sumber img: X ANI
Badai India berupa Siklon Arnab menerjang wilayah pesisir tenggara India pada Rabu, 28 Oktober 2026, dengan kecepatan angin mencapai 150 kilometer per jam. Badai tersebut membawa hujan lebat, angin kencang, dan gelombang laut yang mengganggu aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah, terutama Negara Bagian Andhra Pradesh.
Dilansir dari Arina.id, tiga orang dilaporkan meninggal dunia dan 31 rumah mengalami kerusakan akibat dampak badai tersebut. Pemerintah setempat juga melakukan evakuasi warga dari kawasan rawan untuk mengurangi risiko korban jiwa.
Sebelum badai mencapai daratan, otoritas setempat telah mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem dan menyiapkan tempat penampungan bagi masyarakat yang tinggal di daerah berisiko.
Siklon Arnab Terjang Pesisir dengan Angin hingga 150 Km per Jam
Menurut Departemen Meteorologi India (IMD), Siklon Arnab mencapai pesisir Andhra Pradesh dengan kecepatan angin berkelanjutan sekitar 125–135 kilometer per jam dan embusan hingga 150 kilometer per jam. Badai yang terbentuk di Teluk Benggala tersebut bergerak menuju pesisir tenggara India dan membawa hujan lebat hingga sangat lebat. Wilayah pesisir Andhra Pradesh menjadi salah satu daerah yang terdampak, termasuk kawasan sekitar Kakinada dan Yanam.
Dilansir dari Arina.id, hujan di sejumlah wilayah Andhra Pradesh dan Odisha dilaporkan mencapai 30 sentimeter. Kondisi tersebut meningkatkan risiko genangan dan banjir, terutama di kawasan dataran rendah serta permukiman yang berada dekat pesisir. Setelah mencapai daratan, intensitas Siklon Arnab mulai melemah. Meski demikian, hujan deras dan angin kencang masih berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat di wilayah terdampak.
Hampir 100 Ribu Warga Dievakuasi
Pemerintah India melakukan evakuasi terhadap warga yang tinggal di kawasan rawan sebelum badai mencapai daratan. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko akibat angin kencang, banjir, dan gelombang laut. Dikutip dari laporan Arina.id, sekitar 50.000 orang di Andhra Pradesh dan 48.000 orang di Odisha diminta mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Dengan demikian, jumlah warga yang dievakuasi atau diarahkan untuk mengungsi di kedua wilayah tersebut mendekati 100.000 orang.
Pemerintah juga menyiapkan tempat penampungan dan mengerahkan petugas untuk membantu warga selama kondisi cuaca ekstrem berlangsung. Upaya mitigasi dilakukan sebelum dan ketika badai bergerak mendekati kawasan permukiman.
Dilansir dari Okezone, otoritas setempat telah memperingatkan warga mengenai potensi dampak siklon dan meminta masyarakat di daerah berisiko mengikuti arahan petugas. Evakuasi menjadi langkah penting untuk melindungi masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di kawasan pesisir dan daerah yang berpotensi mengalami banjir.
Penerbangan dan Transportasi Terganggu akibat Badai
Selain menimbulkan korban jiwa dan kerusakan rumah, Siklon Arnab juga mengganggu transportasi serta aktivitas masyarakat di wilayah terdampak. Dilansir dari Okezone, sejumlah layanan kereta api dibatalkan menjelang kedatangan badai. Sementara itu, lebih dari 20 penerbangan di Bandara Vijayawada dan Visakhapatnam dilaporkan dibatalkan atau dijadwalkan ulang akibat kondisi cuaca buruk.
Di Andhra Pradesh, sekolah dan lembaga pendidikan di sedikitnya 14 distrik juga ditutup selama beberapa hari. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko keselamatan bagi siswa, tenaga pendidik, dan masyarakat.
Angin kencang turut menyebabkan pepohonan tumbang, sedangkan hujan deras meningkatkan risiko genangan di sejumlah kawasan. Kondisi laut yang bergelora juga menjadi perhatian bagi masyarakat pesisir dan nelayan. Gangguan tersebut menunjukkan bahwa dampak siklon tidak hanya berkaitan dengan kerusakan fisik, tetapi juga dapat mempengaruhi kegiatan ekonomi, pendidikan, dan mobilitas warga.
Siklon Arnab Mulai Melemah setelah Menerjang India
Setelah melewati pesisir, Siklon Arnab dilaporkan mengalami pelemahan intensitas. Meski demikian, otoritas meteorologi tetap memantau pergerakan sistem tersebut karena hujan lebat masih dapat terjadi di sejumlah wilayah. Petugas tanggap darurat juga melakukan penanganan terhadap pohon tumbang dan puing-puing yang menghalangi jalan. Sementara itu, pemerintah daerah terus memantau kondisi warga yang mengungsi serta dampak badai terhadap permukiman.
Dikutip dari Arina.id, kerusakan yang dilaporkan hingga Rabu, 28 Oktober 2026, mencakup 31 rumah. Jumlah tersebut merupakan laporan yang tersedia saat berita diterbitkan dan dapat berubah seiring proses pendataan di lapangan. Masyarakat di wilayah terdampak tetap diminta mengikuti informasi resmi dan menghindari kawasan yang masih berbahaya. Melemahnya badai tidak berarti seluruh risiko cuaca ekstrem langsung berakhir, terutama ketika hujan deras masih berlangsung.
BACA JUGA: Mengenal Siklon Arnab, Badai Tropis yang Menerjang Pesisir India
BMKG Pastikan Siklon Arnab Tidak Berdampak Langsung ke Indonesia
Di tengah perkembangan Siklon Arnab di India, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa siklon tersebut tidak memberikan dampak langsung terhadap kondisi cuaca dan gelombang laut di Indonesia, berdasarkan analisis yang disampaikan pada 28 Oktober 2026. Dilansir dari InfoPublik, BMKG tetap mengimbau masyarakat Indonesia untuk mewaspadai potensi hujan lebat dan angin kencang di sejumlah wilayah, terutama Sumatera bagian utara.
BMKG menjelaskan bahwa potensi hujan di wilayah tersebut dipengaruhi dinamika atmosfer lain, termasuk sirkulasi siklonik di Laut Andaman, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), dan Gelombang Rossby Ekuatorial. Karena itu, potensi cuaca ekstrem di Indonesia tidak serta-merta disebabkan oleh Siklon Arnab. Masyarakat diimbau memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG.
Siklon Arnab menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi. Pemantauan cuaca, evakuasi tepat waktu, dan kepatuhan terhadap arahan otoritas menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko bagi masyarakat di wilayah terdampak.