sumber img: Ilustrasi AI
Radja Nainggolan menyesal menolak membela Timnas Indonesia setelah melihat besarnya dukungan suporter Garuda dan peluang yang bisa didapatkan pemain keturunan di Tanah Air. Mantan gelandang Timnas Belgia tersebut mengakui bahwa keputusannya pada masa lalu kini terlihat berbeda, terutama setelah perjalanan karier internasionalnya tidak berjalan sesuai harapan.
Dilansir dari detikSport pada 12 Oktober 2026, Nainggolan kembali membicarakan pilihannya dalam wawancara bersama media Belgia, Het Nieuwsblad. Dalam kesempatan tersebut, ia menyoroti antusiasme suporter Indonesia serta perhatian yang diterima para pemain yang memilih memperkuat skuad Garuda.
Pengakuan tersebut kembali menghidupkan pembahasan mengenai keputusan Nainggolan yang dahulu memilih Belgia meskipun memiliki darah Indonesia dari sang ayah. Kini, pada usia 38 tahun, ia melihat ada peluang yang mungkin dapat memberikan keuntungan bagi perjalanan kariernya, baik ketika masih aktif bermain maupun setelah pensiun.
Radja Nainggolan Terpukau Dukungan Suporter Timnas Indonesia
Salah satu hal yang membuat Nainggolan memandang Timnas Indonesia secara berbeda adalah besarnya dukungan masyarakat terhadap sepak bola nasional. Ia menilai antusiasme suporter Garuda sangat luar biasa, bahkan ketika tim menghadapi lawan seperti Vietnam atau Irak.
Dikutip dari laporan detikSport yang mengacu pada wawancara Nainggolan dengan Het Nieuwsblad, pemain tersebut menyoroti banyaknya penonton yang hadir untuk mendukung Timnas Indonesia. Menurutnya, antusiasme suporter menjadi salah satu hal yang membedakan pengalaman sepak bola di Indonesia dengan yang ia rasakan selama berkarier di Eropa.
Besarnya dukungan suporter menjadi daya tarik tersendiri bagi pemain yang membela Timnas Indonesia. Antusiasme tersebut bukan hanya menciptakan atmosfer pertandingan yang meriah, tetapi juga meningkatkan popularitas pemain di mata masyarakat. Pengalaman Nainggolan selama berada di Indonesia turut memengaruhi pandangannya. Ia pernah memperkuat Bhayangkara FC pada musim 2023/2024 dan merasakan langsung perhatian dari penggemar sepak bola Tanah Air.
Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami besarnya apresiasi yang diberikan masyarakat Indonesia kepada pemain sepak bola, khususnya mereka yang memiliki hubungan dengan Tanah Air.
Menyinggung Keuntungan yang Diterima Pemain Keturunan
Selain membahas dukungan suporter, Nainggolan juga menyoroti keuntungan yang menurutnya dapat diperoleh pemain keturunan ketika memilih membela Timnas Indonesia. Dilansir dari detikSport, Nainggolan menyinggung adanya dukungan komersial dan sponsor bagi sejumlah pemain yang memperkuat skuad Garuda. Nama-nama besar seperti Louis Vuitton, Hublot, dan Rolex disebut dalam pembicaraannya mengenai perhatian serta peluang komersial yang dapat menyertai popularitas pemain.
Nainggolan membandingkan situasi tersebut dengan kondisi sejumlah pemain yang berkarier di Eropa, termasuk pemain yang masih bermain di level tim cadangan klub. Menurut pandangannya, membela Indonesia bisa memberikan nilai tambah bagi citra seorang pemain. Popularitas yang diperoleh selama memperkuat tim nasional berpotensi membuka peluang lain di luar lapangan hijau.
Nainggolan kini menyadari bahwa pilihan tim nasional tidak hanya berkaitan dengan kesempatan bermain, tetapi juga dapat mempengaruhi popularitas dan peluang karier setelah pensiun. Meski demikian, pernyataan tersebut merupakan pandangan pribadi Nainggolan berdasarkan pengalamannya. Peluang komersial setiap pemain tentu berbeda, bergantung pada performa, popularitas, kontrak, dan kerja sama yang dimiliki.
BACA JUGA: Radja Nainggolan Ungkap Gaji Fantastis di Bhayangkara FC, Tembus Rp6 Miliar dalam Enam Bulan
Menyesal Setelah Karier Bersama Timnas Belgia Tak Sesuai Harapan
Keputusan Nainggolan memilih Belgia pada masa lalu juga berkaitan dengan perjalanan karier internasionalnya yang berakhir lebih cepat dari yang ia harapkan. Lahir di Antwerp pada 4 Mei 1988, Nainggolan memiliki darah Indonesia dari ayahnya yang berasal dari Sumatera Utara. Ia tumbuh dan mengembangkan karier sepakbolanya di Belgia sebelum bermain di sejumlah klub Eropa, termasuk AS Roma dan Inter Milan.
