kabar yang belum dikonfirmasi dapat meningkatkan kepanikan dan menyebabkan orang mengambil keputusan yang keliru. Oleh sebab itu, periksa informasi melalui sumber resmi seperti petugas di lokasi atau lembaga penanggulangan bencana.

Jika mendapatkan informasi tentang kondisi bencana, jangan langsung menyebarkannya sebelum mengetahui kebenarannya. Fokuslah pada informasi yang berkaitan dengan arah evakuasi, kondisi wilayah, peringatan bahaya, dan lokasi aman. Mengikuti satu sumber resmi juga dapat menghindarkan seseorang dari kebingungan akibat informasi yang saling bertentangan. Sikap bijak dalam menerima informasi menjadi bagian penting dari keselamatan saat evakuasi.

BANTU ORANG DI SEKITAR DENGAN TETAP MEMPERHATIKAN KESELAMATAN

Kepanikan dapat semakin besar ketika ada orang yang membutuhkan bantuan, terutama anak-anak, lansia, atau penyandang disabilitas. Jika kondisi memungkinkan, berikan bantuan dengan cara yang aman dan tidak membahayakan diri sendiri. Misalnya, membantu menunjukkan arah, menemani menuju titik kumpul, atau memberi tahu petugas mengenai orang yang membutuhkan pertolongan. Jangan memaksakan diri membantu apabila kondisi di sekitar masih berbahaya.

Kerja sama antarwarga dapat membuat proses evakuasi lebih teratur. Orang yang lebih tenang juga dapat membantu mengingatkan orang lain agar tidak saling mendorong atau berlari sembarangan. Namun, keselamatan diri tetap harus menjadi perhatian utama karena seseorang yang ikut menjadi korban akan semakin menyulitkan proses penyelamatan. Bantuan sebaiknya diberikan sesuai kemampuan dan kondisi di lapangan.

GUNAKAN TEKNIK SEDERHANA UNTUK MENGENDALIKAN PANIK

Ketika mulai merasa panik, lakukan pernapasan perlahan dan arahkan perhatian pada tindakan yang harus dilakukan. Jangan memikirkan terlalu banyak kemungkinan buruk karena hal tersebut dapat membuat pikiran semakin sulit berkonsentrasi. Ingat kembali rencana evakuasi yang sudah dipelajari dan ikuti petunjuk keselamatan satu per satu. Berbicara dengan orang yang tenang di sekitar juga dapat membantu menciptakan suasana yang lebih terkendali.

Persiapan sebelum bencana dapat membuat seseorang lebih percaya diri ketika menghadapi keadaan darurat. Kenali jalur evakuasi, titik kumpul, nomor darurat, dan perlengkapan penting yang perlu dibawa. Latihan evakuasi secara berkala juga dapat membantu membentuk kebiasaan sehingga seseorang tidak terlalu bingung ketika keadaan sebenarnya terjadi. Semakin baik persiapan yang dilakukan, semakin mudah seseorang mempertahankan ketenangan saat menghadapi situasi darurat.

KESIMPULAN

Menghadapi kepanikan saat evakuasi bencana membutuhkan ketenangan, kesiapan, dan kemampuan mengikuti arahan. Jangan terburu-buru, gunakan jalur evakuasi yang tersedia, dan selalu perhatikan informasi dari sumber yang dapat dipercaya. Membantu orang lain juga penting, tetapi tetap utamakan keselamatan diri dan jangan memasuki area yang berbahaya. Dengan memahami prosedur evakuasi dan melakukan persiapan sejak awal, risiko kesalahan saat menghadapi bencana dapat dikurangi. Kesiapsiagaan dan ketenangan menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan selama proses evakuasi.

G

Tentang Penulis

Gusti Ayu Tita P

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.