Nainggolan sempat menjadi bagian dari generasi pemain penting Timnas Belgia. Namun, perjalanan internasionalnya menyisakan kekecewaan setelah ia tidak masuk dalam skuad untuk Piala Dunia 2018 di Rusia. Dikutip dari pemberitaan mengenai wawancara Nainggolan dengan Het Nieuwsblad, keputusan pelatih Roberto Martinez untuk tidak membawanya ke Piala Dunia 2018 menjadi salah satu momen yang membekas dalam perjalanan kariernya bersama Belgia.
Keputusan tersebut membuat Nainggolan kehilangan kesempatan tampil di turnamen sepak bola terbesar tersebut. Ia merasa masih memiliki kemampuan untuk berkontribusi bagi tim nasional, tetapi kesempatan itu tidak lagi datang seperti yang diharapkan. Dalam pandangannya sekarang, Nainggolan merasa dirinya mungkin bisa menjalani karier internasional yang lebih panjang apabila dahulu memilih Timnas Indonesia. Ia membayangkan bisa terus memperkuat skuad Garuda selama bertahun-tahun, alih-alih mengakhiri kiprah internasionalnya bersama Belgia lebih awal.
Nainggolan Mengakui Pilihannya Bisa Berbeda Jika Waktu Diulang
Penyesalan Nainggolan bukan berarti ia tidak bangga pernah membela Belgia. Ia telah menjalani perjalanan panjang bersama negara tempatnya lahir dan memperoleh pengalaman bermain di level internasional. Namun, setelah melihat kembali perjalanan tersebut, ia mengakui bahwa keputusannya mungkin akan berbeda jika memiliki kesempatan untuk mengulang masa lalu. Dalam wawancara yang dilansir detikSport dari Het Nieuwsblad, Nainggolan menyinggung kembali pilihan yang diambilnya ketika masih memiliki kesempatan untuk menentukan tim nasional yang akan dibelanya. Pengalaman dan situasi yang ia lihat sekarang membuatnya mempertimbangkan kembali keputusan tersebut.
Pada usia 38 tahun, ia dapat melihat pilihan itu dari sudut pandang yang lebih luas. Selain kesempatan bermain untuk tim nasional, ia juga mempertimbangkan penghargaan dari suporter, popularitas, serta peluang yang bisa dimanfaatkan setelah karier profesional berakhir. Pengalaman selama berada di Indonesia menjadi salah satu faktor yang membuatnya memikirkan kembali keputusan tersebut. Ia merasakan bahwa pemain yang mendapat dukungan besar dari masyarakat dapat membangun hubungan yang kuat dengan penggemar.
Kondisi itu berpotensi memberikan keuntungan jangka panjang bagi seorang pesepak bola, termasuk ketika sudah tidak lagi aktif bermain. Pernyataan Nainggolan sekaligus memperlihatkan bahwa keputusan memilih tim nasional dapat memiliki dampak yang baru benar-benar terasa setelah perjalanan karier seseorang berkembang.
Peluang Bela Timnas Indonesia yang Tak Bisa Terulang
Nainggolan kini hanya bisa membayangkan bagaimana perjalanan kariernya jika dahulu memilih Indonesia. Keputusan untuk membela Belgia membuatnya tidak lagi memiliki kesempatan berpindah ke Timnas Indonesia setelah mencatatkan penampilan resmi pada level senior bersama Belgia. Padahal, latar belakang keluarganya membuat sosok Nainggolan sejak lama menarik perhatian penggemar sepak bola Indonesia. Namanya juga semakin dikenal masyarakat Tanah Air ketika ia datang untuk bermain bersama Bhayangkara FC.
Pengalamannya di Indonesia memperlihatkan bahwa hubungan seorang pemain dengan sebuah negara tidak selalu berhenti pada kesempatan membela tim nasional. Kedekatan dengan masyarakat, sambutan suporter, dan peluang di luar pertandingan juga dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya. Penyesalan Radja Nainggolan menjadi pengingat bahwa keputusan pada awal karier dapat membawa konsekuensi jangka panjang. Bagi Nainggolan, memilih Belgia merupakan keputusan yang membawanya ke panggung sepak bola Eropa. Namun, setelah melihat kembali perjalanan tersebut, ia mengakui bahwa membela Indonesia mungkin akan memberikan pengalaman berbeda yang kini tidak bisa lagi ia rasakan.
Kini, kisah Nainggolan kembali menjadi bahan perbincangan di kalangan penggemar sepak bola Indonesia. Pernyataannya menunjukkan bahwa besarnya dukungan suporter Garuda dan pengalaman yang ia dapatkan selama berada di Tanah Air meninggalkan kesan mendalam, meskipun kesempatan untuk memperkuat Timnas Indonesia telah berlalu.